October 28, 2014

Three Provinces Trip: Dieng Plateau

Judul trip-ku yang terbaru kuberi judul "Trip Tiga Provinsi" karena lokasinya yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Namun sesungguhnya trip ini terwujud sebagai trip terakhir dengan status pengangguran, karena kami memang akan segera mulai bekerja di Kementerian Keuangan.

Destinasi pertama, Dieng, dengan tumpukan-tumpukan sawahnya.
Adalah Kunto dan Aldo, dua anggota BALOK Trip yang lalu, yang menjadi salah satu faktor utama aku mengadakan trip ini. Ya, selama berbulan-bulan ini aku banyak menghabiskan waktu dengan mereka, sehingga sempat terlintas dalam benak: "Bagaimana jika nanti mereka ditempatkan jauh dari Jakarta yang otomatis akan membuat kami susah bertemu?" FYI, keduanya adalah CCPNS di Dirjen Pajak dan sama-sama berkeinginan untuk kerja di kota asalnya masing-masing, sementara aku sudah pasti akan hidup di Jakarta sebagai pegawai di BKF. Alhasil, aku pun berencana menyambangi mereka di Semarang sebelum memulai perjalanan trip entah-kemana-saja-kaki-ini-hendak-melangkah.

Yuangga Friski Primayoga a.k.a Yung, teman seperjuangan di Paduan Suara Panitia Wisuda (PAPAN Panwis) 2012, adalah orang pertama yang kami ajak bergabung ke trip ini. Yung memang sesama pecinta jalan-jalan dan beberapa kali juga berwacana ingin bergabung dalam trip selanjutnya. Tercapai! :)

Setelah berembuk di grup WhatsApp selama beberapa hari, tercapailah keputusan yang bisa mengakomodasi semua keinginan kami: gunung, pantai, city tour, dan foto-foto. Tentu saja, bagian "foto-foto" adalah keinginan terkuat Aldo (aku bosan membaca "Jangan lupa bawa kamera" yang berkali-kali ditulisnya di grup -__-)
Dataran tinggi Dieng, Gunung Bromo, Pantai Gunungkidul & Kota Yogyakarta, serta jelajah Semarang menjadi destinasi trip kami selama +- 10 hari. Selanjutnya, kami ketambahan beberapa personil lagi untuk setiap tujuan: Arifin Nur Hidayat a.k.a Ipin, Septiyan Andy Prasetya a.k.a Asep, dan Desiana Rizki Amalia a.k.a Lia. 


Hari Minggu, 12 Oktober 2014, aku memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen jam 06.00 pagi menuju Semarang dengan KA Tawang Jaya. Ya, tripku ini mungkin sekaligus sebagai kado ulang tahun untuk diriku sendiri yang ke-21, hehehe.. Di Semarang-lah rombongan kami bertemu, karena Yung dari Banyuwangi dan Ipin dari Sragen juga tiba di Terminal Banyumanik malam harinya. 


Curi start untuk wisata kuliner di Semarang: Tahu Gimbal!

Thank you so much for the surprise and the delicious macaroni schotel, guys! :*
Baru hari pertama trip saja, kami sudah melenceng dari itinerary yang kususun. Dari yang harusnya berangkat ke Wonosobo menggunakan bis ekonomi dari Terminal Troboyo, malah jadi menggunakan travel dari Terminal Banyumanik. Readers, jangan mudah termakan omongan orang yah! :') 



Perjalanan Semarang-Wonosobo kita akan disuguhkan pemandangan indah Gunung Sumbing dan Sindoro di sisi kiri jalan. Kami diturunkan di jalan pertigaan Wonosobo-Dieng untuk melanjutkan perjalanan dengan minibus ke Dieng. Tarifnya hanya Rp10.000,- tapi kami dikenai Rp15.000,- karena sempat bertanya pada seorang tukang ojek yang ternyata telah bekerja sama dengan si sopir untuk menjadi calo. Duh! Pelajaran lainnya: bertanyalah hanya kepada sesama penumpang di dalam angkutan tentang tarifnya, jangan sampai kita dimanfaatkan oknum-oknum tertentu jika terlihat jelas bahwa kita orang baru disana.

Memasuki kawasan Dieng, jalanan akan terus menanjak dan menyempit. Tapi coba lihat sekelilingnya, sawah dan kebun terbentang dimana-mana! Bukan tipikal sawah di dataran rendah yang hijau dan luas, yang biasa kita lihat sepanjang jalan berkereta api. Tapi sawah yang bertingkat-tingkat mirip Tabanan, Bali, dan pasti membuat kita berpikir: kok bisa petani-petani ini membuat sawah rumit nan indah seperti ini? Suhu udara juga semakin dingin membuat kami semua bergantian tertidur dalam perjalanan. Tidak usah khawatir, toh kita akan turun di perhentian terakhir: Pertigaan Dieng. 


"Selamat Datang di Obyek Wisata Dieng Banjarnegara"! YEAY!
Turun dari minibus, kami langsung dihampiri bapak-bapak pemilik losmen yang menawari kami rumah seharga Rp300.000,- per malam. Duh! Uang kami tidak sebanyak itu, Pak :( Sebenarnya harga itu cukup murah jika kita membawa rombongan +- 10 orang, karena rumah yang ditawari itu memiliki 2 KT + 2 KM serta ruang tengah yang cukup luas. Tapi kami berlima hanya butuh satu kamar tidur dan satu kamar mandi dengan water heater, kok. Kami sempat melihat Homestay Arjuna (Rp300.000,-) dan Losmen Bu Djono (Rp225.000,-) sebelum akhirnya memutuskan tinggal di Homestay Batu Kelir (Rp250.000,-) dengan pertimbangan kondisi kamar yang lebih bagus dari Bu Djono + KM dalam dengan water heater + balkon + service tea/coffee & air panas + extra bed & selimut. Teman kami sesama anak STAN yang stay di Bu Djono katanya kekurangan selimut, padahal kamar mereka terbuat dari kayu yang notabene lebih dingin dibanding kamar tembok. Brrrr!! 



Meski tinggal di Batu Kelir, kami tetap makan di Bu Djono karena selain memiliki fasilitas free Wi-Fi, harga makanan + porsi & rasanya sangat pas dengan selera. Ternyata semua ulasan yang kubaca di TripAdvisor benar adanya! ;) Para pengurus Bu Djono sangat ramah & baik hati kepada kami yang sebenarnya bukan penghuni penginapan. Aku akan sangat merekomendasikan Losmen Bu Djono untuk semua pelancong di Dieng.

Minum teh (sok) cantik di balkon penginapan
Setelah makan siang dan istirahat sejenak, kami berlima pun jalan kaki menuju Candi Arjuna yang letaknya hanya 15 menit dari Hotel Bu Djono. HTM untuk Candi Arjuna & Telaga Warna adalah Rp10.000,-. Kawasan candi ini tertata sangat baik, tiket seharga itu sesuai lah dilihat dari perawatan & pengembangan kawasannya. Senin, 13 Oktober, dua candi lain di samping Candi Arjuna sedang mengalami pemugaran sehingga kami harus berpuas diri untuk foto-foto berlatar Candi Arjuna saja. 

Candi-candi di Dieng ini diberikan nama sesuai dengan tokoh pewayangan Mahabarata. Ciee, yang sering nonton serial India berjudul sama itu pasti hapal kan siapa aja tokoh-tokohnya? :3 Selain Candi Arjuna, terdapat Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di belakang Candi Arjuna terdapat sebuah candi perwara (pelengkap) bernama Candi Semar.

Masuk pelataran candi langsung melihat penampakan candi-candi dari belakang

Penampakan candi dilihat dari depan
Dieng memang memiliki banyak peninggalan sejarah Hindu Siwa berupa bangunan-bangunan candi. Sempat terkubur dalam rawa-rawa, candi-candi ini ditemukan oleh seorang tentara Inggris pada 1814 dan dibersihkan ulang oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad 19. Dari prasasti yang ditemukan, para ahli memperkirakan kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja Wangsa Sanjaya.

Pulang dari candi, kami sempat tersesat karena ingin mencari Telaga Warna yang kami anggap letaknya berdekatan dengan candi. Eh, ternyata Telaga Warna itu lokasinya dekat Dieng Plateau Theatre yang harus ditempuh dengan berkendara. Jrengjreng~ Kami pun akhirnya melewati kolam lokasi memancing beberapa bapak-bapak, perkebunan milik warga (kentang dan sayur-mayur lainnya) milik warga, serta lapangan tanah sebelum akhirnya tiba di jalan raya. 

Hari sudah beranjak senja, dan kami memutuskan untuk mencari Mie Ongklok yang terkenal nikmat itu. Apa daya, di Dieng ini sajian Mie Ongklok hanya tersedia di pagi-siang hari. Hahaha... ujung-ujungnya makan malam lagi di Bu Djono. Sebelum tidur, tidak lupa kami menyewa mobil untuk mengantar keliling Dieng mulai dari sunrise hunting jam tiga subuh nanti. 


Saking tenangnya, telaga ini bisa digunakan untuk bercermin.

Tangkap ikan yang banyak, ya, Pak!

Harus tetap eksis meski tengah nyasar! ;)
Megahnya masjid Dieng yang bisa terlihat dari berbagai penjuru
Sunrise hunting di Dieng akan kita lakukan di puncak Bukit Sikunir, yang keindahannya sudah melegenda di dunia *sikasik* Bukit Sikunir ini masuk dalam kawasan Desa Sembungan dan memiliki ketinggian 2350 mdpl. Selain pegunungan Dieng, kita bisa melihat Gunung Sindoro di kejauhan. Waktu terbaik melihat sunrise adalah di musim kemarau, antara Juli-Agustus. Tapi jangan salah, musim kemarau juga adalah waktu dimana suhu udara mencapai titik terendahnya! Brrr...

Mengunjungi Bukit Sikunir pada hari Selasa rupanya bukan jaminan bahwa kami akan menemukan lokasi yang sepi pengunjung. Meskipun bukan weekend, pengunjung Sikunir tetap saja ramai. Sepanjang perjalanan dari pelataran parkir (Telaga Cebong) ke puncak Sikunir, kami berada di tengah-tengah rombongan lain yang asyik mengobrol sambil mendaki. Tak jarang juga kami bertemu pengunjung yang merokok untuk menghilangkan rasa dingin yang cukup menyengat. Duh! Sempat-sempatnya banget sih, Pak! Kami berlima sendiri lebih banyak diam, dan memberi semangat singkat ketika aku agak tertinggal di belakang saat mendaki. Sepenggal "Ayo, Lin!" itu sangat membantuku untuk mengalahkan rasa capek dan dingin yang beberapa kali sempat menggoda agar aku duduk beristirahat. Dengan tekad bulat dan perhatian dari empat pria tangguh di depanku itu, aku akhirnya menginjakkan kaki di puncak Sikunir jam 04.49 dini hari. Bahkan, kami adalah orang kedua (setelah seorang bapak pedagang jajanan yang baru mulai merapikan kiosnya) yang berada di sana. Sebagai hadiah, kami menemukan spot terbaik untuk foto-foto berlatar langit kemerahan pertanda matahari sebentar lagi terbit.


Semburat jingga di Gunung Prau.
Tips dariku untuk para pendaki amatir: mendakilah dengan irama langkah yang stabil dan normal, bernapas melalui mulut secara normal, usahakan untuk tidak banyak mengobrol, dan condongkan badan ke depan untuk mengurangi beban tulang belakang. Khusus untuk pendakian Bukit Sikunir ini, gunakanlah sepatu tertutup & kaos kaki serta jangan lupa membawa senter. Untuk penggunaan sarung tangan dan tutup kepala adalah opsional, tergantung seberapa kuat kamu bisa menahan hawa dingin. Aku yang selalu hidup di suhu udara 30-an derajat, ternyata cukup kuat untuk mendaki Sikunir hanya dengan celana jeans & sweater ber-hoodie. Rahasianya adalah: aku menggunakan long john di bawah pakaianku. "Long john" ini adalah pakaian berbahan elastis mirip pakaian balet yang bisa menahan udara dingin. Bahannya tipis sehingga praktis untuk di-double dengan skinny jeans. Recommended!

Tepat pada pukul 05. 25 WIB bulatan kecil itu nampak juga! Matahari terbit! Entah apa aku baru kali ini melihat sunrise atau karena Bukit Sikunir memang tempat yang spesial, matahari terbit ini terlihat luar biasa kecil, hampir seukuran manik-manik. Beda dengan sunset yang telah kulihat dimana-mana *cieh* tidak ada yang sekecil ini nampaknya. Ciptaan Tuhan memang luar biasa!

Halo, Sang Surya!





Tujuan kedua dari Dieng Trip ini adalah Telaga Warna. Mirip dengan warna Danau Kaolin di Belitung dan Kawah Putih di Ciwidey, Telaga Warna juga dominan berwarna biru tosca karena memiliki kandungan sulfur di dalamnya. Tempat terbaik untuk menikmati keindahan danau ini adalah dari Batu Pandang, suatu lokasi ketinggian yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Dieng Plateau Theatre. Kami kembali lagi hampir 'dipalak' di tempat ini, karena untuk meneruskan perjalanan ke Batu Pandang kami harus membayar iuran (yang sepertinya bukan PNBP alias charge dari warga setempat) sebesar Rp10.000,-! Buset! Kakek yang menjaga pos mungkin sedang bad mood ya karena pagi-pagi sudah kami ganggu, makanya tega menagih kami uang sebanyak itu. Untungnya kami punya Ipin yang bisa berbahasa Jawa Kromo, harga pun turun dari Rp50.000,- untuk 5 orang jadi Rp30.000,- saja. Harusnya sih hanya Rp25.000,- :( Kekesalan kami sejenak terlupakan setelah berdiri di Batu Pandang. Wow! Berbagai wujud ucapan "Subhanallah" pun meluncur dari mulut. Karya Tuhan itu memang luar biasa. Betapa cintanya Tuhan kepada Indonesia, di lokasi seterpencil ini pun ada keindahan yang begitu menakjubkan.




Nama "Telaga Warna" sendiri diberikan karena keunikan karakteristiknya, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah. Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Hal ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka warna air telaga nampak berwarna warni. Di samping Telaga Warna terdapat Telaga Pengilon.



Selain dari Batu Pandang, kami juga turun ke bawah untuk berfoto di tepi Telaga Warna. Oh ya, jangan lupa ya readers, HTM untuk memasuki Telaga Warna ini sudah termasuk dalam HTM karcis Candi Arjuna. Jangan terjebak untuk membayar lagi di pintu masuk dekat danau. Meskipun Bukit Sikunir ramai, ternyata di dua lokasi ini sepi pengunjung kok. Kami seperti mendapatkan private tourism spot yang bisa kami kuasai berjam-jam, hohoho~ Namun kami akhirnya memutuskan untuk beranjak juga dari sini, mengingat Kunto yang tidak tahan dengan ketinggian. Setidaknya di trip kali ini dia sudah berkali-kali menaklukkan ketakutan itu karena sanggup mendaki Bukit Sikunir dan berdiri cukup lama diatas Batu Pandang. Bravo, Kunto!


Selfie bermodalkan timer dan tumpukan batu :3



Melewatkan Dieng Plateau Theatre yang baru akan dibuka pada jam 9 pagi, rombongan kecil kami melanjutkan perjalanan ke spot terakhir: Kawah Sikidang. Mungkin karena sudah capek berjalan kaki kesana-kemari ditambah matahari yang naik semakin tinggi, beberapa dari kami kurang bersemangat untuk mengunjungi lokasi ini. Ditambah juga Aldo yang tidak tahan mencium bau belerang. Aku dan Yuangga sih yang paling santai berdiri dekat-dekat kawah, ya... mungkin kami pernah menjadi penambang belerang di kehidupan sebelumnya *sekarepmu, Lin*








Aktivitas vulkanik terlihat sangat jelas di Kawah Sikidang ini. Begitu memasuki area kawah, kita langsung disambut pemandangan warna putih endapan sulfur yang dikelilingi hijaunya perbukitan khas Dataran Tinggi Dieng. Di sekitar Kawah Sikidang juga bisa ditemukan kolam-kolam kecil yang mengeluarkan air berbuih pertanda memiliki kandungan belerang. Hati-hati melangkah ya, readers, jangan sampai menginjak tanah lembab yang bersulfur!


Sebelum masuk ke kawasan Kawah Sikidang, aku sempat notice keberadaan sebuah candi yang tengah dipugar. Karena tidak memerlukan karcis masuk, teman-teman yang lain menerima ajakanku untuk berfoto sebentar di depan candi yang ternyata adalah Candi Bima. Para pekerja yang tengah mengaduk semen malah jadi mengamati kami yang begitu random-nya turun mobil-naik tangga ke pelataran candi-ambil selfie-turun lagi tanpa basa-basi. Maaf ya mas-mas pekerja, teriknya matahari membuatku tidak berkeinginan untuk mengobrol sejenak dengan kalian :')))


Candi Bima
Candi yang satu ini memang unik dan berbeda dari candi-candi Hindu lain yang pernah kukunjungi. Ya, memang sih semua candi berbeda dan memiliki tipenya masing-masing. Tapi arsitektur Candi Bima mirip dengan beberapa candi di India. Pada puncaknya terdapat sejenis "stupa" (khas Candi Buddha seperti Borobudur) yang seperti mangkuk terbalik. Unik sekali.



Seiring dengan selesainya kunjungan ke Candi Bima, maka selesailah sudah Dieng Trip kami kali ini. Ah... menyegarkan! Begitu banyak keindahan yang kami reguk dalam 2 hari 1 malam ini: candi-candi, telaga, kawah, pegunungan, sawah & kebun, dan sunrise! Dataran tinggi Dieng ini menyimpan begitu banyak keindahan lain yang siap menyambutku di kali kedua nanti, tentu saja aku tidak akan melewatkan air terjunnya! Sayang sekali, karena keterbatasan waktu kami harus bergegas packing dan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Setelah having brunches di Bu Djono, kami pun menaiki minibus lagi (kali ini dengan harga normal Rp10.000,-) untuk kembali ke Wonosobo. Sampai jumpa lagi, Dieng! Terima kasih banyak! :*


Di depan Homestay Batu Kelir

PS. Special thanks to Helmy Nurman Ramdani, temanku di kelas 2A kampus STAN yang banyak memberi masukan tentang wisata di Dieng.

PPS. Daftar pengeluaran Semarang-Dieng (share cost 5 orang):


Taksi ke Banyumanik Rp11.000,-
Shuttle ke Wonosobo Rp60.000,-
Minibus ke Dieng Rp15.000,-
Homestay Batu Kelir Rp50.000,-
HTM Candi Arjuna Rp10.000,-
Sewa Espass + bensin Rp50.000,-
HTM Bukit Sikunir    Rp5.000,-
HTM Batu Pandang  Rp6.000,-
Minibus ke Wonosobo Rp10.000,-
makan siang BD* Rp17.500,-
makan malam BD* Rp10.000,-
brunch di BD*         Rp11.500,-
TOTAL Fixed Cost                   Rp217.000,-
TOTAL FC + Personal Cost(*) Rp256.000,-

0 testimonial:

Post a Comment