November 30, 2015

Bunaken, Finally We Met!

Pas nulis cerita trip terakhir, aku baru nyadar bahwa bulan November 2015 aku belum menulis laporan/cerita/trip review apapun. Hahaha~ Seorang Erlin bisa tahan nggak nge-trip saat tidak ada kewajiban kerjaan apa-apa, itu mustahil! So, here I am to tell you the story of what happened in November 2015... azeg banget bahasanya ya, padahal intinya ini "late post" kok :p

Perjalananku di bulan November 2015 bisa jadi merupakan trip paling berkesan sepanjang 2015 karena empat alasan berikut: 
  1. Sudah 4-5 tahun menjalani passion dan hobi sebagai tukang jalan-jalan, tapi aku malah belum pernah mencicipi keindahan Bunaken National Marine Park a.k.a Taman Bawah Laut Nasional Bunaken yang letaknya di kampung halamanku sendiri itu. Ke Bunaken pun hanya pernah sekali di tahun 2008 dalam rangka jalan-jalan sekaligus retreat gereja, dan hanya sempat melihat cantiknya underwater view Bunaken lewat perahu fiber glass.
  2. Selama 22 tahun 1 bulan menyandang gelar "orang Manado asli", baru kali ini aku mendapat kesempatan menjadi tour guide keliling Manado hahaha! Ada rasa bangga sekaligus cemas karena kesuksesan trip ini ada di tanganku seorang. Wooo-hooo~ 
  3. Pertama kalinya aku memakai jatah cuti tahunan yang menjadi hak setiap PNS di Tanah Air. Puji Tuhan, aku punya atasan-atasan yang pengertian sehingga izin cuti 3 hariku lolos dengan mudahnya... hihihi. Sesuai dengan amanat agung Bang Adi, hak cuti ini harus bisa di-manage dengan sebaik-baiknya, karena satu hal berharga yang tidak dimiliki PNS untuk jalan-jalan adalah waktu, beda dengan semasa aku mahasiswa kemarin yang punya waktu melimpah tapi terhambat masalah finansial.
  4. Partner jalan-jalan kali ini. Iya. Bagi yang udah sering membaca blog ini, pasti nyadar kan betapa penting rekan perjalanan itu dibandingkan destinasi wisatanya? :) Ya, intinya sih partner kali ini "orang penting" makanya aku langsung mengiyakan permintaan beliau untuk jadi guide di trip-berdua-doang ini hahaha.

Please take a deep breath, guys, cause the story is about to start...


The highlight of the story: BUNAKEN!



Rabu, 11 November 2015
Bang Andre yang telah duluan memulai perjalanan KNO-CGK (yap, doi bekerja di Kisaran, Sumatera Utara) sudah duduk manis menungguku di Terminal 1C Bandar Udara Soekarno Hatta. Kami, atau "aku" lebih tepatnya hahaha, memutuskan untuk menggunakan Batik Air meskipun ada maskapai lain yang lebih murah, ehm... kawan-kawan tentu tau maskapai yang mana. Tapi karena sejarah delay maskapai tersebut, kami mengkihlaskan beberapa ratus ribu dan memilih penerbangan pukul 14.30 WIB ini.

Ah ya, satu lagi hal berkesan yang perlu ditambahkan dalam list di atas tadi: ini flight pertamaku tidak duduk di samping jendela! Hahaha. Karena tamu terhormatku (baca: Bang Andre) itu meminta duduk di samping jendela, aku pun berbesar hati menempati kursi tengah yang notabene kursi paling kuhindari setiap kali terbang. *lirik sinis ke Bang Andre*

Pukul 19.30 WITA. Welcome to the capital city of North Sulawesi! Kami dijemput oleh pamanku yang sebenarnya tinggal di desaku, Poigar, 2 jam dari Manado, tapi bela-belain ninggalin rumahnya demi menyambut keponakan kesayangannya ini hihihi. Beliau sudah menunggu setengah jam karena pesawat kami mengalami beberapa gangguan yang menyebabkan keterlambatan arrival.


First of all, let me thank my uncle: Oscar Robot, for being our private guide during this trip. Me love you, Unc!

Sudah puluhan teman yang menanyaiku: "Jadi Bang Andre udah dikenalin ke si mama nih, Lin?" sejak tahu trip kami ini. Nah, sekarang aku akan menekankan lagi: they never meet each other. Hahaha. Saat aku tengah menikmati koleksi lagu MLTR di mobilku ini, mamaku mungkin juga tengah bersantai di penginapannya di Purwokerto. Ya, beliau tengah menjalani tugas dinas luar kota ke Jawa Tengah. Maybe next time bisa dipertemukan deh :)

Hari pertama Bang Andre di Manado, aku langsung mengenalkannya dengan salah satu kuliner favoritku di kota kelahiran ini: Soto Rusuk Ba' Ko' Petrus. Ini adalah menu daging babi disajikan dengan kuah soto gurih, yang rasanya selalu bikin aku kangen. Meskipun Abang adalah orang Batak yang sama-sama memiliki sajian khas daging babi, toh olahan daging di Manado berbeda rasanya. Ini yang tidak bisa kutemukan saat ke lapo (rumah makan khas Batak.red) di Jakarta. Well, satu nomor dari to-do-list kami pun selesai!


Kamis, 12 November 2015
Konon, belumlah afdhol mengunjungi Manado kalo tidak sekalian menyambangi Kota Tomohon yang lokasinya sekitar 2 jam bermobil dari ibu kota Sulut ini. Jadi kesini lah aku menyeret Bang Andre hari Kamis ini. Langit Manado hari ini biru cerah dilapisi gumpalan-gumpalan awan putih. Di beberapa lokasi, awan mendung juga jelas terlihat, nampaknya tengah hari nanti hujan akan turun.

Jam 9 pagi kami tiba di kawasan Citraland untuk melihat Monumen Yesus Memberkati, sebuah monumen Yesus Kristus dengan posisi terbang/melayang untuk memberkati kota Manado yang juga melambangkan kerukunan antar umat beragama di kota Nyiur Melambai ini. Tinggi monumen mencapai 50 m dari permukaan tanah, dengan rincian tinggi patung 30 meter dan penopang bajanya 20 meter. Dengan ketinggian tersebut, monumen kebanggaan Manado ini sukses menjadi patung Yesus tertinggi kedua di dunia setelah Jesus The Redeemer, Rio de Janeiro, Brazil.



Destinasi selanjutnya adalah Bukit Doa Mahawu di Kota Tomohon. Pertama dan satu-satunya pengalamanku kesini adalah ketika kegiatan ibadah dari sekolahku, SMP Kr. Eben Haezar 01, sehingga aku belum benar-benar menyadari keindahan lokasi ini. Belakangan aku baru sadar bahwa Bukit yang juga disebut "Bukit Kelong" ini jadi destinasi favorit wisatawan karena bentuknya yang berbukit-bukit layaknya Bukit Teletubbies. Lokasi ini sebenarnya ditujukan untuk wisata religi bagi umat Kristen; ada bangunan kapel, amphiteater, diorama Jalan Salib yang menyajikan 14 kisah penyaliban Yesus, Gua Maria, serta bangunan utama berupa penginapan dan aula untuk melaksanakan kegiatan ibadah. Per November 2015 ini, karcis masuk ke Bukit Doa adalah Rp10.000,- dan akan digunakan untuk perawatan dan pemeliharaan.






Melihat awan mendung mulai datang mendekat, kami pun bergegas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah tempat wisata favoritku jika sedang berada di Tomohon: Danau Linow. Fitur menarik lokasi ini adalah kemampuannya berubah warna ketika terkena sinar matahari langsung: coklat susu, biru, hijau, disebabkan oleh kadar belerang yang dikandung danau ini. Pokoknya setiap sudut lokasi akan bagus dijadikan latar berfoto! Hahaha. HTM Danau Linow sebesar Rp25.000,- (free welcome drink teh/kopi) cukup mahal memang, tapi worth it kok untuk menikmati suasana tenang dan damai.

Di siang hari warnanya hijau tosca, di sore hari warnanya berubah jadi biru. Cool!





Berhubung hujan kini telah turun cukup deras, kami pun mengaso sejenak di sini. Hari Kamis ini pengunjung kafe tidak seramai saat weekend, hanya ada tiga rombongan wisatawan dan dua orang pasangan bule yang serius berkutat dengan laptopnya. Kerja mungkin ya. Duh, enaknya kerja sambil memandang danau, ditemani nikmatnya pisang goreng...




Ngomong-ngomong soal pisang goreng, readers pasti tahu kan bahwa sajian pisang goreng di Manado terbilang unik karena dimakan dengan cara dicocol sambal? Hehehe. Pisang favoritku adalah pisang kepok dipotong pipih membentuk kipas, lalu digoreng dengan minyak panas sampai menjadi crispy nan gurih. Pisang ini kemudian dimakan dengan sambal, bisa sambal roa ataupun rica-rica (cabe + tomat) biasa. Nah, readers, paduan kenikmatan berpadu panasnya pisang dan pedasnya sambel itu berpadu jadi satu sampe-sampe kita 'dipaksa' untuk fokus makan dan konsentrasi pada kelezatannya! Nggak percaya? Monggo dijajal! :)

Begitu hujan menampakkan tanda-tanda mulai berhenti, kami langsung melanjutkan lagi perjalanan wisata Tomohon. Menjelang jam 3 sore kami tiba di perhentian selanjutnya, Bukit Kasih Kanonang. Apa bedanya dengan Bukit Doa sebelumnya? Kalau Bukit Doa tadi terkenal dengan hijaunya bukit ala Bukit Teletubbies, yang satu ini malah gersang kecokelatan karena aktivitas belerang yang dikandungnya. Cokelat-putih, ding. Dari kejauhan sudah bisa terlihat asap sulfur mengepul keluar dari tanah. Waaaahh, berpadu dengan cuaca sendu pasca-hujan, pemandangan ini romantis banget, readers!





"Romantis" hanya untuk dipandang mata doang, guys, tidak untuk dijajal. Hahaha. Anyway, nama Bukit Kasih diberikan sebagai simbol kasih persaudaraan antar-pemeluk agama yang tinggal di Sulut ini. Di bagian puncak bukit, kita akan menemukan gereja, masjid, kuil, dan pura melambangkan keharmonisan hidup antarumat beragama. Tidak berhenti di sana, karena ada lagi puncak lain dimana kita bisa melihat dari dekat salib setinggi 50 meter yang dapat terlihat dari kawasan Boulevard, Manado saat langit sedang cerah. Selain belerang, salib, dan rumah ibadah, Bukit Kasih ini juga menyajikan sekilas sejarah suku Minahasa, suku terbesar di Sulawesi Utara, dengan menampilkan beberapa diorama patung Toar dan Lumimuut yang diyakini sebagai nenek moyang Tou (orang) Minahasa. Penasaran? Baca ceritanya disini ya.  

Perjuangan mendaki anak-anak tangga ini... ah, susah dikatakan, guys. Kalau matahari bersinar terik, sepertinya aku bisa meleleh saking banyaknya keringat bercucuran sepanjang pendakian. Bagi readers yang nggak kuat nanjak, disarankan untuk pikir-pikir lagi jika ingin menuju puncak kedua. Jalurnya cukup melelahkan, ditambah dengan spot salib yang pasti mengecewakan bagi kita yang sudah susah-susah berjuang mendaki. Iya, lokasinya kotor dan kurang terawat, banyak nyamuk pula! Tapi thanks to Bang Andre sih, tekad mendakiku tetap membara dan bisa membakar sekian kilo kalori dalam sekali perjalanan naik-turun Bukit Kasih. :p



Kami kelaparan, guys! Pisang goreng siang tadi di Danau Linow sudah terbakar habis dalam perjuangan di Bukit Kasih, jadi sekarang perut meronta-ronta minta diisi. Hahaha. Karena hari pertama Bang Andre sudah kujejali daging, hari ini kami ingin mencicipi kelezatan seafood Manado. Berdasarkan rekomendasi si emak (yang sedang sibuk di Purwokerto), kami singgah di restoran seafood spesialis ikan mas dan mujair. Terlihat sederhana ya, hanya nasi, sayur kangkung, nasi putih, dan dua jenis sambel. Tapi kelezatannya nggak usah ditanya lagi; aku bahkan sanggup menghabiskan setengah porsi saking nikmatnya bumbu sayur kangkung khas Manado itu. 




Sepanjang perjalanan pulang ke kota Manado, hujan kembali turun cukup deras. Alhasil meski melewati deretan Rumah Panggung Adat Minahasa di Woloan, Tomohon, kami tidak bisa berhenti untuk foto-foto. Semoga hari esok sama menyenangkannya juga ya! :)


Jumat, 13 November 2015
Taman Nasional Bawah Laut Bunaken! Ah, tidak perlu lah berlama-lama lagi menjelaskan spesifikasi tempat wisata satu ini ya, lagipula menggambarkan keindahannya tidak akan cukup dengan kata-kata saja. Harus dicicipi langsung, readers!

Berkat koneksi dari pamanku yang lain lagi, kami sukses menyewa boat ukuran besar untuk penyeberangan Manado-Bunaken sekaligus mengantar snorkelling di sana dengan harga satu juta rupiah. Harga yang masih lumayan berat, mengingat rombongan kami hanya beranggotakan aku, Abang, dan seorang sepupuku, Kak Benny. Perjalanan menyeberang ke pulau tetangga ini kami tempuh dalam 30 menit saja.




Boat driver pun langsung mengantar kami menyewa perlengkapan snorkelling mengingat waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi. Waktu terbaik untuk snorkelling memang sebelum jam 11 siang, sebelum matahari bersinar terik dan arus laut mulai berubah. Snorkelling suit = Rp150.000,- + underwater camera with the photographer = Rp350.000,- dan lima bungkus biskuit untuk fish feeding seharga Rp5.000,- per piece. Karena kami sudah punya guide sendiri yaitu dua orang awak kapal dari Manado tadi, kami tidak perlu lagi membayar jasa guide, cukup membayari kostum snorkelling untuk keduanya. Total pengeluaran kami di Bunaken ini ternyata mencapai Rp2.125.000,-! What a spending, ya :')





Kebanyakan foto Abang nih, hiks. Orangnya entah kenapa kok photogenic di dalam laut.

Bisa dilihat dari foto-foto ini ya, readers, kebahagiaan kami menikmati keindahan Bunaken? :) Aku benar-benar menyesal karena begitu terlambat mengunjunginya. Seandainya sejak dulu aku sudah gila nge-trip dan tidak melewatkan tempat-tempat wisata Manado, pasti aku bisa melihat Bunaken yang jauh lebih indah karena belum seterkenal sekarang; belum banyak dicemari dan dirusak. 

Dua tips dariku sebelum mulai snorkelling Bunaken: 1) Beli biskuit sejenis Regal/Biskuat dari Manado saja, lumayan buat penghematan. 2) Bawa makan siang dari Manado, karena pilihan makan siang di Bunaken terbatas dan harganya lebih mahal *ya iyalah, Lin, menurut ngana*




Satu hal yang harus di-follow up dari kisah hari ini adalah keinginan Bang Andre untuk mencoba diving. Bunaken ini punya palung laut alias jurang yang menakjubkan, dan hanya bisa dinikmati dengan menyelam. Hmm, semoga bukan hanya "semoga" deh. :))

Selesai makan siang (dengan bekal yang dibungkus dari rumah) dan bersih-bersih, kami kembali ke Manado. Mobil melaju dari Pelabuhan Jengki di Pasar 45 menuju kawasan Wanea Samrat, tepatnya ke Grand Merciful Building untuk memborong oleh-oleh. Ini adalah pertama kalinya aku membeli oleh-oleh di Merciful Building, dan cukup kaget juga melihat koleksinya yang lengkap dengan harga yang pas di kantong. Recommended nih buat readers yang abis jalan-jalan di Manado dan ingin beli buah tangan sebelum pulang. Tempat lain yang biasa kukunjungi untuk mencari souvenir adalah deretan toko di Jl. BW Lapian, Tikala, serta FreshMart dan Golden Swalayan untuk kue-kue khas Manado.


Sabtu, 14 November 2015
Setelah menghambur-hamburkan dua juta rupiah di Bunaken kemarin, hari ini kami memutuskan untuk mencoret rencana jalan-jalan ke Pulau Lihaga, gugusan pulau lain di dekat Manado yang menawarkan pantai cantik berpasir putih dan aktivitas snorkelling.

"Nyebrang pulau dan snorkelling lagi? Nggak usah lah, Dek, toh masih lebih indah Bunaken..." begitu jawaban Bang Andre ketika kutawari rencana ini. Oke. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk pesiar ke Bitung melihat hewan Tarsius, serta menuju Gunung Tumpa. Yang terakhir disebutkan ini adalah ide dadakan dari Abang hasil googling "Tempat Wisata di Manado".

Kota Bitung dapat ditempuh dengan bermobil selama kurang lebih dua jam dari Kota Manado. Bertolak belakang dengan Tomohon, Bitung memiliki suhu udara yang panas seperti Manado, layaknya kota yang terletak di pesisir pantai. Kota Bitung kini semakin bersih dan terawat karena perkembangan industri yang begitu cepat ditambah dengan adanya pelabuhan laut yang mendorong pembangunan infrastruktur di kota ini.

Adalah Hutan Raya Tangkoko di Bitung yang 'menyimpan' salah satu satwa endemik Sulawesi Utara: Tarsius. Sayangnya, untuk melihat langsung tarsius di kediamannya dalam hutan hanya bisa dilakukan pada pagi hari jam tujuh dan sore hari jam empat. Karena waktu yang tidak memungkinkan, kami pun banting setir menuju kebun binatang mini yang juga memelihara tarsius, Taman Marga Satwa Tandurusa. Maaf ya aku tidak bisa men-share foto si tarsius, berhubung saat kami ke sana hewan ini tengah menggelantung di bagian atas kandang, jadi sulit untuk difoto hahaha.


Kelelawar., hewan yang dagingnya dikonsumsi oleh orang Manado. Menu ekstrim ini bernama "Paniki".




Selesai beramah-tamah dengan para penghuni kebun binatang, perjalanan pun dilanjutkan sesuai rencana yaitu mencari Gunung Tumpa. Tapi aku, Om Oscar, maupun si Google Maps, sama-sama tidak tahu dimana letak Gunung Tumpa ini. Lokasi ini bahkan hampir tidak pernah disebutkan orang jika tengah membahas "tempat wisata di Manado". Kami pun berputar-putar tanpa hasil selama 1-2 jam sebelum akhirnya menyerah.

Om Oscar then came up with another idea: menyambangi Grand Luley Resort, suatu resort bintang lima yang berlokasi di Wori, Tongkaina dengan pemandangan Pulau Bunaken di kejauhan. Aku memang belum pernah melihat tempat ini dan hanya mendengarkan saja pembicaraan antusias Mama saat membicarakan rencana liburan di Manado. Lokasinya memang terpencil, jauh dari keramaian kota. Ah, jadi tidak sabar merencanakan liburan selanjutnya dengan akomodasi di hotel ini...




Malam ini... malam minggu! Yeay! Setelah kemarin malam sudah having dinner dan nonton Spectre di Mantos XXI, kali ini kami menuntaskan janji temu kangen dengan Bang Larry Lontoh, sesama almamater STAN dan rekan seperjuangan di IL Cantante Choir. Bang Larry ini asli orang Manado namun bekerja di Kotamobagu. Tidak terasa dua jam sudah berlalu untuk catch up hal-hal dan informasi terbaru tentang kehidupan masing-masing, serta nostalgia kisah lama semasa kuliah dulu.



Minggu, 15 November 2015
Saatnya kembali ke pelukan ibukota, bagiku, dan tanah kelahiran, bagi Bang Andre. Dengan mempertimbangkan perjalanan CGK-KNO yang masih harus ditempuh si abang, kami memutuskan untuk naik Batik Air (lagi) pukul 07.50 WITA sehingga bisa tiba di Jakarta sekitar jam 10 pagi.

Ah, tidak terasa 5 hari sudah kami nge-trip bersama. Sudah banyak keseruan dan kebahagiaan yang dikoleksi sepanjang 4 hari perjalanan keliling Manado dan sekitarnya ini. Aku jadi teringat waktu Abang pertama kali mencetuskan untuk nge-trip bulan November, aku sempat khawatir dan hampir menolak. Alasannya, curah hujan di bulan November sudah cukup tinggi, dan aku yakin bahwa langit Manado tidak akan sebiru dan seindah biasanya. Kekhawatiranku ini juga ditambah dengan bayangan ribuan telur ubur-ubur yang bertebaran di sepanjang pantai Belitung, hiiii~ *goosebumps!* Puji Tuhan, Bang Andre langsung meng-counter jawabanku dengan: "Yaudah sih, Dek, kan yang mau dinikmati bukan langit birunya, tapi bawah lautnya Bunaken itu." :)




Bukan hanya itu, readers, ketika terdengar berita bahwa Gunung Lokon mengalami kebakaran saat musim kemarau (beberapa hari setelah adanya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan), aku langsung berniat membatalkan rencana. Lagi-lagi, Abang berhasil menenangkanku. Dan akhirnya terbukti... trip berjalan superlancar dan sukses me-recharge semangat untuk kerja lagi! YEAH!

Terima kasih, Manado dan sekitarnya, untuk keindahan alammu yang begitu luar biasa. Yang selalu bisa kubanggakan sebagai kota kelahiran. Yang tidak pernah mengecewakan di saat aku rindu mereguk keindahan panoramamu. Terima kasih, Bang Andre Hartama Tampubolon, yang sudah memasrahkan diri untuk jadi peserta private tour-ku, ikhlas dengan semua keputusanku, mulai dari destinasi wisata hingga makanan, siap bahkan sering inisiatif sendiri untuk jadi model foto-fotoku, semuanya deh. Semoga perjalanan kali ini bukan yang pertama sekaligus terakhir yah, hehehe.

View Sulawesi Utara dari Jembatan Soekarno yang baru selesai dibangun Tahun 2015 ini
Thank you for keeping up with me, readers. Maaf ya kalo banyak cerita yang jatuhnya jadi "late post", mood untuk menulis memang naik-turun banget meskipun kaki tidak pernah lelah melangkah. Mohon doanya ya agar 2016 ini aku lebih 'subur' dan rajin menulis. Jangan lupa kabarin aku kalo siap nge-trip bareng! *insert wink emoticon* ;)

0 testimonial:

Post a Comment