May 22, 2017

Serba-Serbi Visa Schengen via Kedubes Jerman

Visa Schengen ini adalah visa yang, pada dasarnya, diperoleh dengan berbohong. Hahaha. Setidaknya dalam kasusku pribadi: dummy booking tiket pesawat dan penginapan benar-benar "palsu", alias tidak akan mungkin kupakai. Begitupun dengan susunan itinerary perjalanan, semuanya fiktif belaka. 

Hal ini normal dan wajar sih, tapi bagi aku yang beberapa kali apply visa dengan berkas-berkas yang "jujur", pengurusan visa Schengen terasa berat. Mungkin rasa bersalah ini jugalah yang akhirnya memengaruhiku untuk memilih Kedutaan Besar Jerman sebagai tempat apply visa Schengen. Setidaknya, aku berkata jujur saat bilang: "Jerman adalah negara pertama dan terlama yang akan dikunjungi dalam Euro Trip".

Visa Schengen (source: Pegipegi)

Keputusan memilih Kedubes Jerman ini juga didorong oleh Kang Fauzi Agustian a.k.a Oji, salah satu senior di kantor. Bukan sekadar "senior" malah, doi ini ruang kerjanya tempat berada sebelah kubikelku, otomatis dialah yang jadi narasumber utama untuk setiap masalah pervisaan Schengen.


So... tanpa berlama-lama lagi, akan kujelaskan bagaimana tahap-tahap apply visa Schengen di Kedubes Jerman.

1) Kunjungi situs resmi Kedubes Jerman yang telah memuat lengkap informasi mengenai aplikasi visa Schengen. Karena persyaratan visa Schengen oleh Kedubes Jerman bisa berubah dari waktu ke waktu, penting banget untuk selalu merujuk situs ini. Sharing info dari blog, seperti milikku ini, cukup dijadikan informasi tambahan saja.

2) Cek kembali paspor kalian. Jika paspor akan expire dalam 6 bulan lagi, jangan coba-coba apply visa. Kalaupun Kedubes meloloskan visa, kalian tetap akan tertahan di imigrasi bandara. Mending diperpanjang dulu ya.

3) Buatlah perjanjian temu (make an appointment) lewat situs resmi Kedubes Jerman. Konfirmasi janji temu ini akan dikirimkan ke alamat e-mail kalian. Pastikan surel (e-mail) ini beneran masuk ke inbox (tidak nyangkut di spam/junk) atau malah tidak kalian terima karena kesalahan input e-mail address. Surel itu harus dicetak dan diserahkan kepada petugas gerbang utama Kedubes Jerman saat hari appointment nanti.

4) Isi formulir permohonan secara elektronik. Bisa juga diisi dengan tulisan tangan, tapi rasanya kurang efisien ya. Keuntungan mengisi secara elektronik, kita dapat menyimpan data formulir yang telah diisi dalam format file XML. Jika nanti ada kekurangan data, kita tinggal mengunggah file XML tersebut dan melengkapi lagi formulir. Tidak perlu mengulang dari awal.

Bentuk formulir setelah selesai diisi dan diunduh

4.a) Perlu diingat bahwa di kolom "Inviting/Reference Person in the Member States", untuk tujuan Turis/Pariwisata cantumkan "Hotel" sebagai referensi. Selanjutnya isi nama, alamat, nomor telepon, hinggal alamat surel hotel kalian nanti. Jika memilih "No Reference Person" dipastikan tidak akan bisa mengisi pilihan "source of cost of travelling". Salah satu blog bahkan menyebutkan bahwa "No Reference Person" akan dianggap Kedubes sebagai tidak punya tujuan yang jelas di sana.

5) Bikin pasfoto berlatar putih atau abu-abu dengan ukuran 3.5x4.5. Kalau sudah punya soft-file silakan dicetak lagi dengan ketentuan porsi wajah 80% pada foto. Foto ini sangat tidak mempercantik diri dan tidak layak dipajang jadi profile picture WhatsApp. Aku terlihat sangat bundar, mengalahkan topi-saya-bundar. Mungkin beda halnya kalau Raisa yang difoto. Kemarin aku membuat foto visa Schengen di Adiwarna, Sabang yang sudah paham betul bagaimana kebutuhan pasfoto untuk berbagai visa. Harganya Rp60 ribu termasuk softcopy dalam CD dan cetakan 4 lembar foto. Ingat, latarnya harus polos, jangan bunga-bungaan... situ bukan Syahrini.

6)  Buat polis asuransi dengan minimum pertanggungan 30.000 euro. Pastikan masa berlaku dan cakupan wilayah sesuai dengan rencana perjalanan kalian. Saat Turkey Trip tahun lalu, aku menggunakan AIG Travel Insurance (kebetulan aku pemegang asuransi AIA) dengan cakupan wilayah Worldwide (karena aku transit di Malaysia dan Qatar sebelum tiba di Turki), masa berlaku 2 minggu, serta pertanggungan ... Harganya sekitar Rp200 ribu-an. Kali ini aku menggunakan polis asuransi AXA yang SmartTraveller. Sebenarnya asuransi ini dibelikan oleh Bang Adi saat apply visa Rusia bulan lalu, jadi aku kurang tahu persis bagaimana proses pembelian. Polis AXA SmartTraveller ini sudah diakui berbagai blog sebagai polis ternyaman, kalian cukup beli secara online dan voila, polis sudah masuk ke e-mail. Bang Adi membelikan polis Worldwide dengan masa berlaku satu tahun, insyaAllah dapat digunakan untuk visa-visa lain yang akan datang hihihi. Oh ya, selain melampirkan polis asuransi, kalian juga perlu menandatangani surat keterangan

7) Dummy booking untuk Tiket Pesawat. Pesanlah tiket beberapa jam sebelum appointment agar saat petugas Kedubes memeriksa kode booking pada berkas kalian, pesanan itu akan tercatat masih aktif.

8) Dummy booking untuk Penginapan. Situs Booking.com adalah koentji. Fitur "Pay later at the hotel" dan "Free cancellation"-nya adalah surga bagi traveler kere seperti kita (siapa, Lin?). Jangan lupa centang kedua opsi ini pada filter saat kalian mencari penginapan untuk membuat dummy booking. Tips penting: jangan cancel booking setelah kalian memenuhi appointment di Kedubes. Seorang temanku pernah mengalami penolakan visa gara-gara dia cancel booking hotel-hotelnya sebelum visa lolos.

9) Susun sendiri jadwal perjalanan di dalam wilayah Schengen. Umumnya jadwal perjalanan ini berisi tanggal, negara, penginapan, dan transportasi yang akan kalian gunakan selama ngetrip. Buatlah dalam bentuk Excel sederhana saja, tak perlu pakai segala formula IF, VLOOKUP, apalagi CONCATENATE.

10) Cetak rekening koran atau buku tabungan yang menunjukkan transaksi 3 bulan terakhir. Yang satu ini selalu jadi bahan pertanyaan: berapa minimum tabungan? Kalau mau yang pasti-pasti, jawabannya adalah "Rp50 juta". Bukan menjamin visa kalian pasti lolos, tapi setidaknya isi rekening tidak akan menjadi faktor kegagalan. Aku sendiri hanya mampu memenuhi setengah dari angka tadi. Maklumlah, hanya pegawai anak bawang. Tips penting: rajin-rajinlah cetak buku tabungan di teller agar tidak perlu meminta rekening koran secara khusus. Harganya mahal. Masa di bank-kesayangan-PNS-Indonesia kena charge Rp6 ribu per lembar, coba?

10.a) Lampirkan juga fotokopi kartu kredit VISA/MasterCard dengan nama kalian tertera di sana. Konon ini semacam pembuktian bahwa kondisi keuangan kalian dianggap kredibel oleh pihak bank, makanya bisa mempengaruhi Kedubes dalam keputusan pemberian visa.

11) Yang terakhir ini adalah yang paling mujarab: surat keterangan kerja dari perusahaan. Surat ini sudah terbukti sukses meloloskan aku dalam setiap aplikasi visa. Isi surat pada intinya menjamin bahwa kita tidak akan mencari kerja di negara tujuan dan bahwa pengeluaran selama perjalanan akan ditanggung oleh kita sendiri. Semacam bentuk jaminan dan kepercayaan gitu.

12) Bawa uang Rp1 juta untuk biaya permohonan visa. Setelah memastikan berkas-berkas sudah lengkap, staf Kedubes kemudian akan merekam data sidik jari kalian. Disini kalian sudah bisa bernapas lega, setidaknya telah lolos tahap "pemeriksaan dokumen". Biaya permohonan visa sebesar 60 euro dibayar dalam bentuk Rupiah dan disesuaikan dengan kurs seminggu itu. Aku sayangnya kena kurs tinggi, alhasil harus membayar Rp890 ribu.

***

Jangan liatin fotonya lama-lama plis~


Aplikasi visaku masuk hari Senin 22 Mei 2017, dan diambil hari Jumat. 26 Mei 2017. Hanya butuh waktu 3 hari kerja. Tidak berbeda jauh kan dengan Kedubes Prancis yang terkenal dengan kecepatan masa pengurusan visanya itu. "Plus" dari apply visa Schengen di Kedubes Jerman adalah: mereka tidak menggunakan jasa agen seperti Kedubes Belanda (agen VFS) dan Kedubes Prancis (agen TLS). Tapi ada "minus"-nya juga: mereka tidak royal memberikan masa berlaku visa. Aku hanya dapat untuk 1 bulan (permintaan 10 hari). Toh ini masih mending, dibandingkan visa Schengen temanku yang hanya diberikan sesuai permintaan jumlah hari. Gimana aku nggak ngiler liat "kebaikan" Kedubes Belanda yang ngasih teman-temanku masa berlaku 1 hingga 3 tahun!  Huft... mungkin next year yah, sekalian membawa si Emak pesiar ngeliat bunga tulip dan kincir angin. Mohon doanya, readers.

Makasih udah mampir!

2 comments:

  1. woo lebih murahh kedubes Jerman :D
    Mudah2an spring 2018 bisa bawa mama-mu ke Keukenhof yaa nag, jangan lupa cek websitenya buat liat tanggal buka Keukenhof 2018 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Nang! Makasih udah mampir yaaa :*

      Delete