June 12, 2017

Salju Bulan Mei - Russia Trip Pt. 3

Aku tak pernah bermimpi akan menemui salju perdanaku di Rusia, apalagi di awal bulan Mei yang umumnya merupakan musim semi. Selain "salju", hari ini kami juga akan bertemu sejumlah stasiun metro yang indah nan rupawan serta Masjid Katedral Moskow yang begitu megah dan populer.

Let it snow~
Anyway... Tahu nggak, readers, kalau nama "Moskow" ("Москва/Moskva" dalam bahasa Rusia) sebenarnya diambil dari nama sebuah sungai di Rusia bagian barat. Saat ditemukan pada tahun 1147,  kota yang berada tepat di pinggir Sungai Moskva ini telah disebut orang dengan nama "Moskov", tak beda jauh dengan cara penyebutannya sekarang ini. Moskva River memanjang 503 km dan selain Moskow juga mengaliri kota-kota seperti Mozhaysk, Zvenigorod, Zhukovsky, Bronnitsy, Voskresensk, dan Kolomna.


DAY 3. MONDAY, MAY 8. MOSCOW.
"Hujannya awet banget..."

Bang Adi mengawali hari ketiga di Moskow dengan lebih santai, tanpa grasak-grusuk membangunkan kami jam 6 pagi kayak hari sebelumnya. Mungkin karena doi sudah melihat hujan di luar yang tak kunjung berhenti sejak subuh, dan malah semakin betah nemplok di kasur.

Perubahan itinerary kembali terjadi hari Senin ini. Alih-alih kembali mencoba mengunjungi Red Square, kami putuskan untuk keliling stasiun-stasiun metro di Moskow (metro tour) dan masjid utama Moskow yang terletak di Olimpiysky Avenue. Hari ini juga spesial karena kami kedatangan bintang tamu! *berasa acara talkshow* Dia adalah... Mas Wawan! Hahaha. Dengan satu kalimat rayuan: "Mas, main bareng yuk hari ini :)" aku sukses menggaet tukang foto teman jalan sekaligus sang penunjuk arah terpercaya. Spasiba, Mas!


Hujan awet bikin temperatur makin mendingin. Aku butuh perlindungan Ushanka


Karena Mas Wawan masih sibuk dengan tesisnya hingga jam 12 siang nanti, pagi ini Bang Adi, Vani, dan aku akan keliling stasiun-stasiun metro sesuai dengan itinerary yang telah disusun Bang Adi sebelumnya. Hari Senin ini kami mengunjungi stasiun Belorusskaya, Mayakovskaya, Novoslobodskaya, dan Prospekt Mira. Demi klasifikasi cerita yang lebih rapi dan teratur, post tentang Moscow Metro Tour akan dipublikasi selanjutnya. Post-nya akan meliputi seluruh stasiun yang kami singgahi selama tiga hari traveling di Moskow. Hal ini juga bisa mempermudah readers yang ingin melakukan tur serupa, terutama saat menyusun itinerary. Harap bersabaaar 💁

Spoiler!
Latar belakang: Stasiun Komsomolskaya
*

Puas foto-foto di Stasiun Prospekt Mira, perut yang kelaparan menuntun kami untuk cari makan siang di sekitar stasiun sebelum berangkat menuju masjid Moskow. Angin dingin dan hujan yang lumayan deras menyambut kami begitu exit dari stasiun. Waduh, kok hujan malah menderas sih? Padahal kami sudah sesumbar tak mau membawa payung, antara mengimani bahwa hujan akan berhenti, atau tidak mau percaya pada ramalan cuaca (dan kata-kata Mas Wawan) tentang hujan awet hari ini.

"Biasanya kalau hujan lama kayak gini, ada kemungkinan turun salju juga lho," kata Mas Wawan di sela-sela perjalanan kami berlari-lari kecil mencari tempat makan. Akhirnya kami menemukan McDonald's dalam sebuah bangunan berkonsep mini-mall. Dari lantai dasar yang memiliki toko elektronik, kami naik ke lantai tiga tempat restoran-restoran berada. Ah, hangatnya gedung ini! Sejenak kami lupa dengan statement "mungkin turun salju" tadi.

McDonald's dekat Prospekt Mira St.

"Ini salju kan, Bang?" Vani memecah konsentrasi kami yang tengah mengobrol sambil makan burger. Dia menunjuk ke arah luar jendela, kepada tetes-tetes hujan yang jatuh ke kaca. Awalnya tetesan ini nampak seperti tetes air biasa. Lama-lama... terlihat mengkristal saat turun dari langit. Tidak mungkin! Tidak mungkiiin! Salju kan bentuknya kayak pasir-pasir es berwarna putih, ringan dan melayang di udara sebelum akhirnya jatuh ke tanah!

I... ini... apaaa?

"Iya, ini salju." Mas Wawan mengonfirmasi pertanyaan Vani hanya dalam tiga kata. AAAAAKKK! Aku ketemu salju!!! Readers, ini perasaan yang sangat berkecamuk. Sama kayak rasanya papasan dengan cowok idolamu semasa kuliah: deg-degan, pengen kabur karena malu, pengen tetap berdiri agar bisa menyapa/disapa sang pujaan, takut malah ngucapin hal bodoh seperti "Abang nikahi aku dong"... tapi juga bahagia karena bertemu dengan sesuatu yang begitu indah. Ketemu salju, rasanya persis seperti itu. Aku akhirnya bisa menyaksikan fenomena alam yang pada dasarnya adalah pembekuan air hujan setelah bertemu nukleator saat suhu udara di bawah 0℃. Bukan semata gambar dan ilustrasi dari buku teori Fisika dan Kimia, tapi nyata di depan mata! Thank you, Lord.

Pada beberapa kesempatan aku menceritakan salju Rusia (atau mem-publish foto di media sosial), ada yang bertanya apakah betul salju berbentuk seperti struktur kristal oktagonal (snowflakes) seperti di kartun-kartun. Jawabannya, tentu tidak. Struktur itu hanya bisa kita lihat jika meneliti salju di bawah mikroskop. Secara kasat mata, salju hanyalah butiran debu air.

Salju yang kami lihat hari itu adalah salju cair. Bayangkan ada orang menuangkan es serut (tanpa sirup dan blewah) dari atas gedung tinggi dalam jumlah yang banyak. Begitulah salju yang kami lihat: cepat mencair setelah bertemu permukaan datar, saling menempel (bukan seperti butiran pasir/bedak), dan terasa basah saat menyentuh kulit. Basically, kami mandi hujan.

Mandi hujan ini mah

Anehnya... salju ini justru hangat. Jangan membandingkan rasa terkena salju dengan rasa saat menyentuh es batu ya kawan. Dua hal ini berbeda akibat adanya konsep "temperatur efektif" yang dirasakan oleh tubuh manusia. Temperatur efektif dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara. Pada saat salju turun lebat, kelembapan udara justru naik, sehingga kita merasa hangat. Hal berbeda saat angin berhembus kencang, kami justru merasa dingin karena dua variabel lain (temperatur terukur dan kelembapan udara) sama tapi kecepatan pergerakan udara meningkat dan mempengaruhi temperatur efektif tadi.

Ya ampun, kemampuanku sebagai siswi jurusan IPA ternyata masih bersisa. Ku terharu.

Setelah merasakan hangatnya salju, kami dengan semangat melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya: Masjid Katedral Moskow. Ehem... padahal saat makan siang di McDonald's niat ini sempat mau dibatalkan karena keburu gelisah memandangi hujan deras di luar jendela. Hahaha.

Berfoto sejenak di halaman gereja tak jauh dari Olympic Stadium
*

Dimana lagi ada masjid di dunia yang dinamai "Katedral" kalau bukan di Moskow. Moscow Cathedral Mosque (Московская соборная мечеть) yang terletak tidak jauh dari Olympic Stadium  di tengah kota ini mampu menampung 10.000 jamaah. Tentu angka ini tidak ada apa-apanya dibanding Masjid Istiqlal yang berkapasitas 200.000 jamaah. Tapi sejarah berdirinya masjid yang diresmikan oleh Presiden Putin pada 23 September 2015 lalu ini tentunya tak kalah menarik.


Tampak luar masjid. Source: RBTH.com

Struktur asli bangunan masjid berdiri sejak 1904 namun dirubuhkan pada 2011, salah satu alasannya adalah masjid ini menyimpang beberapa derajat dari arah menghadap Mekkah. Selain mengoreksi arah, rekonstruksi juga menambah ukuran luas masjid 20 kali lipat menjadi 19.000 m² dari yang awalnya 980 m² saja.

Sayangnya nggak semua warga Islam mendukung pembangunan masjid ini. Biaya rekonstruksi 170 juta USD dianggap akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk membangun puluhan masjid kecil di pinggiran Moskow, daripada satu masjid besar di tengah kota. Untuk mencapai masjid dibutuhkan waktu 1,5 jam dari area pinggir kota Moskow.

Miniatur masjid, tampak depan dan belakang

Eksterior masjid terdiri dari perpaduan warna abu-abu sebagai dasar, dengan aksen aqua pada pintu, jendela, dan puncak kubah-kubah kecil. Kubahnya yang paling besar dilapisi 12 kilogram kertas emas yang membuatnya mudah dikenali jika dilihat dari jauh. Ke-4 menara masjid (minarets) memiliki tinggi 72 meter, sedangkan kubah utamanya berukuran tinggi 46 meter dari permukaan tanah dan 59 meter jika menghitung lambang bulan sabit di puncaknya. Sumber lain malah menyatakan bahwa tinggi minarets adalah 78 meter, menjadikan Masjid Katedral Moskow sebagai masjid paling tinggi di Eropa. Yang pasti, masjid ini adalah rumah ibadah Muslim terbesar kedua di Rusia setelah Masjid Salawat Yulayev di kota Ufa.

Tidak ada pungutan tiket, karcis, sumbangan, donasi... apapun itu, saat kita masuk ke Masjid Katedral. Hanya saja, penjagaan sangat ketat. Begitu masuk ke pos satpam, the only entrance door for visitors, tubuh maupun barang bawaan harus di-scan. Setelah diyakini 'bersih', tamu wanita yang tidak berpakaian tertutup akan diberikan mantel ke-besar-an ala mantel Master Yoda. Mas Wawan puas menertawakan penampilan Vani dan aku saat mencoba berjalan dalam mantel.

Wanita tak berhijab harus memakai mantel ala Master Yoda ini

Pintu masuk untuk wanita dan pria, tentunya, terpisah cukup jauh. Saat kami tiba, masjid sedang sepi turis. Hanya nampak beberapa jamaah yang datang untuk beribadah, kalau tidak salah sih sholat Dzuhur. Aku dan Vani benar-benar kebingungan, tidak punya arahan ataupun penuntun (Bang Adi kan ditemani Mas Wawan). Alhasil, kami hanya mengekor beberapa wanita berhijab yang sedang bersiap-siap sholat, seperti ikut-ikutan meletakkan sepatu, tas, dan jaket di loker yang telah disediakan. Umat Islam di Rusia didominasi oleh etnis Chechnya, Dagestan, Bashkiri, Tatan dan bangsa lainnya di sekitar Laut Kaspia. Menurutku pribadi, para wanitanya terlihat cantik dengan rambut dan alis gelap, mata mereka yang berwarna jadi mencolok setelah hijab dikenakan.

Wanita Muslim Rusia
(Loc: Kadashevskaya nab., Victory's Day)

Awalnya Vani malah ragu apakah bisa masuk ke dalam aula ibadah (prayer halls), khawatir kami mengusik jalannya sholat dan malah diusir keluar dari masjid. Meski sudah berpengalaman mengunjungi Blue Mosque di Istanbul (boleh-boleh saja tuh masuk ke area ibadah), aku jadi ikut-ikutan gentar untuk melangkah. Setelah 10-15 menit diskusi dalam bisikan (bahkan untuk bersuara aja kami takut lho hahaha), diputuskanlah untuk naik ke tingkat atas, mengikuti arah petunjuk bertuliskan "Museum". Ternyata bukan hanya kami yang mengalami kesulitan seperti ini. Mayoritas reviews yang kutemukan di TripAdvisor juga menyatakan bahwa satu kelemahan masjid adalah tidak ada petunjuk dalam Bahasa Inggris, bahkan di dalam museum. Jika beruntung, kita bisa mendapat guide 'dadakan' yaitu salah satu jamaah masjid yang mampu berbahasa Inggris (rare thing in Russia!) dan berbaik hati untuk show us around.

Masjid Katedral Moskow punya 6 tingkat lantai dilengkapi fasilitas elevator agar membantu kaum disabilitas. Tingkat 1 dan 2 ditempati oleh aula ibadah, area utama dalam masjid. Kami melewati beberapa pintu di tingkat 3, yang nampaknya berisi kantor dan ruang khusus untuk pengurus masjid, dan hanya masuk ke suatu pintu di tingkat 4 yang bertandakan "Museum". 

Hal pertama yang kami lihat begitu masuk ke dalam ruangan tingkat 4

Di tengah-tengah ruangan terdapat area yang bolong, dipagari teralis putih yang cantik. Dari sini kita bisa melihat ke arah ruang ibadah di lantai bawah. Sepenglihatanku, sih, hanya ada kaum lelaki di sana. Aula ibadahnya terlihat amat sangat indah berkat pencahayaan chandeliers dan lampu-lampu putih di sekeliling kubah. Kaligrafi emas dengan dasar hitam tampak terukir di berbagai penjuru; di tembok yang biru laut serta di kubah yang berwarna biru turkis.

Sedangkan di ruangan tingkat 4 ini, pria dan wanita dapat leluasa melihat-lihat sejumlah koleksi milik museum, diantaranya Al-Qur'an, lembaran surah, bendera/panji, bros, dan berbagai benda lain yang berkaitan erat dengan sejarah Islam di Rusia. Selain mengunjungi museum, beberapa orang juga terlihat khusuk di tepi/sudut ruangan dengan Qur'an dan tasbih di tangannya. Ah, teduh sekali.

Jarak lantai ke puncak kubah adalah 46 meter

Penampakan sisi dalam kubah masjid
Mihrab dan mimbar yang disumbangkan Turki 
Pengerjaan desain interior masjid dilakukan oleh seniman Turki, berdasarkan ornamen muslim Rusia namun tidak lepas dari gaya Ottoman. Hal ini tercermin dari ukiran kaligrafinya yang serupa dengan kaligrafi Blue Mosque. Chandelier utama memiliki bobot 1,5 ton dengan lebar 4,3 meter dan tinggi 7,6 meter. Terdapat 350 bola lampu di dalamnya yang membuat aula ibadah terang benderang.

Sebenarnya tak ada referensi yang pasti tentang penamaan "Masjid Katedral" ini. Tapi nampaknya, nama masjid diberikan karena bentuknya yang menyerupai katedral dengan kubah dan menara sebagai fitur utama (nanti readers bisa membandingkan dengan bentuk katedral-katedral yang akan kami kunjungi di hari-hari selanjutnya). Atau mungkin bangunan asli masjid ini memang dulunya katedral, seperti kasus Hagia Sophia di Istanbul. Tak heran sih karena Rusia mengadopsi Kristen sebagai agama nasionalnya sejak Kerajaan Byzantine di tahun 988 Masehi dan bertahan hingga 1 abad kemudian.

*

"Peter (Saint Petersburg.red) bakalan lebih dingin lagi lho," kata Mas Wawan. Kalimat itu cukup jadi trigger bagiku untuk membeli jaket hangat, meski harus mengeluarkan ekstra duit yang tidak sedikit. Toh "beli jaket" ini sebenarnya sudah direncanakan sejak masih di Jakarta, hanya saja aku belum menemukan jaket yang sesuai selera dan kantong. Maka dari itu, aku sukses membujuk ketiga rekan perjalanan hari ini untuk menemani belanja jaket di Dubrovka Market.

Untuk menuju Dubrovka Market kami menggunakan metro dan turun di Stasiun Dubrovka (Дубровка), stasiun terdalam di Rusia sebelum akhirnya dikalahkan oleh Park Pobedy tahun 2003. Pasar Dubrovka adalah versi sederhana dari Pasar Pagi Mangga Dua: terdiri dari deretan kios pedagang dan berada sesuai dengan segmennya. Pedagang jaket dan pedagang gaun musim panas, misalnya, terletak di area yang berbeda. Setelah mengunjungi dua kios pedagang jaket musim dingin, aku akhirnya menjatuhkan pilihan pada jaket merah dengan aksen retsleting emas yang panjangnya sepinggul. Dari harga awal 3.500 ruble, jaket berhasil kubawa pulang dengan harga 2.800 ruble saja.

Featuring: Jaket baru!
(Loc: ...entah stasiun apa ku lupa)

Selain pakaian dan perlengkapan fashion lainnya, Pasar Dubrovka juga punya supermarket dan area food court yang sebagian besar ditempati oleh kios makanan Vietnam. Menurut Mas Wawan sih enak, tapi kami belum tergoda untuk icip-icip, apalagi di flat masih ada beberapa bungkus mie instan yang harus dihabiskan hari ini.


Itinerary selesai dijalankan hari ini! Yeay! Puji Tuhan, walaupun mendapat surprise dalam rupa salju, aku masih sehat dan kuat hanya dalam balutan jaket dan legging. Tuhan baik banget yah. Padahal dulu-dulu semasa di Korea dan Jepang, sudah pakai mantel tebal pun tetap saja terserang pilek. Tapi kali ini aku terbantu banget sih dengan kehadiran kaos kaki hangat dan sepatu bot Nokha yang tahan air dan nyaman banget dipakai jalan kaki lama *keukeuh endorse*

Sepatu bot andalan

Seperti kata Mas Wawan sebelumnya bahwa St. Petersburg akan lebih dingin lagi dari Moskow, kami pun memutuskan untuk 'memanfaatkan' kebaikan hati beliau yang masih tumpeh-tumpeh itu. Hahaha. Becanda, readers. Tidak ada kasus "pemanfaatan" kok disini, yang ada hanyalah si Mas Wawan emang baik banget dan punya hati yang sangat mulia. Begitu tahu kalau kami bertiga kekurangan stok baju dingin, Mas Wawan sejak awal menawarkan baju-bajunya untuk kami pinjam selama di Rusia. Ya ampun... betapa merepotkannya kami sebagai turis ya. Padahal baru kenal dua hari lalu hahaha. Masih nggak percaya ada 'malaikat' kayak begitu di Rusia? Kalian harus dengar gimana Mas Wawan membombardir kami dengan pertanyaan, "Pada kangen nasi nggak? Nanti gue pinjemin rice cooker..."

Jadilah aku, Vani, dan Bang Adi digiring menuju flat Mas Wawan tidak jauh dari Novoslobodskaya St. Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa 'susah'nya jadi mahasiswa di negara antah berantah... flat-nya sempit, kamar mandi (apalagi yang untuk cewek!) kurang bersih, satpamnya suka aneh-aneh... belum lagi kalau kita kena jackpot sekamar dengan orang asing yang tidak 'sejenis', bisa-bisa bentrok terus kayak Mas Wawan dengan roommate doski yang sebelumnya. Tapi... kalau menempati satu kamar sendiri... kok ya rasanya sepi-sunyi banget... Serba salah.

Mau foto saja sulit, guys

Pulang dari flat Mas Wawan dengan menenteng kresek berisi fashion musim dingin pinjaman, kami bertiga kembali ditemani Sang Peminjam untuk balik ke apartemen di Belorusskaya. Bedanya, kami tidak menggunakan metro, tapi berjalan kaki! Ini sekaligus pembuktian atas pernyataan Mas Wawan yang kemarin bahwa jarak flat kami ke flat-nya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Benar sih... tapi dingin yang menusuk dan tentengan yang lumayan banyak bikin jarak itu jadi kerasa bertambah 2x lipat. Duh, Mas Wawan ini baik hatinya super banget ya! Terima kasih banyak, Mas, nanti kami masakin Indomie kuah yang hangat nan lezat yah setibanya di apartemen nanti! 😍

Demikianlah cerita traveling hari keempat di Moskow. Semoga readers menikmati ya, as much as we did saat main salju dan menjelajahi Masjid Katedral Moskow.



PS.
Maaf ya readers kalau gaya bahasa post kali ini berbeda dengan biasanya. Dikarenakan banyak faktor, mood untuk nge-blog lagi jatuh banget dan kurang bisa merangkai bahasa kayak biasanya hahaha. Semoga next post bisa jadi "Erlin" yang normal.

0 testimonial:

Post a Comment