November 09, 2013

City Tour Manado

Karena perkuliahan di kampus STAN Bintaro sudah selesai, aku pun kembali ke pangkuan kota kelahiran: Manado, Sulawesi Utara.

Selasa, 5 November 2013 kemarin aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sering kulakukan tapi tidak pernah kulakukan (nah, lho?) Aku telah berkelana dari satu kota ke kota lain dan banyak mengoleksi kenang-kenangan berupa foto daerah tersebut. Tapi di kota kelahiranku sendiri? Aku tidak pernah memotret apapun. Eh, pernah sih memotret patung-patung yang 'bertebaran' di sekitar kota, itu pun karena tugas matpel Kesenian saat SMP :p

Jadilah aku memutuskan untuk seharian hunting foto berbagai tempat wisata di Kota Manado. Berbagai tempat wisata dapat ditemui di Sulawesi Utara mulai dari wisata pantai, sejarah, kuliner, alam pegunungan, dan yang paling terkenal: Taman Laut Nasional Bunaken. Tapi di Kota Manado sendiri kita akan banyak menemui tempat wisata sejarah dan budaya, seperti Gereja GMIM Sentrum, Kelenteng Ban Hin Kiong (kuil tertua di kawasan Timur Indonesia, dibangun pada awal abad ke-19), Lapangan Sparta Tikala, Museum Negeri, Pantai Boulevard, dan Taman Kesatuan Bangsa.

Klenteng Ban Hin Kiong.
Sourcehttp://tripholiday.net/kelenteng-ban-hing-kiong.html
Foto pertamaku adalah Jembatan Malalayang. Jembatan Malalayang adalah jembatan yang menghubungkan dua kelurahan: Kelurahan Malalayang dan Kelurahan Bahu di Kecamatan Malalayang. Aku sendiri, tinggal di Desa Manibang di Kelurahan Malalayang II. Aku selalu mengagumi pemandangan sungai tiap kali lewat jembatan ini, namun baru kali ini sempat mengabadikannya. Dulu tembok penghalang belum dibangun sehingga tidak ada batas dari rumah warga menuju sungai di bawah sana. Untunglah pemerintah berinisiatif membangunnya sehingga menjadi lebih aman bagi masyarakat yang tinggal dekat DAS.


Sepanjang perjalanan menyusuri jalan raya Trans-Sulawesi, kita akan disuguhkan pemandangan laut yang spektakuler. View lautnya selalu indah dan unik, tergantung lokasi, waktu dan cuaca ketika pengambilan foto. Jika ada kesempatan aku ingin menghabiskan waktu seharian di Boulevard hanya demi mengabadikan si cantik laut Manado ini.

Foto diambil tahun 2010 di Pantai Malalayang (dekat Terminal Malalayang)
Aku melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Seumur hidupku menjadi warga kota Manado, pusat kota Manado terletak di Pasar 45, suatu kawasan perbelanjaan yang juga menjadi titik akhir pertemuan trayek-trayek angkot di wilayah kota Manado.
Lokasi berikut ini disebut Zero Point, baru diresmikan oleh pemerintah pada tahun 2009 yang lalu. Disinilah kita bisa menemukan angkot trayek apapun, karena titik perjalanan dimulai dari sini.


Berjalan ke arah Utara, kita memasuki pusat Pasar 45 yang terkenal itu. Sejak SD aku telah mengenal akrab lingkungan ini, sehingga tak jarang aku dijuluki "preman pasar" oleh teman-temanku. Hahaha nostalgia sedikit ngga apa-apalah ya, readers ;)

Diantara monumen dan patung yang tersebar di Kota Manado, Tugu Peringatan Pendaratan Batalyon Worang adalah satu-satunya monumen yang menjadi tengara operasi militer sebuah kesatuan tentara yang saya temui. Tugu Peringatan Pendaratan Batalyon Worang ini berada di Kelurahan Wenang Utara, Kecamatan Wenang, di pusat Kota Manado. Batalyon Worang merupakan salah satu Batalyon dibawah Markas Besar Angkatan Darat yang sebelumnya bernama Batalyon B pada Brigade 16 TNI AD, dibawah pimpinan Mayor Hein Victor Worang (dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI-AD), yang ditugaskan ke Manado untuk mempertahankan keutuhan negara kesatuan RI dari gerakan separatis. Batalyon Worang terdiri dari 7 kompi, yaitu Kompi Yuus Somba, Utu Lalu, Wim Tenges, Wuisan, Andi Odang, John Ottay, dan Kompi Wim Yoseph (Kompi Markas), dengan Kepala Staf Batalyon Kapten Rory. Pasukan Batalyon Worang berjumlah sekitar 1.100 orang. Batalyon Worang ditugaskan dalam berbagai operasi militer, diantaranya di daerah Jawa Timur, Jakarta, Makassar, Ambon, dan Manado.

Pada kesempatan hari kedua city tour mengunjungi museum, aku baru mengetahui bahwa Brigjen H.V. Worang selanjutnya menjadi gubernur definitif pertama Provinsi Sulawesi Utara (1967). Get yourself ready for the story, ya :)


Berjalan lagi ke arah Timur, kita akhirnya menemukan: alun-alun kota Manado! Yeay! Akhirnya, aku sadar bahwa Manado juga punya alun-alun kota :') Sayangnya, alun-alun ini tidak digunakan sebagaimana mestinya. Saat ini alun-alun yang lebih dikenal sebagai TKB (Taman Kesatuan Bangsa) hanya digunakan sebagai tempat istirahat pedagang, sopir, atau pejalan kaki yang kebetulan melintas di dekatnya. Itu pun bukan di tengah taman, tapi di tepian dimana berdiri pohon-pohon rindang. Padahal kursi-kursi adanya di bagian tengah taman. Di sebelah timur laut berdiri MTIC alias Manado Tourism Information Center yang tidak buka ketika aku datangi, duh!


SINOPSIS TAMAN KESATUAN BANGSA (TKB) DAN PATUNG DOTULOLONG LASUT
Lokasi ini disebut Teater Terbuka Taman Kesatuan Bangsa, ditengahnya berdiri Patung Dotu Lolong Lasut, baru dibangun pada awal 1970. Di masa pemerintahan kolonial, lokasi ini adalah sebuah lapangan kecil di sebelah timur dari benteng Amsterdam. Pada tahun 1928 pernah didirikan sebuah tugu peringatan 250 tahun persahabatan Minahasa-Belanda yang ditandatangani 10 Januari 1679. Tugu ini diresmikan pada 10 Januari 1929. Pada masa pendudukan Jepang tugu tersebut hancur termasuk Benteng Amsterdam yang lokasinya tidak jauh dari sini. Tahun 1950, ada usaha dari pemerintah kota menata kembali lapangan kecil ini, dan dibuatkan taman yang diberi nama "Taman Lex Kawilarang" sebagai penghormatan atas jasa seorang pemuda Minahasa yang berjuang dimasa revolusi fisik membela Republik Indonesia. Selanjutnya, pada masa Permeste taman ini terbiar dan rusak. Usai Permesta taman ini ditata kembali dan di tengah taman ini didirikan sebuah patung "Dotu Lolong Lasut" ("Dotu" adalah gelar untuk orang yang dihormati masyarakat.red) dan disebut "Taman Dotu Lolong Lasut" yang dianggap sebagai tokoh historis yang mendirikan kota Manado pada abad ke-15. Bukti mengenai hal tersebut, tidak jauh dari lokasi ini (sekitar 50 M) terdapat waruga Dotu Lolong Lasut. Dalam perkembangan kemudian, sejalan dengan perkembangan kota Manado sebagai kota tujuan wisata, maka lokasi ini disebut Teater Terbuka Taman Kesatuan Bangsa.

Monumen Dotu Lolong Lasut
Sayangnya, sejak tahun 2007 kemarin kawasan pusat kota seperti berpindah ke kawasan Boulevard yang merupakan terusan dari kelurahan Bahu. Boulevard kini menjadi titik macet karena banyak mall yang telah dibangun di sepanjang kawasannya, sebut saja Freshmart Bahu Mall, Manado Town Square (MANTOS) dengan Studio 21 didalamnya, kemudian Mega Trade Center (MTC) dan Mega Mall yang juga memiliki hipermarket Multimart 2 dan McDonald's di belakangnya, tidak ketinggalan juga IT Center sebuah pusat perbelanjaan alat elektronik, dan Marina Plaza yang kini ditutup sementara karena renovasi. Tidak jauh dari Marina Plaza, ada juga Gramedia, Golden, Family, Multimart 1, dan Jumbo Swalayan yang beberapa diantaranya telah ada sejak sebelum aku dilahirkan. Kalau ditanya sekarang, dimana pusat kota Manado, banyak yang akan ragu-ragu memilih antara Boulevard dan Pasar 45.

Gereja Sentrum
Selanjutnya aku menuju ke Gereja Sentrum. Tepat di samping gereja berdiri sebuah Monumen Kenangan Perang Dunia II. Tahu ngga, readers, aku pernah melihat sebuah foto dimana Mama berpose duduk di monumen ini sekitar tahun 1980-an, sementara anaknya yang (ngakunya) petualang sejati ini bahkan belum pernah menginjak halaman Gereja Sentrum! Sejak dulu aku cukup puas mengawasi gereja dan monumen ini dari luar pagar. Kebodohan yang untungnya bisa terbalas sekarang :')


SINOPSIS MONUMEN KENANGAN PERANG DUNIA II
Monumen Perang Dunia II ini dibangun pada tahun 1946-1947 oleh sekutu/NICA. Arsiteknya Ir. Van den Bosch. Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap korban Perang Pasifik, baik dari pihak Sekutu, Jepang, dan rakyat semasa Perang Dunia II berlangsung 1941-1945. Monumen ini tidak sempat diresmikan sehingga tidak ada prasasti penamaannya. Tinggi monumen ini 40 meter terdiri dari 4 buah tiang penyangga dengan sebuah kubus persegi-empat yang disimbolkan sebagai peti jenazah atau berisi abu jenazah korban perang dan dilengkapi dengan empat bola/roda peti jenazah. Monumen ini dimaknai sebagai simbol penyerahan arwah korban perang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa pada kotak berbentuk kubus di puncak monumen. Empat bola roda kubus diatas, disimbolkan sebagai pemisah antara makhluk mulia manusia yang mengusung dan yang diusung. Monumen ini sebagai bukti bagaimana peran dan strategisnya lokasi Manado-Minahasa pada masa Perang Pasifik, bahkan di awal Perang Dunia ke-II.

Dari Gereja Sentrum, aku bermaksud mengunjungi Museum Negeri Sulawesi Utara di Jl. W.R. Supratman yang bisa ditempuh dengan naik angkot jurusan Teling dari Pasar 45. Tapi sayangnya museum tutup di hari libur nasional. Jadilah aku melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Komo.
Objek foto berikut ini adalah patung Walanda Maramis yang berada di Kelurahan Komo Luar, tepatnya di pertigaan Jalan Walanda Maramis, Jalan Sudirman dan Jalan BW Lapian. Maria Walanda Maramis adalah perempuan Sulut yang berjuang mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan melalui pendidikan di zaman pendudukan Belanda. Dia juga pendiri organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) yang terus eksis hingga saat ini. Kisah lebih lanjut tentang beliau ada di next post tentang kunjungan museumku, readers.

Monumen Walanda Maramis
Cerita Toar-Lumimuut memiliki banyak versi, namun yang terbaik dapat kita baca di sini. Dikisahkan Lumimuut merupakan anak dari Dewi Karema yang turun ke tanah Minahasa, dan melahirkan Toar yang kemudian menjadi suaminya. Mereka lah nenek moyang orang Minahasa.
Di monumen ini terdapat semboyan Minahasa: "Maesa-esaan wo maleo-leosan se tou lima wo pitu pakasaan un tana Minaesa" artinya "Saling bersatu/seiya sekata dan saling mengasihi dan menyayangi antara tiap orang dari tujuh anak-suku (pakasaan) di Tanah Minahasa."

Monumen Toar-Lumimuut

View from Jembatan Miangas
Jelajah Kota Manado pun berakhir disini mengingat awan gelap telah membayang di langit. Jalan kaki +/- 2 km dari Zero Point Pasar 45 ke Jembatan Miangas merupakan perjalanan yang menyenangkan dan menyehatkan. Eh, jangan lupa sunblock, jaket, payung, atau topi sebelum city tour di Manado, kalau tidak mau pulang dengan keadaan kulit gosong :p Besok penjelajahan lain akan dimulai: jelajah museum! Ini juga akan menjadi kali pertama bagiku mengunjungi museum di kota kelahiran sendiri, Manado! :D

PS.
Selain trip review di atas, aku juga ingin promosi berbagai tempat wisata potensial di sekitar Sulawesi Utara yang masih mudah dijangkau dari Kota Manado. Perjalanan ke tempat-tempat wisata ini aku lakukan di beberapa kesempatan ketika pulang liburan tahun 2011-2012. Check them out!

MONUMEN YESUS MEMBERKATI

Source: http://wisatajiwa.files.wordpress.com/2012/11/img_8105_resize.jpg
Sayang, setiap berkunjung kesini aku tidak sempat membawa kamera alhasil belum ada foto monumen yang bisa kuabadikan sendiri. Monumen Yesus Memberkati  terletak di kota Manado, Indonesia. Monumen ini memiliki tinggi 50 m dari permukaan tanah, dimana patungnya sendiri memiliki tinggi 30 meter dan 20 meter adalah tinggi penopangnya. Monumen berkemiringan 20 derajat ini terbuat dari 25 ton besi fibre dan 35 ton besi baja dan terletak pada bukit tertinggi di daerah perumahan Citraland Manado. Monumen ini menjadi ikon terbaru kota Manado dan merupakan monumen Yesus Kristus yang kedua tertinggi di Asia dan antara yang tertinggi di dunia.Ide pembuatan monumen ini berasal dari Ir. Ciputra, seorang pengusaha kawakan di bidang properti di Indonesia. Monumen ini menghabiskan biaya sebesar kurang lebih Rp. 5 miliar. Wow.

BUKIT KASIH
Simbol kerukunan dan perdamaian antar umat beragama sangat tercermin pada sebuah tugu yang berdiri kokoh pada kaki bukit. Tugu setinggi 22 meter itu dibuat berbentuk persegi lima sebagai lambing kelima agama yang ada di Indonesia. Yang membuat mata terkagum-kagum adalah terdapat pahatan di masing-masing dindingnya yang berisikan ajaran kelima agama tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kelima agama dapat menyatu di bukit ini. Selanjutnya tentang Bukit Kasih dapat di-googling sendiri, atau baca disini ya.



DANAU LINOUW
Danau Linouw memiliki kandungan belerang yang tinggi dimana gelembung-gelembung di tepi danau memancarkan uap air panas. Warna danau mengalami perubahan cahaya biru, hijau, tosca, dll. Danau dapat dicapai dengan naik angkot dari Terminal Bis Tomohon menuju persimpangan ke danau, lalu jalan kaki sekitar 700 m melalui jalan masuk dari Desa Lahendong.

Oh ya, readers, desa Lahendong sendiri terkenal dengan sumber mata air panas dengan bau belerang yang khas, sehingga ada lelucon tentang 'bau kentut' yang segera tercium ketika memasuki desa ini :p Desa Lahendong juga dikelilingi hutan pohon cemara yang juga menjadi tempat wisata menarik (untuk foto-foto narsis) :D

Di siang hari warnanya hijau tosca, di sore hari warnanya berubah jadi biru. Cool!

Ngga heran deh kenapa tempat ini jadi lokasi favorit untuk pre-wedding

Pisang goreng terenak bagiku ya pisang goreng-nya Sulawesi Utara :')
TAMAN TOAR-LUMIMUUT (TAMAN EMAN)
Taman Wisata Toar Lumimuut adalah salah satu tempat wisata sejuk di Kecamatan Sonder, Kab. Minahasa yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari kota Manado. Taman Wisata Toar Lumimuut merupakan sebuah kawasan hutan kota yang di dalamnya terdapat kolam renang yang airnya jernih karena berasal langsung dari sumber mata air pegunungan. Di taman inilah aku pertama kali menjajal flying fox dengan biaya Rp20.000,- dan langsung ketagihan! Hahaha... Di hari libur taman ini jadi tempat retreat jemaat gereja yang ingin ibadah outdoor sekaligus rekreasi.

Another monumen Toar-Lumimuut

Sourcehttp://thearoengbinangproject.com/taman-wisata-toar-lumimuut-minahasa/

CAGAR ALAM TANGKOKO & PANTAI BATUPUTIH


Source: http://www.pangolinfund.com/gallery/Tangkoko-Sulawesi/030__tangkoko-nature-reserve-north-sulawesi-indonesia-8jul2011.jpg
Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus adalah cagar alam di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare ini merupakan tempat perlindungan monyet hitam sulawesi dan tarsius. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Batuputih dan Taman Wisata Alam Batuangus. Kawasan ini memiliki topografi landai hingga berbukit yang terdiri dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan lumut. Di kawasan ini terdapat dua puncak gunung:Gunung Tangkoko (1.109 m) dan Gunung Dua Saudara (1.109 m), serta Gunung Batuangus (450 m) di bagian tenggara. Di sebelah timur laut terdapat Dataran Tinggi Pata.

Source: http://burung-nusantara.org/wp-content/gallery/sites-and-habitat/nb-tangkoko-filip-verbelen.jpg
Kali pertama (sekaligus terakhir) aku mengunjungi Tangkoko, aku tidak beruntung dalam menjelajah kawasan hutan sehingga tidak bisa bertemu baik monyet hitam maupun tarsius. Semoga kali berikut kami bisa berjumpa :')

Di Pantai  Batuputih aku tidak menikmati air lautnya (baca: berenang) karena saat itu matahari bersinar terik, bahkan menginjak pasirnya saja aku berteriak-teriak karena panas, hehe... Jadilah aku hanya foto-foto dan mengumpulkan kulit kerang yang indah bertebaran di tepi pantai. Oh ya, karena Batuputih ini merupakan hutan pantai, jadi kita bisa berteduh di bawah rindangnya pohon besar yang berjejer rapi di tepi pantai.

Pantainya masih 'perawan'
Batuputih, a hidden paradise

0 testimonial:

Post a Comment