May 11, 2014

Kisah Laskar Pejalan di Negeri Timah (Part 3)

Yak, hari terakhir menjelajah Pulau Belitung! Sabtu, 3 Mei 2014, tinggal sedikit tempat wisata yang belum dicoret dari itinerary perjalanan kami. Pukul 08.30 WIB mobil melaju ke Danau Kaolin, sebuah danau yang terbentuk dari bekas pertambangan timah. Sekilas saja, Danau Kaolin mengingatkanku pada Danau Linouw (Sulawesi Utara) yang sama-sama berwarna biru di pagi hari. Bedanya, Danau Linouw bisa berubah warna menjadi hijau atau putih kebiruan pada jam-jam tertentu. Masing-masing memiliki keindahannya sendiri dan tentunya sama-sama memikat. Dulu danau ini digunakan sebagai tempat penambangan kaolin atau tanah liat yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat Belitung hingga kini. Akibat dari adanya aktivitas penambangan ini, kini yang tersisa adalah lubang-lubang besar yang berisikan air berwarna biru toska. Readers, melihat danau ini ada terlintas Kawah Putih Ciwidey nggak di pikiran kalian? :)




Dari Danau Kaolin, kami beranjak menuju Museum Tanjung Pandan Belitong. Museum Belitong menyimpan banyak cerita tentang sejarah pulau ini, mulai dari kehidupan dan peninggalan purbakala hingga sejarah masuknya perusahaan-perusahaan penambang ke Belitung. Readers pernah membaca Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata? Museum Belitong tertulis dalam novel tersebut, disebutkan bahwa museum ini menyatu dengan kebun binatang dan menjadi objek wisata favorit anak SD di Belitong. Ini adalah kali pertama bagiku (dan teman-teman yang lain, barangkali) mengunjungi objek wisata three-in-one sejenis ini: museum + kebun binatang + taman bermain. Berbeda dengan TMII tentunya yang mengusung tema "taman" yang di dalamnya terdapat museum, tempat pemeliharaan satwa, dan wahana-wahana permainan menarik.




Taman Bermain! Ide yang kreatif membangun taman bermain di halaman museum :)


Sekarang saatnya: wisata pantai! :D Masih belum puas sunbathing, masih belum cukup gelap kulit ini *aslilah, Lin* sisa hari ini akan kami habiskan menjelajahi pantai-pantai di sekitar kota Tanjung Pandan. Third stop today: Pantai Bukit Berahu! Untuk mencapai bukit ini, kita akan berhenti di Penginapan Bukit Berahu. Dari penginapan, kita bisa turun ke pantainya dengan terlebih dahulu melewati jejeran cottage yang bersih dan nyaman. Atau bisa juga naik ke restorannya untuk menikmati lautan Belitung dari ketinggian. Tenang saja, tangga yang akan kita naiki/turuni tidak sebanyak tangga mercu suar kemarin kok ;)

Pemandangan dari penginapan
Jejeran pondok penginapan
Pantai Bukit Berahu!



Fourth stop hari ini adalah Pantai Tanjung Tinggi, salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi dan video klip lagu "Laskar Pelangi"-nya Nidji. Di sini kami menikmati makan siang yang mengenyangkan, meski tetap konsisten dengan "SOP Masak 1 Jam"-nya :( Seafoods-nya lezat luar biasa! Apa mungkin karena kami yang kelaparan saja ya? Hahaha... Tidak lupa air kelapa muda, kali ini dengan es batu! Ah, seandainya ini jadi kehidupan nyataku ya.... Bahagia! :')






Bergeser sedikit dari lokasi rumah makan, kami tiba di lokasi syuting Laskar Pelangi: jejeran batu-batu besar dengan pemandangan laut jernih & karang yang luar biasa! Makin sore makin banyak saja wisatawan yang datang, menyebabkan aku malas membawa kamera untuk hunting. Benar saja, di spot itu kami harus bersabar untuk bergantian mengambil foto terbaik. Banyak juga pengunjung yang terjun untuk berenang dan mengganggu keindahan foto laut biru :(







Untuk mengejar sunset hari ini, kami berlabuh ke Pantai Tanjung Pendam. Pantai ini terkenal sebagai lokasi terbaik untuk merekam momen sunset. Yah, agak gagal juga menyaksikan matahari terbenam sempurna karena ada awan mendung yang menutupi cakrawala, tapi kami tetap sukses mendapatkan foto-foto jelang sunset yang cantik :)
Sambil menunggu sunset kita bisa bersantai di lokasi semacam food court sambil memesan kopi (khas Belitung!), pempek, atau makanan/minuman ringan lainnya. Sayang di sini tidak menjual pisang goreng, we're craving for fried banana so much!






Dari Tanjung Pendam, kami singgah lagi untuk belanja oleh-oleh berbentuk souvenir dan membeli martabak Bangka. Penasaran juga, apakah rasa makanan khas lebih enak jika dibeli di tempat asalnya? The answer: tidak berlaku untuk martabak Bangka. Rasanya sama saja, hehehe, tidak lebih enak daripada martabak buatan abang-abang langgananku di Ceger sana.
Saatnya beristirahat! Semoga besok mendapat servis sarapan sama banyak dan lezat dengan sarapan hari ini! *pray hard* :p


to be continued...

0 testimonial:

Post a Comment