July 25, 2015

Sekilas Tentang Hong Kong Trip

Trip yang memakan dana sekitar delapan koma lima juta rupiah ini telah direncanakan selama setahun, no wonder menjadi trip paling berkesan, yah, karena ini juga kali pertamaku menginjak negara asing sih, hehehe... Karena hutang trip review-ku masih banyak, ditambah Hong Kong Trip yang sudah mengantri, izinkan aku memberi sekilas cerita saja tentang HK Trip ini sekadar memuaskan rasa keingintahuan beberapa teman. Trip review selengkapnya tentu saja akan menyusul bulan depan, setelah segala urusan per-IJEPA-dan-IKCEPA-an di kantor selesai ya. Huft.


Meet my travelmates! Bang Rapro, Bang Iman, Kak Yola, and Bang Jona

Sekitar Juli 2014 yang lalu Bang Adi (sesepuh di dunia per-traveling-an, silakan di-search karena nama beliau bertaburan di blog ini) menawari aku tiket promo Jakarta-Kuala Lumpur keberangkatan Juli 2015. Setelah berpikir panjang aku pun mengiyakan, ditambah lagi ada Kak Yolanda Togatorop a.k.a Kak Yola yang akan menjadi travelmate nanti, dia adalah seniorku di STAN dan IL Cantante Choir.

Awalnya, kami berdua belum sempat memutuskan kemana kaki ini akan melangkah: Penang? Langkawi? Thailand? Hingga akhirnya - aku lupa kapan tepatnya - kami bergabung dengan tiga orang lainnya: Bang Rapro Mulya, Bang Sudirman Napitupulu, dan Bang Jonathan Frans Simamora yang kesemuanya adalah sesama almamater STAN, untuk melanjutkan perjalanan ke... Hong Kong! Lagi-lagi dengan bantuan Bang Adi, kami berhasil mendapat tiket promo dari Kuala Lumpur ke Hong Kong. Puji Tuhan, segalanya berjalan lancar! :) Aku dan Kak Yola berangkat dari Jakarta, sedangkan tiga orang lainnya dari berbagai penjuru Indonesia: Subang-Jabar, Pekanbaru, dan Medan. YEAY!

So... where did we go to in Hong Kong?
Avenue of The Stars (make sure to watch the Symphony of Light), SkyTerrace, Disneyland Hong Kong, NgongPing (the cable car was the best part!), Sky100, dan Ladies Market adalah daftar kunjungan kami di Hong Kong di Day 1-3. Berlanjut mengunjungi The Venetian, City of Dreams, dan The Ruins of St. Paul di Macau yang menjadi impian Kak Yola sejak dia terpikat Gu Jun Pyo di Boys Before Flowers *duh* Dan hari terakhir, Day 5, kami menuju Shenzhen dengan membayar VISA on Arrival seharga 168 yuan (atau "renmimbi") demi Windows of the World yang mengecewakan. Hari terakhir kami di Hong Kong dan Shenzhen dihiasi hujan cukup deras yang sukses membuat mood foto-fotoku menghilang. Tidak hanya itu, penerbangan HK-KUL menggunakan AirAsia juga ikut ter-delay 1,5 jam dan mengalami turbulensi parah (the worst ever in my life) selama usaha take off-nya. Puji Tuhan semuanya sudah selesai :')

Posing in front of the mighty Bruce Lee on Avenue of the Stars

Breathtaking moment inside the cable car, going to NgongPing

Aku tidak menyesal sudah melanggar janji pada diriku sendiri untuk tidak menginjakkan kaki ke luar negeri sebelum selesai keliling Indonesia. Karena selama di Hong Kong, aku belajar bersyukur lebih sering lagi setelah membandingkan berbagai aspek kedua negara ini.
  • Meski tidak sepanas Indonesia, Hong Kong memiliki udara yang panas dan lembab, membuat badan menjadi lengket, gerah, tak nyaman. Tetap saja aku (semakin) menghitam di sana meski sudah bersenjatakan sunblock
  • Entah aku saja yang tidak pernah tahu (terlalu fokus dengan Indonesia) atau emang udik dari sononya, ternyata ada perbedaan 'jam operasional' matahari di Hong Kong. Kalau biasanya pada jam 12 siang matahari berada persis di atas kepala, tidak demikian dengan Hong Kong. Padahal Indonesia-HK hanya berbeda 1 jam alias GMT+8.00 seperti Wilayah Indonesia Tengah (WITA). Matahari pun terbenam bukan sekitar jam 5-6 sore, tapi jam setengah 7 malam! Perbedaan ini membuat siang jadi semakin panjang, dan matahari terasa semakin terik.
Kacamata hitam adalah must have item selama di sana! (Location: NgongPing)
  • Hong Kong dan Macau adalah dua kota yang rapi dan terorganisir, tapi tidak dengan Shenzhen! Seseorang memberitahuku bahwa Shenzhen adalah kota rujukan bea cukai tentang pengelolaan pelabuhan dan dukungan industri. Oke, semua itu memang terlihat benar adanya. Kalau selama di KL, HK, dan MCO aku sudah dibuat tak nyaman dengan kejutekan petugas imigrasinya, petugas di Shenzhen bahkan lebih lebih lagi! Tidak ada yang berani macam-macam selama antri. We need those kind of officers in Indonesia's train and bus stations, all around Jakarta. Sayangnya... toilet Shenzhen super duper jorok! Ugh, rasanya 11-12 dengan toilet umum di terminal yang bau pesingnya bisa tercium dari radius beberapa kilometer. Penduduknya pun memiliki manner yang jauh berbeda: suka berteriak, bicara dengan volume maksimal, tidak ragu-ragu menatap orang lain, dan tidak pernah tersenyum. Geez! Something must've happened to them! I was wondering is there any dementor roaming around the city? Para orang tua seperti tidak bisa ngobrol santai dengan anaknya; adegan seorang anak diomeli hingga dicubiti jadi tontonan kami selama masa kunjungan setengah hari itu. Aku jadi merasa tidak ada sukacita di Shenzhen, sedih ya :(
The only happiness in Shenzhen: visiting Windows of the World

  • Meski iri melihat jalan bawah laut milik Hong Kong dan kerapian tata letak kota Kuala Lumpur (tidak ada kemacetan di sana), aku sangat, sangat bersyukur punya pantai dan laut seindah milik Indonesia. Ketika menyeberang ke Macau, air lautnya berwarna biru-coklat keruh. Aku sama sekali tidak berhasrat untuk photo hunting dari dek kapal, seperti ketika menyeberang ke Lombok atau Lampung. Bahkan dari ketinggian menuju NgongPing, yang menakjubkan hanyalah tingginya gedung dan proyek pembangunan jembatan HK-Macau saja. Lautnya? Biasa aja tuh. I just can't stop thanking God for Bali, Gili Trawangan, Derawan, Belitung, and of course... Manado!
The forest of concrete: Hong Kong
(Location: SkyTerrace)

The amazing view of Hong Kong at the night from Sky100

  • Mereka tidak mengenal "saos" dan "wastafel di tempat makan". Bahkan untuk restoran sekelas KFC dan McDonald's, tidak ada wastafel di sana. Alih-alih wastafel, kita diberikan sarung tangan plastik agar tetap higienis mengonsumsi ayamnya. Widih. Dan saus, jelas bukan kebutuhan mereka. Keempat seniorku itu mengeluh terus karena rasa hambar makanan tanpa saus. Pantas saja banyak orang Indonesia tertahan di pemeriksaan bandara karena membawa terlalu banyak saus sachet, hahaha. Satu lagi, sudah bukan rahasia kan bahwa makanan di Hong Kong ini 95% haram? Harus cermat memilih tempat makan, karena bahkan di Yoshinoya pun ternyata menjual daging babi dalam menunya.
  • They live like a robot. Bukan tradisi mereka untuk makan sambil mengobrol, duduk nongkrong lama di 7-11, bercakap-cakap dengan orang yang kebetulan duduk sebelahan di dalam MTR, well I've told you they know nothing about "smile" right? Ada sih segelintir orang yang bisa diajak saling lempar senyum. Literally, "segelintir". Di satu sisi, segala hal jadi lebih efisien. Di sisi lain, aku merasa terlempar ke dunia robot. Aku rindu Jogja. Aku rindu Indonesia.
The most 'pre-wed-photo-able' location is this The Venetian Macau!
Well, sepertinya hal-hal tersebut sudah cukup memberi sekilas gambaran tentang Hong Kong Trip-ku kemarin. Di bawah ini ada sekilas itinerary yang bisa membuat readers semua mengira-ngira, ke mana lenyapnya Rp8,5 juta yang kusebut di awal tadi. Ah ya, maaf terlewatkan... Mohon maaf lahir dan batin ya, Happy Eid Al-Fitr for those who celebrate! :)

Mohon bersabar menanti trip review selengkapnya. Thanks for reading! 



ITINERARY + EXPENSE LIST

Day 0:
Rp 2 juta = tiket PP CGK-KUL-HK
Rp 1 juta = hostel 5 hari (share cost 2 ppl)
Day 1: 
Rp 65 ribu = ongkos taksi & toll (sharing 2 ppl)
Rp150 ribu = airport tax Soetta
RM 20 = sarapan di KLIA2
RM 2 = tiket kereta transit KUL-KLIA2
HK$ 118 = SIM Card csl.
HK$ 150 = Octopus Card for transport all around HK (+ top up $250)
Day 2:
HK$ 48 = tiket SkyTerrace
HK$ 474 = tiket Disneyland Hong Kong
HK$ 115 = makan + jajan Day 2
Day 3:
HK$ 150.5 = beli sendal!!! (yeah, they charged 50 cent for every plastic bag)
HK$ 159 = tiket cable car + entrance NgongPing
HK$ 138 = tiket Sky100
HK$ 120 = belanja di Ladies Market
HK$ 88 = makan + jajan Day 3
Day 4:
HK$ 310 = tiket ferry PP HK-MCO (got discount for round way)
HK$ 18 = beli eggtart Koi Kei (must buy!) $9/pc
HK$ 96 = makan + jajan Day 4
Day 5:
RMB 168 = VoA Shenzhen
RMB 8 = tiket metro PP St. Luo Ho - Windows of the World
RMB 9 = beli payung (hikssss T.T)
RMB 180 = tiket Windows of the World
RMB 32.8 = makan siang
HK$ 25 = bayar charge hostel utk check out jam 6 sore (sharing $50/2 ppl)
Day 6:
RM 25 = sarapan
RM 22 = tiket bus airport ke Sentral
RM 5.2 = tiket kereta Sentral ke KLCC + tiket PP KLCC ke Pasar Seni
RM 45 = tiket bus Hop On Hop Off, tur keliling KL
RM 67 = belanja di Pasar Seni
RM 31.5 = makan siang
RM 2 = tiket kereta transit KLIA2-KUL
Rp40 ribu = tiket Damri Soetta-Gambir
Rp25 ribu = taksi Gambir ke kosan
--- selamat menghitung! kurs HK$ = Rp1770, kurs RM = Rp3520, kurs RMB = 2144 ---





PS.
Make sure kamu tidak sedang dalam kondisi galau asmara saat mengunjungi kota-kota ini karena dijamin akan tambah galau selama di sana. There were couples everywhere! Holding hands, hugging, laughing together, selfie, playing around, kissing (!), sama sekali tanpa ragu mengumbar kemesraan dan kebahagiaannya. Aih. Kata siapa Paris kota paling romantis sedunia? :') 


They said: "go as far as you can so you will be able to recognize whom the person you're missing the most".
So, seeing that this code has already written even before I arrived at Hong Kong, then I guess that person is him.

4 comments:

  1. Halo salam kenal. Mau nanya kalo aplikasi untuk chat seperti line dan whatsapp bisa digunakan ga di hongkong/macau? Makasih jawabannya☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo :) bisa banget, selama kamu punya koneksi internet (beli SIMcard atau konek WiFi)

      Delete
  2. Thankyou Erlin terbantu banget nih baca blog kamu. Semoga segera update liburan baru yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak sabar pengen denger cerita trip HK-mu, Moon ;)

      Delete