May 09, 2014

Kisah Laskar Pejalan di Negeri Timah (Part 2)

Hari kedua: Jumat, 2 Mei 2014. Setelah menikmati sarapan nasi goreng (tanpa “SOP Masak 1 Jam”) dan berdiskusi ringan tentang kekonyolan “89 Tuntutan Hidup Sejahtera Buruh” di berita pagi, pukul 08.00 WIB kami pun memulai petualangan.

Bagian dalam Hotel Martani: luas, bersih, nyaman :) *abaikan "SOP Masak 1 Jam"-nya*
Sesuai rencana, hari ini adalah hopping islands trip alias perjalanan lintas pulau-pulau kecil di barat laut Pulau Belitung. Begitu menginjakkan kaki di pantai Dermaga Tanjung Kelayang, kami langsung memuaskan hasrat untuk hunting foto selagi menunggu boat siap mengantar.



Kebiasaan ketika mengunjungi pantai: mengumpulkan kulit kerang!

The team!
Air jernih dan karang, perpaduan indah!
Pulau Belitung, dilihat dari tengah laut
Dari tengah laut, kami sudah bisa melihat gugusan pulau-pulau di sekitar Pulau Belitung. Ada pulau batu granit (Pulau Burong) yang terkenal dengan Batu Garuda, yakni susunan batu menyerupai kepala burung Garuda. Sayangnya, pulau ini kami lewatkan agar tidak memakan waktu lebih banyak.

Batu Garuda, look at that head-shaped rocks! ^^
Batu Layar, dilihat dari tengah laut
First stop hari ini adalah Batu Layar, sebuah pulau kecil dengan jejeran batu besar yang megah. Di sini kami untuk pertama kalinya bertemu dengan Bintang Laut (Starfish) yang sering kita lihat di layar kaca dengan nama Patrick Star, sahabat Spongebob. Ternyata warnanya beneran merah muda cantik dengan tonjolan-tonjolan di permukaannya! Hati-hati dengan bagian bawah Bintang Laut yang adalah mulutnya, biasa digunakan untuk menghisap makanannya sehingga dapat melukai kulit manusia.


Hello, starfishes! :D



Second stop adalah Pulau Pasir (Pasir Gusong). Ya, dari namanya saja bisa ditebak bahwa ini adalah pulau yang terdiri dari kumpulan pasir! Jika air pasang, pulau ini otomatis tenggelam. Puji Tuhan, kami datang di saat yang tepat sehingga bisa menikmati indahnya pulau super-kecil-yang-suka-menghilang ini. Well actually, Pasir Gusong tidak memenuhi kriteria sebagai "pulau" karena menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 pasal 121, pulau adalah "daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas muka air pada saat pasang naik tertinggi". Dengan kata lain, sebuah pulau tidak boleh tenggelam pada saat air pasang naik. (source: id.wikipedia.org)
"Pulau Pasir" hanyalah sekadar julukan, bukan nama asli, karena terdengar lebih catchy dan mudah dihafal :)

Pulau Pasir, dilihat dari tengah laut

Can you see how 'wide' this island is? :p
Pulau Lengkuas, dilihat dari tengah laut
Jejeran perahu 'parkir' di Pulau Lengkuas
Saatnya makan siang! Makan siang kali ini kami nikmati ala piknik di pulau, masih dengan menu seafood lengkap dengan sebatok kelapa muda yang segar! Di third stop kami, Pulau Lengkuas, makan siang digelar sekaligus nanti eksplor mercu suar yang juga tidak kalah terkenal dengan Sekolah Miring Gantong. Ternyata bukan hanya kami wisatawan yang makan siang di pulau ini, ada banyak rombongan lain juga yang masing-masing telah disediakan meja & terpal untuk alas duduk oleh travel agent-nya masing-masing. Rombongan kecil kami pun mendapat spot nyaman yaitu di bawah rindangnya pohon kelapa, yah, meskipun menu makan siang kali ini tidak memuaskan (makanannya kurang lezat dan air kelapa mudanya tanpa es batu sehingga kurang segar) tapi tidak menutupi sukacita kami.


Selesai makan siang kami segera beranjak untuk ‘memanjat’ si Mercu Suar 16 lantai, cukup dengan membayar Rp5.000,-/org. Saat inilah aku merasa sudah tua untuk menjadi seorang petualang: capeknya naik tangga itu bukan main, bro! Naik tangga saja sudah capek, gimana nanti aku mau mengkhatamkan rencana mendaki gunung?? Duh, Gusti...

What you get after climbing the never-ending-stairs :')
Even my camera just can't capture all those beauties perfectly...
Setelah beristirahat beberapa kali, akhirnya aku bisa juga menginjak lantai puncak mercu suar (dan tertinggal jauh di belakang lima orang lainnya, hmmm...) LUAR BIASA! Cuma dua kata itu yang bisa menggambarkan keindahan pemandangan dari atas mercu suar: langit biru berhiaskan awan putih, air laut warna-warni mulai dari biru pekat, biru terang, hingga hijau toska, warna karang-karang sekitar pulau yang terlihat jelas karena jernihnya air laut, jejeran perahu wisatawan yang parkir dengan rapi di tepi pulau, serta gugusan-gugusan batu yang berserakkan dengan indahnya di sekitar Pulau Lengkuas: SEMPURNA! Lukisan tangan Tuhan memang tak pernah mengecewakan, aku dibuat takjub dan tak bisa berhenti mengagumi apa yang terpampang di depan mataku. “Wow!” dan “Bagusnya!” adalah dua kata yang terus mengalir di sela-sela kehebohanku memotret pemandangan. Readers, Pulau Lengkuas adalah salah satu keindahan terluar biasa yang ada di muka bumi ini. Tidak perlu jauh-jauh ke Phi-phi Island (Thailand), Hawaii, Maldives, Pulau Jeju (KorSel), jika kita punya keindahan seperti ini di tanah air Indonesia. Masih kurang indah? Silakan cicipi Wakatobi, Derawan, dan Raja Ampat! Start adoring your own country’s beauties, start visiting your own country’s tourism spots!


Rombongan wisatawan lain bersiap terjun ke laut
Karena tenaga sudah fully charged, kini saatnya kami untuk snorkeling! Spot snorkeling masih di sekitar Pulau Lengkuas, dengan objek berupa ikan-ikan kecil yang sebenarnya bisa dilihat dengan mata telanjang. Airnya begitu jernih sehingga tanpa terjun pun kita bisa melihat warna-warni ikan di sini. Sayangnya terumbu karangnya tidak begitu menarik, sehingga kita cukup memuaskan diri dengan memberi makan ikan-ikan ini. Jika readers pernah membaca posting trip Kepulauan Seribu-ku, pasti ingat bahwa aku pernah berkata “ini adalah kali pertama (dan terakhir) snorkeling bagiku”, ya kan? Nah, di posting inilah aku meralatnya: aku snorkeling lagi di Belitung. Hahaha! Melihat Aldo dan Bang Abel asyik di dalam laut, aku jadi tergiur untuk terjun lagi, ditambah arus laut hari ini yang begitu tenang berbeda dengan di Lombok kemarin. Puji Tuhan, akhirnya aku kembali nyebur dan memberi makan ikan-ikan langsung dari tanganku! :’) Achievement unlocked, yeah!



Pemberhentian terakhir adalah Pulau Kepayang. Pulau yang terkenal karena penangkaran penyu dan tarsiusnya. Ya, tarsius! Aku sebagai orang Sulawesi Utara yang juga membanggakan tarsius (Tarsius Tangkasi) terus terang agak kaget mengetahui Belitung juga punya tarsius, hahaha... Sayangnya kali ini kami hanya bisa melihat penyu karena hari sudah sore, tentunya tarsius-tarsius tidak kelihatan lagi (seperti pengalamanku di Bitung, Sulut yang lalu). Karena sudah pernah berinteraksi dengan penyu di Pulau Kelapa Dua (Kep. Seribu) tahun lalu, aku kurang excited ketika berada di penangkaran penyu. Tapi seru juga ya melihat kawan-kawan yang lain begitu bersemangat untuk pose bersama penyu dan mewawancarai Bapak Penangkar tentang kehidupan penyu. Satu-satunya hal menarik bagiku adalah ketika kami berdebat: “apa Bahasa Inggris penyu dan kura-kura??” Hahaha, intermezzo sesaat.



Can you see the rays of sun? It was AWESOME!
Keluar dari tempat penangkaran, kami bergegas menuju pantai yang sejak tadi menarik perhatian kami dengan batu-batu raksasa di tepiannya. Berbeda dengan lokasi-lokasi sebelumnya, air laut di Pulau Kepayang ini terasa hangat! Hmm, entah apa penjelasan ilmiahnya. Kami pun berlomba-lomba untuk masuk air dan melupakan kamera/gadget masing-masing. Di pantai ini kita bisa menyaksikan sunset dengan sempurna, namun karena ada kontrak waktu dengan pemilik boat kami harus segera kembali ke dermaga sebelum sunset. Perjalanan hopping islands pun ditutup dengan foto-foto di Dermaga Tanjung Kelayang.




Thanks, Pulau Kepayang, for these beautiful seashells!



Sebelum kembali ke hotel, Pak Supir mengantar kami untuk mencicipi Mie Belitong. Rasanya enak, tapi menurutku ada yang kurang... somehow it lacks something menyebabkan cita rasa khas Belitungnya tidak terasa. Mungkin harus ditambahkan timah atau pasir kaolin ya, biar lebih terasa? :p FYI, restoran kecil ini sudah disinggahi berbagai artis ibukota, bahkan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pun pernah makan di tempat ini. Keren!
Kami masih singgah lagi ke toko oleh-oleh untuk mencari bingkisan buat orang-orang terkasih yang sudah menunggu (dan menuntut) di Jakarta nanti. Ah, hari kedua yang sangat melelahkan! :’) Mari kita tiduuuuuuurrrr~

to be continued...

5 comments:

  1. Pulau gosong nya cakep yaaa, kapan lalu waktu kesana lagi rame banget jd ngak mampir ;-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya cakep banget :') berasa di maldives kalau foto-foto disini hehe.. berarti mesti balik lagi itu gan! :D

      Delete
    2. Kak Erlin..... bagus banget viewnya :)

      Delete
  2. widiihhh kak, bagus banget viewnya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju, dek! :) semangat kuliahnyaaaa, bisalah kapan-kapan liburang bareng yak! hehee

      Delete