December 10, 2015

(Literally) Get Lost in Cirebon-Majalengka

Pertama-tama, marilah kita semua, para PNS di seluruh pelosok Tanah Air, menghaturkan sembah sujud kepada pemerintah pusat yang telah begitu 'kreatif' menjadikan tanggal 9 Desember sebagai Hari Libur Nasional dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Yeay!!!

Begitu mengetahui bahwa 9 Desember 2015 dijadikan tanggal merah, aku dan the Barbi(e)tch *nama grup WhatsApp kami which consists of Nopriyanto Hady Suhanda dan Agung Hari Nugroho* langsung mencetuskan untuk... jalan-jalan ke Cirebon! 

Pembagian tugas berjalan mudah saja: Nopri mencari hotel, Agung mem-booking tiket KA, dan aku, tentunya, mencari lokasi wisata. Berhubung aku sudah cukup muak selalu bersama dua orang ini setiap hari - yes they are my office-mates - jadilah aku juga menyeret Septiyan Andy Prasetya.

Get-lost partners kali ini

Selasa, 8 Desember 2015
Kami menempuh perjalanan St. Gambir-St. Cirebon selama 3 jam bermodalkan tiket seharga Rp82.500,- untuk kelas bisnis KA Tegal Bahari. Murah kan? Hehehe... God blessed our trip! Sedangkan untuk hotel kami memesan Wisma Bahtera yang berjarak 15 menit jalan kaki dari stasiun. Kenapa hotel ini? Well, meskipun sekarang udah berstatus pegawai dan sudah bergaji cukup untuk menempati kamar sekelas Aston Hotel, tapi apa daya mentalnya masih "mahasiswa super-perhitungan" hahaha~ Menurutku sih kamarnya cukup baik dan nyaman, lengkap dengan fasilitas sarapan, toiletries, handuk, air mineral, mie instan, serta TV kabel! Nyaman kok, recommended lah buat backpacker.

Awalnya, kami sudah siap untuk ngeteng selama jalan-jalan keliling Cirebon, dan melewatkan opsi wisata air terjun yang berlokasi di Kota Kuningan, 1.5 jam dari Cirebon. Toh ini emang niatnya mau "get lost". Tak disangka-sangka, datanglah seorang bidadari masuk di tengah-tengah rencana kami: Glisera Agri Ariyan. Do'i ini temen Asep semasa SMA, yang pernah menemani kami ketika liburan di Bandung. Ternyata di sini Sera bekerja pada salah satu kantor cabang bank swasta. Sayangnya karena harus lembur sampai siang, Sera hanya bisa meminjamkan mobil tanpa bisa ikut kami nge-trip. :( Tapi alhamdulillah sekali bisa dapat tumpangan gratis hihihi~

Gua Sunyaragi menjadi destinasi pertama (dan, satu-satunya!) di Cirebon. Mengingat Sunyaragi adalah situs gua, kami mengira letaknya tersembunyi dan at least berada di pinggiran kota. Baru saja selesai setting GPS location, duduk nyaman dalam mobil, ketawa-ketiwi, eh... 'tante-tante' GMaps sudah menyuarakan "you have arrived at your destination". Buset!

Meski waktu baru menunjukkan pukul 08.17 WIB, matahari Cirebon sudah bersinar sangat terik membuat kami menyesal lupa membawa sunglasses. Ternyata kami bukan orang pertama yang datang, di sini sudah ada dua-tiga rombongan lain mendahului kami. Wah, kurang pagi nih datengnya, berarti kami seharusnya bangun jam 5 subuh ya biar prosesi foto-foto tidak terganggu sinar matahari, hiks.





Jika menurut itinerary yang kususun di dalam hati harusnya kami langsung beranjak menuju Keraton Kasepuhan dan lokasi-lokasi wisata lain di sekitarnya. Namun akibat kedatangan mobil gratis yang diiringi pesan "hati-hati ya ke Kuningan-nya" dari Sera, alhasil rencana pun berubah menjadi... mencari air terjun! Hahaha. Oh ya, aku melakukan kesalahan cukup fatal nih sebagai seorang traveller. Sebenarnya ini aib sih, tapi aku ceritakan deh supaya readers bisa belajar dari kesalahanku *tsah*

Jadi... berdasarkan hasil googling aku mendapat info bahwa air terjun terdekat dari Cirebon terletak di Kuningan, yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Dibandingkan dua curug lain, Curug Putri adalah yang termudah untuk ditempuh, karena hanya butuh sekitar 2 jam bermobil dilanjutkan jalan kaki 15-20 menit dari lahan parkir. Sedangkan dua curug yang lain membutuhkan waktu berjam-jam lagi untuk trekking menembus hutan. So, okay! Kami pun sepakat menuju Curug Putri dengan dipandu aplikasi andalan: GMaps. Aku langsung mengarahkan Asep, the only one who can drive among us, untuk mengemudi sesuai input "Taman Nasional Gunung Ciremai".


Penampakan Curug Putri Kuningan - copyright: www.harjasaputra.com

Beberapa menit keluar dari Kota Cirebon, tiba-tiba Nopri bersuara: "Apa nggak sebaiknya kita lewat tol kalo mau ke Kuningan? Lebih cepat." DEGGG. Meanwhile, lajur berbelok ke pintu tol sudah terlewat beberapa meter, sedangkan GMaps juga mengarahkan kami untuk tidak mengambil jalan tol. Perasaanku sudah mulai tidak enak di sini, readers, tapi demi harga diri dan harkat martabat sebagai wanita traveller yang susah untuk mengakui kesalahan arah, aku meyakinkan rombongan bahwa kami sudah berada di jalan yang benar.

Singkat cerita... kami ternyata diarahkan ke Majalengka! Huahahaha~ readers, aku geli banget lho, kok ya bisa-bisanya tujuan awal Kuningan malah nyasar ke Majalengka. Aku bahkan nggak pernah tahu apa itu Majalengka, apa destinasi wisatanya, siapa walikota/bupatinya... yang aku tahu hanyalah bahwa nama daerah ini sering disebut setiap kali biduan dangdut mulai berdendang: "Majalengka digoyaaaaaang~!" :p *eh, Majalengka atau Cicalengka sih yang sering diserukan?*

Well, praise the Lord, tiga pria yang 'kugiring' ini adalah orang-orang yang tetap sabar dan berbesar hati, plus tetap excited menghadapi perubahan destinasi yang mengejutkan. Meski sesekali tetap mem-bully-ku, mereka semangat saja meneruskan perjalanan ke lokasi yang disarankan GMaps, entah kemana muaranya. Akhirnya, kami pun melaju ke salah satu air terjun lain di kaki Gunung Ciremai, sambil satu-dua kali bertanya arah juga pada warga sekitar.

Air Terjun Muara Jaya adalah air terjun Majalengka yang paling ternama dan karena letaknya di Kampung Apuy, Desa Argamukti, curug ini juga disebut Curug Apuy. Bagi yang ingin bermobil ke sana, aku sangat menyarankan untuk membawa mobil ukuran kecil, at least se-Avanza. Jalan yang harus ditempuh cukup kecil dengan melewati hutan, sawah, dan permukiman warga. Kami bahkan dua kali tersendat gara-gara ada mobil proyek yang tengah on duty dan menutupi arus jalanan.

Pemandangan teduh sepanjang jalan mencari air terjun :)

Menyebalkan? Not at all! Sepanjang jalan dari jalan raya Maja menuju lokasi air terjun, kami terus berpapasan dengan warga setempat yang sedang beraktivitas: berkebun, menggotong bambu, bercocok tanam di sawah. Nopri dan Asep sejak awal telah mewanti-wanti agar selalu tersenyum dan mengucapkan sapa setiap kali melewati warga dalam perjalanan. Serasa blusukan nih jadinya. Hati semakin adem rasanya karena setiap senyum dan sapaan kami pasti berbalas. Aih, lagi-lagi aku dibuat jatuh cinta dengan keramahan penduduk negeri ini :')

Perjalanan dua jam tersebut kami 'tebus' dengan cukup 10 menit bersama sang air terjun. Bukan karena curugnya kurang menarik, tapi karena derasnya hujan langsung menyambut begitu kami tiba di lokasi. Meskipun sempat berteduh juga untuk menikmati semangkuk mie instan hangat, toh hujan masih tidak mau berdamai dengan kami. In the end, kami nekat menerobos hujan untuk tiga kali jepret selfie, dan langsung kembali ke mobil dengan napas ngos-ngosan akibat banyaknya anak tangga yang harus ditempuh. Sedih sih mengingat sebenarnya debit air terjun saat itu cukup banyak dan pemandangannya juga sangat instagrammable. Satu tip buat readers yang berencana kesini, jangan lupa foto dulu sebelum menuruni tangga menuju air terjun, karena itu adalah salah satu spot terbaik mengambil panorama utuh curug beserta hijaunya hutan. Di bagian bawah pasti akan ramai dengan orang-orang berfoto dan nyebur di kaki air terjun.

Selfie di bawah guyuran hujan lebat

Akibat kehujanan dan tidak punya baju ganti lain, jadinya pake seragam kantor hari Selasa
Kami tiba kembali di Kota Cirebon sekitar jam 4 sore, satu jam lebih lambat dari rencana awal. Akibat keterlambatan ini kami juga jadinya meng-skip rencana belanja di Batik Trusmi. "Yaudah sih, nanti juga bisa cari di Thamrin City..." begitu Agung menenangkan kami. Hahaha. Emang luar biasa rombonganku ini, di sela-sela saling lempar cacian dan sindirian, tetap saja ada kata-kata lembut nan syahdu yang bisa bikin hati kembali tenang *muka nyinyir*

Setelah menjemput Sera di kosnya, kami lanjut having a late lunch di Empal Gentong Krucuk, sembari mengakrabkan diri dengan kenalan baru (bagi Agung dan Nopri) yang satu ini. 

Sesi pengakraban diri di Empal Gentong Krucuk
Mohon maafkan aku ya, readers, aku ini memang penikmat kuliner tapi tidak punya sense of taste yang baik dalam men-judge citarasa makanan. Hahaha. Empal Gentong berkuah santan ini rasanya mirip soto daging, jadi bagiku yang lebih menggemari soto bersantan dibanding soto kuah bening rasanya tentu saja... yummy! :') Ah iya, malam sebelumnya kami juga sudah mencicip kuliner Cirebon lainnya: Nasi Jamblang. Memang bukan Nasi Jamblang Ibu Nur atau Nasi Jamblang Dul yang terkenal itu sih, tapi hanya warung nasi kaki lima dekat stasiun yang sepertinya buka hingga tengah malam. Yah, lumayan lah untuk mengisi kekosongan perut. Semoga kali berikutnya bisa mencoba kenikmatan Nasi Jamblang Ibu Nur yang, menurut beberapa bloggers, bikin nagih sampai-sampai rela menempuh tiga jam Jakarta-Cirebon demi kuliner satu itu. Widih.


Selesailah sudah Get Lost Trip Cirebon-Majalengka dalam rangka Hari Libur Pilkada ini. Benar-benar liburan yang berkesan! Melihat situs gua berbahan dasar batu kali yang ada di tengah kota, check! Disasarin (lagi) oleh GMaps, check! Menginjak kota 'antah-berantah' bernama Majalengka, check! Perjuangan maksimal demi kekasih hati bernama "air terjun", check!

Ucapan terima kasih bertubi-tubi deh buat Agung dan Nopri yang randomly mencetuskan ide jalan-jalan ini. Mereka sukses membuatku berkata "iya" meski sudah bertekad tidak akan nge-trip lagi di tahun 2015 ini. Bunch of thanks juga buat Sera yang telah mengorbankan mobilnya demi kami, para tamu-tak-diundang :p Sukses ya, Ser, rencana S2-nya... semoga bisa meet up lagi! Dan tentunya, a never ending thank-you buat Asep yang begitu tegar menghadapi segala keabnormalan geng Barbi(e)tch ini.

See you again, readers, terima kasih sudah mampir! :*

Another liburan yang menyenangkan :)

0 testimonial:

Post a Comment