November 19, 2013

TOAR DAN LUMIMU'UT, LELUHUR SUKU MINAHASA DI SULAWESI UTARA

(tulisan ini dibuat penulis dalam rangka tugas pribadi mata kuliah Budaya Nusantara ketika menjalani pendidikan di kampus STAN semester VI)



VERSI LEGENDA
Opo Wailan Wangko (Dewa tertinggi) melihat bahwa tanah Minahasa adalah tanah yang baik, dia mengutus Karema (walian pertama Minahasa) untuk membawa kehidupan ke tanah Minahasa.
Dari Karema, lahirlah Lumimu’ut yang berarti “tanah”. Lumimu'ut adalah prajurit wanita, yang dibentuk dari batu karang, dicuci dalam laut, dipanaskan oleh matahari dan disuburkan oleh Angin Barat. Kecantikannya yang luar biasa mempesonakan dan awet muda yang dianugrahi kepadanya. Kelak Lumimu’ut disebut-sebut orang Minahasa sebagai Dewi Bumi. Kemudian Lumimu’ut memperoleh seorang anak lelaki bernama Toar (matahari) yang dibentuknya dengan cahaya matahari. Toar adalah tona’as pertama Minahasa dan kelak dia disebut sebagai Dewa Matahari.
Proses ‘penciptaan’ anak berhenti karena Toar adalah seorang lelaki yang tidak memiliki kesaktian seperti Karema dan Lumimu’ut. Karema pun melihat bahwa cara untuk memenuhi tanah Minahasa dengan anak-cucu adalah dengan mengawinkan Toar dan Lumimu’ut. Toar yang telah menjadi pemuda disuruh meninggalkan ibunya untuk menjelajahi dunia. Lumimu'ut memiliki sebuat tongkat perjalanan yang panjang dan ketika Karema mengucapkan perpisahan kepada Toar, dia memberikannya sebuah tongkat yang sama panjangnya dan dia memperingatkan nya untuk tidak menikah dengan anggota keluarga; oleh sebab itu dia seharusnya tidak boleh menikahi seorang perempuan yang mempunyai tongkat yang sama panjang seperti miliknya. Bertahun-tahun lamanya dan perjalan panjang kemudian Toar kembali ke kampung halamannya. Disana dia bertemu dengan seorang wanita muda cantik dimana dia jatuh cinta dan ingin menikahinya. Dia tidak mengenal ibunya sendiri yang memang tetap abadi awet muda, dan dari pihak ibunya sendiri tidak mencurigai sama sekali bahwa pemuda dewasa yang ganteng ini adalah anaknya sendiri.
            Sebelum mengambil sumpah perkawinan Toar ingat akan permintaan ibunya ketika dia akan meninggalkannya untuk perjalanan panjang. Oleh sebab itu dia meletakkan tongkatnya di samping tongkat calon istrinya untuk membandingkan panjangnya. Tetapi selama perjalanan panjangnya dia sudah memakai banyak tongkatnya, sehingga tongkat tersebut menjadi jauh lebih pendek. Sehingga tidak ada halangan lagi untuk nenek moyang Minahasa ini.
            Setelah beberapa waktu kemudian Toar dan Lumimu'ut akhirnya memutuskan untuk pergi ke pantai di benua tersebut. Ketika mereka tiba disana mereka merasa pantai terlalu panas, oleh sebab itu mereka pergi lebih dalam di desa tersebut dan menetap di gunung Tondano dimana iklimnya sejuk dan segar. Disini mereka melahirkan anak-anak mereka dan perlahan mendiami daerah tersebut. Akhirnya tentu saja anak-anak Toar dan Lumimu'ut menginginkan daerah meraka masing-masing. Legenda menceritakan bahwa Toar mengizinkan masing-masing anaknya memilih sebidang daerah dan melemparkan batu-batu di jurusan yang berbeda-beda. Dimana batu-batu tersebut jatuh disitulah muncul kolonisasi baru Tonsea (manusia yang suka air), Tondano (manusia yang suka danau), Tombulu (manusia yang suka bulu), Tombasso, Tontemboan (Tompakewa), Toulour, Tomohon. Di legenda tersebut ke-7 tempat ini adalah ke tujuh daerah Minahasa yang kemudian membuat suku dengan kepala sukunya masing-masing (Kepala Suku, Tonaas, Hukum Tua atau Hukum Besar)
            Menurut mitos ini Penciptaan manusia turun temurun adalah dari wanita dan bukan, sebagaimana di agama Kristen, dari laki-laki yang rusuknya diambil untuk menciptakan wanita. Patung Toar dan Lumimu'ut berdiri di lapangan kecil di Manado, dimana bukan ibu kota Minahasa, karena itu adalah Tondano. Manado, bagaimanapun, adalah ibu kota dari Propinsi Sulawesi Utara dan daerah Minahasa secara luas sehubungan dengan administrasi dan masalah ekonomi. Pendiriannya secara resmi dianggap dibuat oleh Dotu Lolong Lasut, yang diperingati dengan sebuah patung di kota. Lokasi patung Toar dan Lumimu’ut di pusat Manado dapat di dianggap sebagai simbol persatuan/penggabungan Manado oleh orang Minahasa.

November 13, 2013

Keliling Museum Negeri Sulut dan Museum TNI Manado

Terlahir sebagai orang Manado tidak menjamin bahwa aku telah menjelajahi seluruh pelosok kota Manado. Buktinya, hari Kamis (7/11/13) yang lalu adalah kali pertama bagiku menjejakkan kaki di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara dan Museum Kodam-XII Merdeka (Museum TNI) Manado. Jangankan masuk ke dalam, mengetahui keberadaan Museum Negeri Sulut pun baru beberapa hari yang lalu! Ckck...

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara memiliki tempat parkir yang cukup luas, dengan dua buah meriam kuno diletakkan di sebelah kiri-kanan nama museum, di atas dinding tembok pembatas tempat parkir. Museum ini memiliki halaman asri luas yang posisinya sekitar satu meter lebih tinggi dari tempat parkir dengan menaiki undakan.


Untuk menuju ke museum yang berseberangan dengan SMP Negeri 1 Manado ini kita bisa menggunakan kendaraan umum; naik angkot jurusan "Teling" dari Pasar 45 yang nanti berhenti di bundaran depan TK/SD Kr. Eben Haezar, kemudian jalan kaki +/- 100 meter ke arah Utara.

Sebelum masuk ke gedung utama, di halamannya kita akan 'bertemu' dengan replika dua benda asli suku Minahasa berikut ini:


WARUGA - Kuburan tua suku bangsa Minahasa pada zaman dahulu digunakan oleh pemuka masyarakat seperti Tona'as, Walian, dan Waraney.

November 10, 2013

November 09, 2013

City Tour Manado

Karena perkuliahan di kampus STAN Bintaro sudah selesai, aku pun kembali ke pangkuan kota kelahiran: Manado, Sulawesi Utara.

Selasa, 5 November 2013 kemarin aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sering kulakukan tapi tidak pernah kulakukan (nah, lho?) Aku telah berkelana dari satu kota ke kota lain dan banyak mengoleksi kenang-kenangan berupa foto daerah tersebut. Tapi di kota kelahiranku sendiri? Aku tidak pernah memotret apapun. Eh, pernah sih memotret patung-patung yang 'bertebaran' di sekitar kota, itu pun karena tugas matpel Kesenian saat SMP :p

Jadilah aku memutuskan untuk seharian hunting foto berbagai tempat wisata di Kota Manado. Berbagai tempat wisata dapat ditemui di Sulawesi Utara mulai dari wisata pantai, sejarah, kuliner, alam pegunungan, dan yang paling terkenal: Taman Laut Nasional Bunaken. Tapi di Kota Manado sendiri kita akan banyak menemui tempat wisata sejarah dan budaya, seperti Gereja GMIM Sentrum, Kelenteng Ban Hin Kiong (kuil tertua di kawasan Timur Indonesia, dibangun pada awal abad ke-19), Lapangan Sparta Tikala, Museum Negeri, Pantai Boulevard, dan Taman Kesatuan Bangsa.

Klenteng Ban Hin Kiong.
Sourcehttp://tripholiday.net/kelenteng-ban-hing-kiong.html
Foto pertamaku adalah Jembatan Malalayang. Jembatan Malalayang adalah jembatan yang menghubungkan dua kelurahan: Kelurahan Malalayang dan Kelurahan Bahu di Kecamatan Malalayang. Aku sendiri, tinggal di Desa Manibang di Kelurahan Malalayang II. Aku selalu mengagumi pemandangan sungai tiap kali lewat jembatan ini, namun baru kali ini sempat mengabadikannya. Dulu tembok penghalang belum dibangun sehingga tidak ada batas dari rumah warga menuju sungai di bawah sana. Untunglah pemerintah berinisiatif membangunnya sehingga menjadi lebih aman bagi masyarakat yang tinggal dekat DAS.