May 20, 2012

Monas Bukan Cuma "Monumen"!

Sudah berapa tahun aku menghirup udara Kota Jakarta? Kurang lebih 4 tahun. Apa yang pertama kali tercetus di kepalaku ketika mendengar kata "Jakarta"? Hmm, selain "macet", tentu saja "Monumen Nasional"! Apakah aku sudah pernah MENGINJAK Monumen Nasional? BELUM!

Bersama dengan kedua sahabatku di kelas 1G (SUGAR) Kebendaharaan Negara kampus STAN yaitu Fakhri Rizki Saputra dan Ni Ketut Ayuni, aku pun akhirnya sukses 'menginjak' sang Monumen pada 18 Mei 2012 yang lalu.

Nyatanya, Monumen Nasional bukan cuma "monumen" ataupun emas di puncaknya! Aku baru tahu lah -__-
Ada museum di lantai bawah Monas: "Museum Sejarah Nasional". Nah, berikut ini review dan kisah singkat sejarah Monumen Nasional kebanggaan Tanah Air kita :)


source http://amazingholidaytour.blogspot.com 

Sejarah Monumen Nasional

Untuk mengenang dan melestarikan kebesaran perjuangan bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi Kemerdekaan Rakyat Indonesia 17 Agustus 1945 dan untuk membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme bagi generasi sekarang dan generasi masa mendatang, maka dibangunlah suatu tugu peringatan yang kemudian dikenal sebagai Tugu Monumen Nasional (Monas).

Pembangunan Tugu Monumen Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 tanggal 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketuai oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional baru terwujud ketika Republik Indonesia genap berusia dua windu atas dasar gagasan Presiden Republik Indonesia Pertama Ir.Soekarno, dan pemancangan tiang pertama sebagai awal pembangunan Tugu Monumen Nasional dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1961. Rancang bangun Tugu Monumen Nasional dibuat oleh arsitek terkenal Indonesia yaitu Soedarsono dan penasehat konstruksi adalah Prof.Dr.Ir.Roosseno.

Pembangunan Tugu Monumen Nasional dibiayai sebagian besar dari sumbangan masyarakat Indonesia secara gotong-royong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1972 berdasarkan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor Cb.11/1/57/72.


Ciri Khas Tugu Monumen Nasional

Arsitektur Tugu Monumen Nasional dan dimensinya penuh mengandung lambang khas budaya bangsa Indonesia. Bentuk tugu yang menjulang tinggi melambangkan lingga (alu/antan), sedangkan pelataran cawan melambangkan yoni (lumpang). Alu dan lumpang merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah pribumi Indonesia. 

Lingga dan yoni melambangkan positif dan negatif, seperti lelaki dan perempuan, siang dan malam, air dan api, langit dan bumi sebagai lambang dari alam yang abadi.

Di pelataran puncak tugu, api nan tak kunjung padam, melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang yang tidak akan pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan 17 meter dan tinggi ruang Museum Sejarah 8 meter, luas pelataran cawan yang berbentuk bujur sangkar berukuran 45 meter X 45 meter merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI 17-8-1945.


Bagian-bagian Utama Tugu Monumen Nasional

Ruang Museum Sejarah
Ruang Museum Sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional dengan ukuran luas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantai secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.

Berikut ini adalah hasil karya foto-foto benda-benda pameran Museum Sejarah Nasional:


















Ruang Kemerdekaan
Ruang Kemerdekaan berbentuk amfiteater yang terletak di dalam Cawan Tugu Monumen Nasional. Di dalamnya terdapat empat atribut kemerdekaan Republik Indonesia; Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan Pintu Gapura yang berisi Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (Note: Bendera Sang Saka Merah Putih disimpan di Istana Merdeka, yaitu istana yang menghadap Monas)


source: http://amazingholidaytour.blogspot.com 

Keluar dari Museum Sejarah, aku, Fakhri dan Ayuni segera bersiap menaiki lift yang akan mengantar kami ke pelataran puncak Monas. Meskipun saat itu weekday (Jumat), namun antriannya luar biasa panjang! Hmm...







Pelataran Puncak

Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan elevator tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran Puncak yang luasnya 11X11 meter persegi, dan dapat menampung sebanyak 50 orang. Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmat pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator di dalam badan Tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.



Berikut ini hasil karya foto-foto diambil dari Pelataran Puncak Monas. Sayang cuaca sedang mendung sehingga langitnya tidak begitu indah :(
























Cukup bayar Rp1.000,- untuk mencoba teropong ini :) 


Lidah Api Kemerdekaan



Lidah Api di Pelataran Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan Lidah Api berlapis emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari halaman Tugu Monumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.



Konon lidah api Monas memiliki bentuk seperti badan seorang perempuan lho :) 


Nah, sudah puas menikmati Kota Jakarta dari ketinggian 115 meter, kami turun ke cawan Monas. Sambil menunggu hujan reda, kami ngegembel dulu sambil ngemil telur rebus dan kacang yang dijajakan pedagang-pedagang di sekitar cawan.




Readers, gimana? Sudah pernah ke Monas dan Museum Sejarah Nasional belum? :D


*
Alamat:
MONUMEN NASIONAL (MONAS)
Jalan Silang Monas
Jakarta
Telp. 021-344 7733, 351 4333, 384 2777
Fax. 021-344 7733

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.30-17.00
Libur buka

Tiket:
Dewasa Rp 2.500,00 (Pelataran Cawan), Rp 7.500,00 (Pelataran Puncak)
Mahasiswa/Anak-anak Rp 1.000,00 (Pelataran Cawan), Rp 3.500,00 (Pelataran Puncak)

Source: http://www.museumindonesia.com/museum/25/1/Museum_Sejarah_Nasional_Jakarta