May 27, 2017

Imigrasi, Jodoh, dan Lift - Russia Trip Pt. 1

Rusia memang penuh kejutan. Baru hari pertama, kami langsung merasakan berbagai emosi ups and downs: naik pas menghadapi petugas imigrasi, turun saat ber-'jodoh' dengan Mas Wawan, trus kembali dibikin naik oleh gedung dan lift apartemen, hingga akhirnya turun lagi setelah melihat cantiknya flat kami di Moskow. Life is always full of surprise, isn't it?


I can probably write my own book about this country

Nah, mari kita mulai!

Seakan belum puas reuni dengan mantan (travelmate) satu ini, aku kembali 'menggandeng' Bang Adi untuk jelajah Rusia. Eh... Lebih cocok disebut, "nemplok ke Bang Adi" sebenarnya, hahaha. Lalu agar trip dijauhkan dari godaan setan *uwopo* kami juga ditemani seorang traveler kinyis-kinyis yang kerap mengaku newbie, namanya Novrani Sitohang. Tak beda jauh denganku, Vani yang dulunya sekantor dengan Bang Adi juga sering mewanti-wanti, "Bang Adi, next trip aku mau diajak dong!" hingga akhirnya diwujudkan pertengahan tahun ini. Bukan hanya Vani yang merasa sukacita karena akhirnya turut serta di "Supriadi Tours & Travel", aku pun girang bukan kepalang saat tahu doski seorang Fuji user. Yihaay! Sesi foto-foto makin terselamatkan oleh newly bought fixed lens milik Bang Adi. Aku nge-cup posisi sebagai model aja ah, titik. (Model Trubus.)

Duo Kinyis-Kinyis

Satu bulan dari tanggal keberangkatan kami bertiga sudah sibuk berkemas, menyiapkan segala peralatan tempur untuk bertahan hidup 8 hari di Rusia. Apa saja itu?

Visa
Dengan merelakan seperempat gaji untuk biaya visa, aku dan Bang Adi selesai mengurus visa Rusia hanya dalam 3 hari kerja. Vani, yang kala itu tidak buru-buru memerlukan paspor, hanya membayar separuh biaya kami (Rp980 ribu) untuk proses pengurusan 14 hari kerja. Untuk informasi lebih lengkap tentang visa Rusia, baca di blogpost-ku yang berikut ini yah.


Konsumsi
Bang Adi belajar banyak dari pengalamannya sewaktu Tur Eropa (Prancis, Venice, dlsb) yang sampe bosan bahkan muak melihat roti di meja makan. Tahu gimana menderitanya jauh dari nasi dan makanan berbumbu, beliau pun memberi ide agar kami membawa bekal berupa mie instan dan "Chef Cuisine" dari Indonesia. Yang terakhir ini memang masih asing terdengar, tapi rasanya... beuh! Lezatos. Opor ayam adalah rasa Chef Cuisine favoritku. Trik "bawa bekal" ini sukses menghemat sekian ratus ribu rupiah untuk sarapan + makan malam 3 hari di Moskow.

Ransum perang!

Outfit
Selain memantau dari weather forecast, Bang Adi juga mendapat info dari beberapa kawan bahwa suhu Moskow bulan Mei masih berada di kisaran 5℃. Bulan April lalu bahkan sempat turun salju tebal. Waduuuh, apalagi St. Petersburg nih yang notabene kota di tengah perairan, pastilah lebih dingin lagi. Mendengar info ini, kami pun menguatkan tekad dan janjian untuk mengubek-ubek Mall Ambassador dan Lotte Shopping Avenue di Kuningan, mencari baju tebal dengan harga terjangkau. Sayangnya, baju penghangat yang sesuai keinginan itu belum berhasil diboyong. Bang Adi dan aku malah baru membeli jaket di Moskow, ya lumayan lah buat kenang-kenangan.

Personal stuffs
Maksudnya, buat yang sering kembung tiap kena angin malam, bawalah jamu tradisional Tolak Angin dan segala vitamin penambah daya tahan tubuh. Dua benda ini mujarab banget lho, sampe-sampe seorang Erlinel bisa bertahan kena serbuan hujan salju! Eits, tentunya dipondasi dulu dengan saat teduh tiap bangun tidur, mengawali hari dengan doa syukur kepada Yang Maha Kuasa. 
Personal stuffs juga berarti hal-hal yang essential, yang penting buwanget buat kalian. Buat Vani, "benda" ini adalah memory cards dalam jumlah banyak. Doski suka banget merekam video untuk materi vlog nanti. Kalau Bang Adi, "benda" itu adalah buku Lonely Planet - Russia Edition. Selain ngasih informasi melimpah, buku tebal nan berat ini berkali-kali jadi properti foto beliau, hahaha. Untukku? Masker! Dasar anak pantai yang kurang akrab sama temperatur di bawah 24℃, aku butuh banget masker untuk mencegah Rhinovirus menyerang hidung.

"Personal stuff"


DAY 0. MAY 5. JAKARTA-KUALA LUMPUR-HANOI.
Dengan diiringi doa restu dari orang tua masing-masing, berangkatlah kami bertiga dengan Malaysia Airlines MH-716 pukul 12.15 WIB ke Kuala Lumpur, kota 'kesayangan' para pemburu tiket promo. Ternyata menurut rekam jejak perjalananku disini, KL sudah 15 kali aku singgahi sebagai tempat transit, huahaha. #infopenting

Aku sebenarnya rada cemas menggunakan maskapai satu ini, Readers. Tahu lah ya pengalaman sangat-burukku dengannya? Dia yang membawa kabur Rp14 juta-ku, kini harus kuhadapi lagi *aelah lebay bet* Ditambah ada kabar buruk dari Bang Jona dan Kak Yola (travelmates semasa di Seoul) bahwa mereka dibikin delay tak jelas selama 12 jam lebih oleh MAS! Duh. Gimana hati nggak berhenti memanjatkan doa, coba?

Puji Tuhan, segalanya berjalan mulus -- walau tidak semulus paha Taeyeon SNSD. Tetap ada delay sekian puluh menit di CGK. Lalu ketakjelasan pick-up driver kami dari Dragon Airport Hotel Hanoi. Oh iya, kenapa pakai acara transit di Hanoi, karena kami menggunakan maskapai Vietnam Airlines untuk menuju Moskow.


Pesawat Vietnam Airlines untuk KUL-HAN, layar tivinya satu untuk bersama

Dua hal menarik yang kucatat dari Vietnam adalah: 

1) Penduduknya tidak sehangat negara-negara tetangga (Kamboja/Thailand). Bahkan para penjual jasa (e.g. staf hotel dan sales di kios-kios bandara) kudapati tidak begitu helpful, kurang punya jiwa "pelayanan". Jadinya aku sekalian pemanasan sebelum menghadapi orang Rusia. Ini hanya pandangan personalku, readers, jangan sampai memengaruhi keputusan kalian untuk ngetrip ke Ha Long Bay ya.

2) Body/bag scanning-nya pakai acara lepas sepatu segala. Seketika ku berharap tengah memakai sandal jepit, biar nggak perlu ribet-ribet lepas dan pakai sepatu bot ini segala. Hmm. Scanner-nya juga jenis yang teranyar itu, readers, yang musti nunjukkin ketek, dan bisa memindai hingga ke dalam organ tubuh.


Siap duduk anteng 10 jam dalam pesawat, hoosshh!



DAY 1. MAY 6. HANOI-MOSKOW
Hidangan dan in-flight entertainment punya Vietnam Airlines patut diacungi jempol. Perjalanan terasa menyenangkan berkat servis menyeluruh. Untuk penerbangan 10 jam makanan disajikan dua kali, biasanya satu makan berat dan satu lagi lebih ringan. Kalau nanya Bang Adi apa yang difavoritkan dari hidangan Vietnam Airlines, pasti akan dijawab "suguhan wine, bir, dan vodka". Hahaha. Ketiga minuman itu memang bisa kita dapatkan dengan mudah. Bahkan setelah makan, pramugara/i keliling pesawat menawarkan sebotol wine di tangan, barangkali ada yang ingin menyesap wine lagi sebagai dessert.

Ada yang kangen bir Vietnam
Noodle with... chicken? Fish? Ah, aku lupa

Dulu pernah ada kenalan yang bercerita tentang pramugari Vietnam Airlines. Katanya sih kurang ramah tapi kami justru menemukan yang sebaliknya di penerbangan Hanoi-Moskow. Nampaknya karena penumpang untuk flight ini didominasi orang Rusia atau turis yang pulang dari Vietnam, jadi para awak kapal lebih menjaga sikap. Soalnya pada penerbangan Moskow ke Hanoi-lah aku baru merasakan apa yang dimaksud dengan "kurang ramah".

Sebagai pemilik hobi tidur aku tidak punya keluhan berarti untuk long haul flight. Yang penting dapet kursi dekat jendela dan bantal leher, aku bisa tidur nyenyak hingga waktu makan nanti.  Penerbangan Hanoi-Moskow selama 10 jam tak terasa sudah selesai.

Berasa artis ya, tidur pun dipotret

Meskipun arah jarum jam mulai mengarah Pukul 16.30 (GMT+3), langit terlihat cukup kelabu. Warna biru hanya nampak di beberapa tempat, seakan bersembunyi malu di balik awan tebal. Struktur kota Moskow sendiri terlihat begitu asing di bawah sana. Hal pertama yang terlintas di pikiranku: "Bisakah aku bertahan di sini tanpa jaket bulu angsa?"

Penumpang menderas turun ke bagian pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Domodedovo, Moskow. Disinilah berlangsung bagian ter-melelahkan dalam post ini: antrian luar biasa kacau telah terbentuk di depan kami. Bukan masalah antriannya sih, readers, tapi... amburadulnya itu! Nggak jelas ada berapa barisan dan deretan yang terbentuk, yang aku tahu manusia 'terserak' dimana-mana. Makin menambah kekesalan yaitu manusia-manusia ini tidak tahu gimana etika mengantri-saat-membawa-koper.

Satu jam lebih kami mengantri tak jelas, di barisan tak jelas, yang dilayani oleh counter imigrasi yang sama tak jelasnya. Ini baru namanya mimpi buruk, readers. Syukurlah di sisiku ada Bang Adi dan Vani, tak terbayang kalau kami sampai (tidak sengaja) terpencar. Huaaa bisa mati gaya!

Immigration counters Bandara Domodedovo terbagi dalam beberapa area. Kami kurang beruntung mengantri di area yang paling terpojok, sehingga tak tahu bahwa banyak counter yang sudah mulai kosong. Untunglah ada staf imigrasi perempuan yang tergerak untuk mengomando kami pindah area. Tak membuang waktu lagi, kami menyerbu counters yang sepi di area seberang. 20 menit kemudian aku maju menyodorkan paspor hijau kesayangan untuk diperiksa. Berbeda dengan Bang Adi yang sempat ditanyai ini-itu, pemeriksaan paspor dan visaku tidak pakai acara interviu dadakan.

Ternyata yang membuat lama pelayanan imigrasi adalah mereka harus memeriksa visa secara manual: dilihat, diraba, diteliti pakai kaca pembesar. Ya ampun. Kirain sudah terdigitalisasi dengan bantuan dari barcode reader atau sinar ultraviolet. Ckckck. Kotak kerja (kubikel) mereka pun masih sangat... antik(?) Tertutup rapat di keempat sisi dengan hanya dibekali kipas angin mini di atas meja, dua orang petugas berbagi kotak yang sudah bisa terbayang gimana gerahnya. Apa yang terjadi jika kedua petugas dalam kubikel ini adalah wanita? Ya nggosip. Kita deh yang dirugikan, harus menunggu mereka selesai bercuap-cuap sebelum akhirnya memberi stempel dua kali di lembaran paspor. Finally! Setelah DUA JAM berdiri!


Namun, seperti kata Pengkhotbah 3:11, segala sesuatu dirancang Tuhan indah pada waktunya. Kalau saja antrian imigrasi tidak amburadul, 
kalau saja orang-orang hanya membawa kantung plastik instead of koper, 
kalau saja Mbak Staf Imigrasi tidak mengarahkan kami pindah counter
kalau saja visa hanya diperiksa dengan barcode scanner, dan 
kalau saja petugas imigrasi bandara DME profesional dan berdedikasi...

mungkin kami tidak akan bertemu si Penolong saat itu. Mungkin ketemu, tapi tidak pada jam, menit, detik yang sama dimana aku dan dua travelmates itu kelimpungan mencari loket money changer.


Betul, orangnya yang paling kanan

Orang yang dikirim Tuhan untuk menolong kami itu bernama Mas Wawan Kusuma, lelaki kelahiran Depok-Jawa Barat yang tengah menuntut ilmu S2 di salah satu universitas Pemerintah Rusia. Ngakunya sih males kalo udah mendeteksi wajah orang Indonesia di Rusia, toh dia juga yang duluan menyapa: "Indo?" (Bertanya, "Kalian dari Indonesia?")

Lucunya adalah, reaksi pertama kami saat itu cuma menjawab dengan satu kata mengiyakan, senyum seadanya, lalu bergegas melanjutkan misi pencarian money changer. HUAHAHA. Berkali-kali momen ini diceritakan ulang antara kami, berkali-kali juga aku tertawa geli mengingat kebodohan itu. Puji Tuhan, masih ada satu orang waras diantara kami bertiga: Bang Adi, yang seketika memutar badan untuk berbalik arah dan bertanya, "Mas, kalau money changer di sini adanya dimana ya?"

Well. Begitulah awal mula persaudaraan ini *azeg udah bisa ngaku-ngaku saudara* Mas Wawan dengan begitu baik hati menanggapi setiap pertanyaan. Dia menjelaskan letak money changer (di ujung satunya Gate Arrival), memberi tahu operator SIMcard terbaik (Beeline, bukan Megafon seperti anggapan awal kami), hingga menawarkan diri untuk mengantarkan ke apartemen di daerah Belorusskaya. Padahal waktu itu, Mas Wawan semata datang ke bandara untuk menemani seorang kawan menjemput logistik perbekalan dari Vietnam. Entah mimpi apa dia semalam ya bisa ketemu tiga artis terkenal dari Jakarta *kibas poni*

Setelah logistik yang dinanti-nanti keluar dari bagian pemeriksaan dengan selamat, Mas Wawan menuntun kami ke arah bus shuttle. Bus-bus besar sejenis Damri ini melayani rute Bandara - Stasiun Metro Domodedovskaya (Домодедовская). Parkirnya cukup jauh dari pintu keluar Arrival Gate, tapi troli bisa didorong hingga ke area ini, jadi jangan tergoda tawaran porter untuk mengangkut barang-barangmu. Cukup diingat saja untuk mengembalikan troli ke tempatnya (trolley parking) agar tidak mengganggu lalu-lalang di kawasan ini. Kami hanya membayar 240 ruble (selanjutnya disingkat "RUB") untuk karcis 3 orang + bagasi, padahal seharusnya 100 RUB/orang, the power of punya temen (baru) yang mahir Russian. Selanjutnya dari bus stop kami menggunakan tangga turun ke bawah tanah menuju metro station.

Sempet 'ditinggal', kami heboh foto-foto di peron

Ini peron atau studio foto sih cakep amat

Metro adalah jantung transportasi masyarakat Moskow serupa KRL bagi warga Jabodetabek. Penting banget bagi kita untuk punya kartu tap grondolan alias bukan beli per trip. Masalah harga sih jatohnya sama aja -- kecuali kartu yang bulanan ya, tapi ngapain juga backpacking sebulan ntar NIP tau-tau udah dicoret -- tapi lebih praktis aja pemakaiannya kayak e-money gitu. Aku, yang secara sepihak (halah) dilantik jadi bendahara, membeli kartu 20 kali tap seharga 720 RUB sesuai petunjuk Mas Wawan. Kepake banget nih kartunya sampe tak bersisa, bahkan sampai 2X lagi beli kartu yang sama.

Dibantu Mas Wawan untuk menghubungi agen flat
Setelah mengantarkan temannya -- Mas asal Vietnam yang juga baik banget, sempet ngingetin agar waspada menjaga dompet dan HP selama di dalam metro -- Mas Wawan menepati janji untuk mengantar kami ke apartemen yang telah disewa untuk 3 hari kedepan. Sempet-sempetnya juga ketemu pria mabuk di depan pintu masuk Belorusskaya (Белору́сская) St. ketika sedang menunggu dijemput agen apartemen. Aku sudah cemas saja si Bapak akan bertindak aneh-aneh... maklumlah, keburu punya pandangan skeptis terhadap 'peminum'. Nyatanya Mas Wawan anteng saja menanggapi dia yang berbicara berapi-api tentang Stalin. Waduh. Fans garis keras.

"GenopycckaR?"

Letak apartemen kami cuma 10 menit jalan kaki dari stasiun Belorusskaya. Hanya saja, malam yang kelam dan dingin yang mulai menusuk kini membuat beban di pundak terasa lebih berat. Ha! Halo udara dingin, halo musuh bebuyutanku, kita berjumpa lagi! Sejujurnya, aku langsung meradang begitu bersentuhan dengan si Musuh, tepat di detik pertama keluar stasiun. Rasa-rasanya pengen masuk ke dalam stasiun lagi sambil tereak gaduh, "Aku tak kuat, Mz!"

Singkat cerita, apartemen yang akan kami huni terletak di kawasan penuh gedung bertingkat yang cukup tua. Warna catnya sudah samar antara abu-abu, coklat, marun, atau memang sejak dulu hanya batu bata/semen polosan. Lampu pun sepertinya bukan kebutuhan utama warga disini, hanya ada sebuah bohlam bercahaya kuning lemah yang menggantung di kanopi pintu masuk gedung kami. Saat itu kami dikelilingi sejenis tempat parkir kosong namun didominasi bak sampah besar yang tak kalah 'antik' dengan bangunan ini. Readers pernah baca cerita misteri R. L. Stine? Kala itu aku betul-betul merasa tengah berada dalam salah satu setting ceritanya. Sepiii~ Gelaaap~

Tat-tit-tut-tat-biiiip! Pintu terdorong membuka setelah Bapak Agen memasukkan sederet kode pada number pad lock, satu-satunya tanda modernisasi di gedung tua ini. Masuk ke dalam, pemandangan bukannya membaik, justru semakin menegaskan khayalku bahwa kami sedang jadi karakter dalam novel misteri. Entrance area itu sempit saja dan ramai oleh kehadiran balok-balok kayu dan karung semen di bawah tangga. Ini belum sebegitu horor, Readers, tunggulah sampai kalian akhirnya masuk ke dalam lift...

Jika bisa membaca pikiran Bang Adi, aku yakin akan menemukan imajinasi yang 11-12 dengan ilusi R.L. Stine-ku. Raut wajahnya sudah jauh dari senyum sejak pertama kali melihat kondisi lift: kecil, sempit, tinggi, dan... tua. Kami berempat masuk bersesakkan di dalam lift. Sesaat timbul hasrat untuk meninggalkan saja segala ransel dan bagasi di luar lift agar tidak menambah beban. Pak Agen berlalu untuk menaiki tangga yang sama saja horornya.

"Sempit kali ya... bisanya ini naik?" Bang Adi mulai menyampaikan kekhawatirannya. Tiba-tiba lift menghentak dan bergerak naik ke lantai 8. Rasanya bukan cuma aku yang terkesiap kaget pada setiap hentakan lift. Ini lebih horor dari lift kantorku yang paling kiri, I guarantee you

Zziiing~ timbul bunyi khas menandakan lift berhenti bergerak. Angka 8 berkedip di layar. Oh, sudah sampai. JREG! Lift sekali menghentak, sama seperti ketika dia bergerak naik. Wajah-wajah kami bertiga mulai cemas, kok pintunya ndak mbuka-mbuka e? Haruskah kuambil linggis dan sekop seperti film-film superhero (yang mana lagi Liiin)?

JREEEG! Satu kali lagi hentakan lebih kencang, dan jantungku terasa berhenti berdetak. Bukan takut, readers, bukan. KAGET! Njir ini elevator atau pacar sih, kok suka ngasih surprise. Huft. Kami berempat pun keluar dari lift bersamaan dengan tibanya Pak Agen yang sepertinya sangat effortlessly menaiki tangga 7 lantai. Hmm, sebenarnya di tengah-tengah semua kehebohan ini, Mas Wawan sudah mencoba menenangkan, "Lift di Rusia rata-rata kayak gini, kok, jangan panik ya..." Tapi kuping sudah menuli sejak melihat gedung tua ini dari kejauhan, mau gimana lagi kan. Hahaha.


Flat-nya nyaman
Ternyata oh ternyataaaa... flat kami bagus banget! Ruangannya kecil saja seperti apartemen 1 BR (KT) pada umumnya, tapi karena kami baru saja melalui kecemasan dan kehororan, pemandangan flat apik ini langsung mengembalikan keceriaan. Kyaaa! Ku tak sabar ingin berbaring di kasur empuknya!

Masak aja bisa, apalagi makan... jago!

Apa daya tugas dan tanggung jawab sebagai wanita harus didahulukan; selagi ketiga lelaki menyelesaikan pelunasan sewa dan mendengar tutorial how to optimally use the flat's facilities, Vani dan aku mengolah mie instan serta Chef Cuisine di atas kompor listrik. Sekali lagi, Mas Wawan ambil andil mengajari kami cara memasang kompor maupun menyaring air dengan teko-filter. Thank you, Mas! Untuk melengkapi makanan, secangkir Milo panas diseduh untuk kami masing-masing. Waaaah, langsung lupa deh sama hawa dingin di luar gedung!

View diluar apartemen saat pagi hari

Yeayyy... Trims sudah membaca sejauh ini, Readers! ("Trims" banget?) Semoga kalian menikmati 6 paragraf deskriptif di atas tentang teror gedung dan lift apartemen kami, hahaha. Sudah lama nih aku nggak menulis deskripsi karena terlalu sering mengandalkan foto-foto. Kami nggak sempet lagi mengambil gambar dalam lift, udah keburu malez hahaha, tapi kayaknya ada yang lagi nyiapin proyek vlog Rusia nich *lirik Vani* 😎

Tunggu cerita hari kedua ya.

4 comments:

  1. прохладный

    ReplyDelete
  2. Setuju mostly org2 Vietnam gak helpful..
    Tapi akj waktu di bandara hanoi gak sampe scan lepas sepatu kok.. Lucu ya jadi nyeker gt dong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih enak main ke Thailand kan yaaa?
      Wah kok nggak adil dirimu nggak disuruh lepas sepatu :( bayangin dong udah kayak gimana bau kaki bertebaran di bandara itu hahaha

      Delete