May 20, 2017

Yang Berkesan - Russia Trip

Sebenarnya, semua ide nge-trip ke suatu negara baru dimulai dengan satu hal. DOA. Eh, dua hal ding: Doa dan TIKET PROMO. Atau digabung: berdoa untuk mendapat tiket promo. Begitu juga kasusnya dengan Russia Trip kali ini, semua diawali kabar sukacita, "Ada tiket promo 4 jutaan ke Rusia!" Oh ya, informasi tadi sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman ya, apakah aku membeli tiket dahulu baru mengurus visa, atau sebaliknya. Akan jauh lebih tenang jika sudah bermodalkan tiket pesawat, menurutku.

Getting ready for Russia! (Loc: Bandara Internasional Hanoi)

KREMLIN!

May 04, 2017

Berpadu Suara Sambil Berjemur di Phuket

THAILAND. Negara yang telah sukses mencuri hatiku sejak pertama kali kenal dua tahun silam. Megah kuil dan candinya, kilau emas di gedungnya, nikmat mango sticky rice-nya, bahkan terik matahari di langit Thailand... semuanya berkesan bagiku dan selalu memanggilku untuk kembali tiap ada kesempatan -- berupa tanggal merah dan tiket promo.

Bangkok, sudah. Pattaya, sudah. Kali ini aku berkesempatan menginjakkan kaki di salah satu provinsi ternama Thailand yang bisa dibilang paling berkilau dibanding lokasi lain: Phuket. All hail Bang Adi, sponsor tiket promo andalan yang sejak 2014 menjadi penyebab munculnya cap-cap imigrasi di pasporku. Hehehe.

Jauh ya reuniannya

May 02, 2017

Sayonara Osaka - Japan Trip Part II

Hari kedua backpacking di Osaka, aku dan Mama akhirnya kembali merasakan hangat sinar mentari walaupun suhu masih di kisaran 13℃. Sayangnya, kami hanya sempat sowan ke satu destinasi saja karena harus meninggalkan Osaka dan melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Eh... baru beberapa menit menginjak Tokyo, kami hampir saja terjebak memakan daging kuda! Penasaran yaa? Monggo scroll ke bawah untuk tahu cerita lengkapnya 😁

Baru saja mekar

Puas-puasin mesra sama Mama selagi masih single

Disclaimertrip ini penuh kekonyolan imbas dari kurangnya riset selama persiapan, padahal ini kali pertamaku menjadi "tour guide". Saran untuk Readers sekalian: jangan tiru mentah-mentah itinerary-nya, ambil aja beberapa intisari kayak pilihan destinasi (tentunya based on the pictures) dan transportasi menuju kesana. Lalu, nikmati aja trip review ini sebagai penghibur disaat capek atau suntuk melanda kalian. Hehehe.



DAY 4. 1 APRIL. OSAKA-TOKYO.
Setelah check-out dari Fuku Hostel Namba dan ber-dadah-dadah-ria dengan kedua Mbak asal Indonesia, aku dan Mama menggeret koper menuju destinasi pertama (dan satu-satunya) hari ini: Osaka Castle. Kami singgah dulu membeli perbekalan sebelum turun ke Namba St., sekotak tisu (kena pilek hasil hujan-hujanan) dan hand warmer. Nah yang terakhir ini adalah harta karun paling berharga yang kutemukan sepanjang Japan Trip. Bentuknya berupa kantong kecil seukuran telapak tangan, berisi berbagai bahan penghantar panas seperti iron atau charcoal yang akan menimbulkan panas setelah digosok-gosok. Umumnya hand warmer dapat bertahan hingga 24 jam. Selain jenis satu ini, ada juga warmer untuk ditempel ke pakaian (tidak boleh kontak dengan kulit), keduanya sama-sama ampuh. Seharian kemarin mencari warmer di Kyoto, entah kenapa malah justru berjodoh di Family Mart depan hostel.

Finally I found you

April 27, 2017

Orangutan dan Sekonyer - TNTP Trip Part II

Tiga hari di Tanjung Puting, ngapain aja tuh? Kalau di post sebelumnya "Klotok Bintang Lima" yang jadi highlight, untuk post kali ini aku akan menceritakan gimana rasanya mengarungi Sungai Sekonyer, kenapa sungai satu ini bisa masuk dalam novel ternama Dee Lestari bersanding dengan Machu Picchu, Himalaya, dan Stonehenge. Tentunya tak ketinggalan... pengalaman 'di-surprise-in' orangutan!

Orangutan, orang(kota), dan Sekonyer

April 13, 2017

Berdua Mama Mencari Sakura - Japan Trip Part I

Trip Korea Selatan tahun lalu memberiku satu "wishlist" tambahan dalam hidup ini: mengajak Mama nge-trip bareng setahun sekali. Kebahagiaan yang muncul setiap melihat ulang foto-foto penuh keceriaan Mama di Korea Selatan... rasanya adiktif sekali. Aku mau lagi. Mau menciptakan kenangan yang lebih banyak lagi. Mau mengunjungi negara lain dengan beliau lagi.

Thank God, tahun ini impianku diwujudkan Tuhan: mengajak Mama berburu Sakura ke Jepang. Kalian yang sudah membaca trip review Korea Selatan diatas pasti tahu bahwa "Mama" dan "taman" adalah dua hal yang berkaitan erat. Makanya, "mengunjungi Jepang saat Sakura" jadi doa yang tak pernah absen kuucapkan sejak awal 2017. Oh ya, tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk Bang Adi yang selalu jadi saluran mujizat dalam bentuk tiket promo impian. Maaf ya, Bang, aku belum berhasil mencarikan tumblr Starbucks motif Sakura 😙

Bukan, ini bukan di Pasar Baru. Ini di kawasan pertokoan Namba, dekat Fuku Hostel.

Disclaimertrip ini penuh kekonyolan imbas dari kurangnya riset selama persiapan, padahal ini kali pertamaku menjadi "tour guide". Saran untuk Readers sekalian: jangan tiru mentah-mentah itinerary-nya, ambil aja beberapa intisari kayak pilihan destinasi (tentunya based on the pictures) dan transportasi menuju kesana. Lalu, nikmati aja trip review ini sebagai penghibur disaat capek atau suntuk melanda kalian. Hehehe.

April 06, 2017

Menjajal Klotok 'Bintang Lima' - TNTP Trip Part I

Post ini menceritakan pengalaman seru mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah: berkenalan dengan sang guide kece, Mas Yusuf Hadi; menjajal hidup diatas klotok 'bintang lima'; mengarungi Sungai Sekonyer yang penuh keajaiban; dan yang paling utama... melihat orangutan langsung di habitatnya. Mari menjadi saksi kali pertamaku menginjak Pulau Kalimantan!

Selamat datang di Tanjung Puting

THE BEGINNING
Kayaknya aku memang berjodoh sama Mas Yusuf, deh. Kok bisa-bisanya secuil post beliau nongol di timeline-ku yang biasanya berisi video lucu anjing-kucing-panda, share berita ekonomi dan keuangan, status nyinyir (sisa-sisa) Pilkada DKI 2017, atau kisah petualang di luar negeri dari grup "Backpacker Dunia". Bahkan post Mas Yusuf itu ada di grup Facebook yang jaraaa~ng sekali aku buka.

Open Trip Taman Nasional Tanjung Puting 10-12 Maret 2017 ini sangat menarik perhatianku, si cewek irit nan mereki'. Bayangin guys, Mas Yusuf hanya nge-charge Rp1,7 juta per orang! Oemji... kalo diingat-ingat (dan di-google lagi) betapa ajakan open trip/tour dari penyedia jasa lain mengenakan harga Rp2 juta-an, Mas Yusuf ini bagai oase di tengah gurun pasir. Aku segera menghubungi beliau dan me-reserve satu kursi. Eh ternyata, sudah H-2 minggu begini peserta open trip baru satu orang bule Swedia yang belakangan mengundurkan diri karena pengen goes independent tanpa guide.

Mas Yusuf, the real MVP

March 04, 2017

Visa Jepang dan Travel Agent 'Perdana'

Selamaaa... darahku masih mengalir... selama itu pula aku milikmu akan menggunakan tenaga sendiri dalam hal traveling. *Buat yang nggak ngeh, itu di awal lirik lagu Om Ari Lasso - "Arti Cinta". Iya tau kok jayus :( Tentu dengan pengecualian tiket promo, hahaha (colek Bang Supriadi tersayang)

Visa Jepang yang terkenal cantik karena ada Sakura-nya
Source: blog.reservasi.com 

Namun akhirnya, mitos "bikin visa harus lewat agen!" mencipratiku juga. Bukan karena aku malas, bukan karena aku kelebihan uang -- seperti yang selalu di'canda'kan beberapa orang -- tapi memang karena tidak ada jalan lain. Mama dan aku wajib membuat visa Jepang karena kami pemegang paspor non elektronik. Emang rada-rada juga sih ini KemenkumHAM, launching si e-paspor persis sebulan setelah kami selesai memperpanjang paspor biasa. Mestikung sekali.

February 21, 2017

Sowan ke Museum Affandi, Sang Pelukis Tanpa Kuas

Jogja, di musim hujan, saat weekend... apa artinya? Bagiku, sih: no beaches, no temples, no popular tourism sites. Musim hujan memang saat yang tepat untuk bermeditasi, hibernasi, pensiun dini, you name it. Menenangkan diri sejenak dari segala penat menenteng backpack dan jalan kaki demi mengeksplor tempat liburan.

Tapi... Semua prinsip itu menguap pada saat hari kedua dinas di Jogja, aku justru merasa bosan mendekam di kamar hotel, menonton HBO dengan tayangan film yang itu lagi-itu lagi. View kamar saat itu menghadap swimming pool dan, dasar pelupa, aku lupa membawa baju renang favorit. Apa lagi yang bisa aku lakukan di hari kosong dinas di Jogja ini?

Jangan diliatin lama-lama, ntar serem sendiri...


Mbak Devi, rekan kerja (eh?) yang menemani dinas kemarin, tiba-tiba saja memberi ide, "Apa kita ke Museum Affandi?" Nah. Ini adalah keputusan yang kesekian, setelah diskusi-diskusi sebelumnya dimana kami sempat mempertimbangkan Candi Ratu Boko (batal karena tidak mungkin sunset terlihat saat mendung begini), Hutan Pinus Imogiri Bantul (jauh bro, ditambah aku masih ber-high heels-ria), dan Rumah Makan Raminten (weekend sore gini pasti rame puoll!)

Gayung bersambut banget nih, soalnya saat perjalanan dari bandara Adisucipto ke hotel satu hari yang lalu, aku melihat Museum Affandi di sisi kanan jalan dan seketika berkeinginan untuk mengunjungi. Masih "keinginan" lho. Ealah ternyata sehati sama Mbak Devi. Selain alasan 'eksternal' di paragraf yang diatas, apalagi Lin yang mendorong kalian untuk ke Museum Affandi?

November 19, 2016

Terpukau Ladyboy di Pattaya

Trip kali ini adalah satu bukti lagi betapa impulsif-nya jiwa traveler-ku. Hanya berkat informasi singkat "Erlin ada tiket promo nih ke Pattaya" dari sang suhu (Bang Adi.red), kuputuskan untuk kembali mengunjungi negeri indah Thailand, namun kali ini ke Pattaya, wilayah di selatan Bangkok yang terkenal dengan nightlife di tepi pantainya.




Bersama Mbak Ari Sulistyowati, officemate dan teman seperjalanan waktu Aceh Trip, aku mengumpulkan banyak kenangan manis dan foto-foto keceh (penting!) selama tiga hari di Pattaya: 4 s.d. 6 November 2016. Seberapa banyak pun komentar miring yang aku dengar/baca tentang kota ini, Pattaya sukses membuatku tersenyum gembira saat menelusuri setiap sudut tempat wisatanya. Pattaya memang bukan Bangkok dengan berbagai kuil dan candi indahnya, bukan juga Phuket dengan pemandangan pulau dan laut yang memikat, tapi Pattaya punya banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri.

First dinner: seafood. Mbak Ari sang culinary explorer kaget ternyata porsi makanan di dalam nanas ini banyak juga!

Jadi... kemana saja kami selama 3H2M di Pattaya?

October 30, 2016

Sampai Meurumpok Lom Singo - Aceh Trip Part II

Minggu, 9 Oktober 2016
Untuk menuju Sabang dari Banda Aceh, kita bisa menggunakan baik kapal cepat ataupun kapal lambat yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, tentunya dengan jadwal dan tarif yang berbeda yah. Kami memutuskan naik ferry biasa seharga 80K/orang untuk keberangkatan jam 10 pagi. Halo Pulau Weh, pulau yang selalu terdengar namanya dalam pelajaran IPS/Geografi di bangku sekolah dulu. ^^

Lokasi ini ada di kawasan Casanemo, serasa pantai milik sendiri
Menurut kesaksian dari sang tour guide (Bang Josua.red), penginapan di Sabang pada dasarnya 'cuma' terbagi atas Casanemo dan Freddie's. Maksudnya... dua penginapan ini yang paling terkenal di penjuru Sabang, dan kalo kita pengen dinner ala-ala anak Instagram hits yah memang di dua tempat ini. Kami memilih Casanemo dengan pertimbangan desain resort-nya yang lebih apik: kamar-kamar berbentuk bungalow yang bertebaran di pesisir pantai dan tebing landai, saling berjauhan satu dengan lainnya. Freddie's sendiri bentuknya seperti penginapan standar: kamar bersebelah-sebelahan. Setelah drop barang-barang dan touch up sekadarnya, berangkatlah kami menjelajahi pulau eksotis ini.

Untuk makan siang, kami menepi ke RM Kencana yang jadi terkenal sejak dikunjungi Presiden Jokowi pada bulan Maret 2015 lalu. Mereka menyajikan banyak makanan khas Aceh dengan konsep resto prasmanan. Dijamin bingung dan galau deh melihat banyaknya sajian! Kalau soal minuman, wajib deh memesan es pepaya serut. Seger banget, cuy!

Bang Aldi mengajak kami ke Benteng Jepang yang terletak di daerah Pantai Anoi Itam. Mendengar kata "Benteng" pikiranku langsung melayang ke Fort Rotterdam Makassar. Ealah, ternyata "benteng" yang dimaksud hanya berwujud se-cungkup bungker dengan meriam kuno di dalamnya. Sisanya? Lapangan rumput dengan pohon kelapa dan pepohonan rindang lain, serta bebatuan karang di ujung tebing menghadap laut lepas layaknya pemandangan di Uluwatu.






Menuju bekas bunker Jepang ini bersiaplah untuk mendaki puluhan anak tangga yang, untungnya, tidak begitu melelahkan. Di puncaknya kita langsung tiba di cungkup bungker dan... mata seketika bertemu dengan laut lepas! KYAAA. Indahnya tak terkatakan. Meski matahari lagi terik-teriknya, langkah kaki kami langsung terarah ke tebing-tebing curam dan bebatuan koral di sekitarnya. Mari puaskan hasrat foto-foto! Tidak perlu khawatir jika lelah, di sini juga banyak pohon rindang untuk berteduh, bahkan ada warung sederhana dengan bangku-bangku kayu untuk kita duduk menikmati segelas kopi Gayo atau semangkuk indomie hangat. SEDAPPP.






Berjam-jam kami habiskan di Benteng Jepang sebelum akhirnya pindah ke lokasi sunset-an. Taman Rekreasi Sabang Fair adalah tempat yang pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Taman yang menghadap lautan Selat Melaka ini memiliki beberapa saung tempat kita bisa bersantai menunggu sunset. Sore ini, kami bertujuh duduk manis menanti sang surya tenggelam dengan ditemani rujak, bakso sejenis cilok, dan minuman dingin. Rujak di Sabang ini unik betul penampakannya: buah langsung ditaruh di atas saus + kacang. Bukan "saus kacang" ya, soalnya kacangnya masih utuh belum diulek bersama sausnya. Rasa saus ini pun unik, yang jelas aku suka!


Saus kacangnya juara! | source Instagram @ayu_mayshita

Sudah setia menanti lama yang mengakibatkan rambut berkibar tak karuan, mata kelilipan kemasukan debu, dan badan yang nampaknya mulai masuk angin... eh sunset-nya ketutupan awan! Hahaha. Kocak.

Sunset behind us, food in front of us: Perfecto!

Kami menjajal rasa italian food di Casanemo, kayak gimana sih rasa makanan yang diawaki oleh bule Italia tulen? Eh, ternyata... hambar. Hahaha. Garam, saus, kecap, sambel... kami minta semua penambah rasa disediakan demi melawan kehambaran makanan yang, yah... cukup enak lah. Perut kenyang, hati senang~ mari kita istirahat.

Senin, 10 Oktober 2016
Berbagai rencana yang dibuat kemarin bersama Agung untuk sunrise walking di Casanemo bubar sudah. Penginapan Casanemo ini ternyata kurang nyaman bagi kami, menyebabkan jam 12 semalam kami masih grasak-grusuk berujung aku yang pindah ke kasur single. Kamarnya memang hanya menggunakan kipas angin alias tanpa AC. Tapi hawa panasnya tetap mengganggu tidurku, tak peduli ada dua kipas angin dalam kamar.

Pantai Sumur Tiga di kawasan Penginapan Casanemo

Lokasi pertama yang akan kami kunjungi hari ini adalah Goa Sarang. Jarak dari Casanemo yang cukup jauh (45 menit) membuat kami menyiapkan cemilan, agar perjalanan lebih ceria dan berwarna. Memasuki tempat wisata satu ini kita diharapkan membayar retribusi, aku lupa tepatnya berapa, tapi murah kok. Kami langsung disambut oleh pemandangan laut dari ketinggian yang dapat dinikmati dari semacam pelataran viewpoint yang difasilitasi tiga ayunan sederhana dan bangku-bangku kayu. Kami pun menggelar bungkusan sarapan di sini.


Penampakan dari entrance

Tiga ayunan dengan view luar biasa

Hepot-nya sesi pemotretan Kak Tya dan Bang Josua

Gua yang terletak di antara laut dan gunung ini sekarang cukup mudah untuk diakses, sejak pemerintah berinisiatif membangun tangga beton. Meski sudah difasilitasi, tetap saja kami tidak tertarik untuk jalan kaki ke pesisir pantai untuk melihat gua. Kami lebih memilih untuk menikmati keindahan pemandangan dari puncak bukit saja.


Jalan menuju ke gua yang sebenarnya

Sarapan sudah, foto-foto dengan background ala Honolulu pun sudah. Sekarang mari kita ke Monumen Nol Kilometer! Ini nih tempat hits yang tidak boleh dilewatkan jika ke Sabang. Sebenarnya ini adalah sebuah tugu, tapi saat kami kesana, sang tugu tengah direnovasi. Alhasil cuma bisa berfoto dengan tulisan oranye ini saja :') Penampilan juga kurang bisa 'cetar' disini karena banyaknya tukang/pekerja bangunan, menyebabkan banyak mata yang memandangi kami, cewek-cewek hits (termasuk Agung ya) yang doyan foto-foto.



Sebenarnya secara teknis, koordinat titik terbarat Indonesia berada di Pulau Rondo, namun karena pulau itu kosong dan sulit diakses, maka monumen penanda geografis ini dibangun di Pulau Weh dan diresmikan tahun 1997 oleh Wakil Presiden Try Sutrisno. Semoga renovasi cepat selesai yah, biar readers yang akan kesana bisa menaiki tugu yang punya pemandangan memukau dari puncaknya.

Bang Aldi mendengar informasi tentang adanya suatu kapal karam di dekat Pantai Iboih, lokasi penyeberangan ke Pulau Rubiah. Kami dibawa ke The Pade Dive Resort, tempat karamnya kapal besar yang berasal dari Thailand ini. Kapal Kargo MV Pataya III awalnya mengalami mati mesin dan terbawa arus hingga ke sini pada tanggal 11 Agustus yang lalu. Wuih. Puji Tuhan, ke-24 awak kapal selamat dan telah dipulangkan ke negeri asalnya.




Meet Bang Aldi, makhluk kece yang setia menemani kami keliling Pulau Weh

Destinasi terakhir dan paling ditunggu-tunggu: snorkeling di Pulau Rubiah! Pulau ini menjadi destinasi yang paling menguras kocek: sewa kapal, peralatan snorkel, tour guide, foto-foto bawah laut, dan makan siang di dermaga. It's okay lah, toh pemandangan bawah laut Pulau Rubiah memang indah dan mengesankan. Dari reviews yang kubaca di TripAdvisor, konon kita juga bisa bertemu lumba-lumba apabila snorkeling jam 9 pagi. 



Ternyata waktu kami justru habis untuk sesi foto underwater hahaha. Snorkeling sih, tapi kami jadi lebih fokus sama pemotretannya. Aku... as always tidak berbakat jadi model hahaha. Foto di atas air aja hasilnya standar, kok ya malah underwater hihihihi....



View bawah laut Pulau Rubiah memang indah, readers. Jenis ikannya beraneka ragam dan berwarna-warni. Sayang sekali airnya tidak begitu jernih sehingga mengurangi view clearance dan tentunya warna biru air laut. Di salah satu spot kami bahkan bertemu dengan baby 'Nemo', ituloh clownfish /ikan giru dengan garis-garis oranye-putih di tubuhnya. Tapi rumah si Nemo ini cukup jauh di kedalaman laut, Agung yang doyan menyelam bahkan tidak berhasil mendapat foto underwater yang kece bersama Nemo. Sepertinya sih ini pengaruh musim, snorkeling disini pasti akan lebih menarik di bulan-bulan Juli dan Agustus.



***

Geng Putri Tour full team!

Nah, readers... Selesailah sudah petualangan "Geng Putri Tour" di Pulau Weh. Terima kasih banyak, Bang Aldi, we are so blessed to have such a enthusiastic and amusing tour guide like you. Buat readers sekalian (khususnya sesama PNS Kemenkeu) bisa banget kok ngontak Bang Aldi jika ingin ditemani keliling di Sabang ;) Yang penting inget aja, doi udah taken hahaha... Makasih juga untuk Bang Josua selaku exclusive tour guide beserta Bang Alfian dan Edwin. You guys are da best!

Laporan birthday trip kali ini berakhir sampai sini ya. Terima kasih untuk kakak kesayangan se-dunia akhirat: Kak Putri, yang sukses meng-arrange semua rencana perjalanan (makanya kami namai: "Putri Tour"). Makasih juga buat Mbak Ari, Kak Tya, dan Agung yang sudah mewarnai cerita jalan-jalanku kali ini, semoga ada kali kedua yaaah.

Akhirnya ada foto bareng Kakak tersayang satu ini

Dan doa terakhirku: Semoga bisa balik ke Aceh lagi dan menunaikan rasa penasaran berfoto di Masjid Baiturrahman, amin. Makasih sudah mampir membaca, readers!
Sampai Meurumpok Lom Singo! (Sampai berjumpa kembali!)