May 20, 2017

Yang Berkesan - Russia Trip

Sebenarnya, semua ide nge-trip ke suatu negara baru dimulai dengan satu hal. DOA. Eh, dua hal ding: Doa dan TIKET PROMO. Atau digabung: berdoa untuk mendapat tiket promo. Begitu juga kasusnya dengan Russia Trip kali ini, semua diawali kabar sukacita, "Ada tiket promo 4 jutaan ke Rusia!" Oh ya, informasi tadi sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman ya, apakah aku membeli tiket dahulu baru mengurus visa, atau sebaliknya. Akan jauh lebih tenang jika sudah bermodalkan tiket pesawat, menurutku.

Getting ready for Russia! (Loc: Bandara Internasional Hanoi)

KREMLIN!


Di balik setiap tiket promo, tetap saja ada doa-doa yang entah sadar tidak sadar pernah terucap. Misalnya trip Jepang kemarin yang memang jadi pokok doa dari awal 2017. Atau trip Turki saat Lebaran tahun lalu, pernah kudoakan diam-diam sejak kali pertama melihat Kapadokya lewat layar kaca. 

Untuk Rusia, aku penikmat sejarah komunisme-nya. Lenin, Stalin, dan segala pernak-pernik palu arit, lalu disusul Gorbachev dan Putin. Ada juga pilot-kosmonot Yuri Gagarin, manusia pertama yang sukses menginjak angkasa luar. Jika waktu SD aku hanya terpaku dengan Neil Armstrong yang pertama kali menaklukkan bulan pada 1969, saat bangku SMP baru kukenali Abang Gagarin, 8 tahun lebih awal mencetak rekor sebagai manusia pertama yang berada di luar angkasa, menyelesaikan satu putaran orbit bumi dengan pesawat Vostok 3KA3-nya. Itu baru tokoh-tokoh terpandangnya. Belum lagi sejarah peperangan Soviet, yang kemudian 'pecah' menjadi Rusia dan 14 negara lainnya pada tahun 1991.

Can you recognize who these people are?

Is that Gagarin's helmet?

Semua kegemaranku pada sejarah Rusia diam-diam menjadi doa, terangkat ke atas sana, dan dijawab Tuhan dalam bentuk tiket promo. Tuhan kita baik banget! Nah, kalau ada yang pernah bertanya-tanya, "Ngapain ke Rusia, Lin?" paragraf di atas sudah cukup menjawab ya.

So... seperti seri perjalanan ke luar negeri yang lain, Rusia trip review juga akan terbagi dalam beberapa posts. Mari kita mulai dengan beberapa cerita singkat tentang Rusia yang sangat berkesan bagiku. 


RUSSIA'S CURIOUS FACTS

Tentang bahasanya.
Bukan rahasia lagi bahwa ada negara-negara yang sengaja tidak mengajarkan Bahasa Inggris dalam kurikulum sekolah dasar mereka. Rusia adalah salah satunya. 96,3% orang Rusia tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris walaupun mungkin 1/4-nya dapat mengerti bahasa Inggris. Oh ya, angka tadi berdasarkan hasil riset Erlinel Manuel, jangan dipercaya. Jangan dijadikan acuan skripsi.

Apakah ini berarti aku dan dua travelmates jadi membawa-bawa KBBR (Kamus Besar Bahasa Rusia) selama 8 hari disana? Enggak dong. Kami memakai bahasa tubuh, misalnya saat menjelaskan "uang" pada kondektur bus. Atau memanfaatkan Google Translate, seperti yang dilakukan Bang Adi ketika mencari "locker room" di stasiun, yang ternyata disebut "cloakroom" di Rusia. Tenang saja, nggak harus kuliah bahasa 1 tahun dulu kok untuk bisa traveling ke sini.

Dengan satu catatan, Rusia menggunakan alfabet Cyrillic. Alfabet ini berbentuk simbol-simbol asing, meski tak se-asing huruf Thailand atau Hiragana/Katakana. Untunglah aku cukup menguasai alfabet ini, all thanks to Mas Bule (pacar) yang juga pengguna huruf Cyrillic. Perjuangan mencari nama stasiun, jalur kereta, lokasi wisata, nama toko, hingga isi menu makanan pun terasa lebih ringan. Readers wajib punya contekan alfabet Cyrillic selama keliling Rusia.


Pening bacanya


Tentang mata uangnya.
Nilai tukar mata uang Rusia, Ruble, adalah sekitar Rp250. Murah memang, tapi jangan sampai kalap belanja juga di hari pertama ngetrip. Rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk makan siang/malam senilai Rp50 ribu, bisa lebih mahal lagi jika makan di restoran ternama. Sedangkan harga karcis bus dalam kota berkisar Rp10 ribu sekali jalan, lebih mahal kan dari angkot jarak jauh di Indonesia? Intinya, Rusia tetap aja negara dengan biaya hidup lebih mahal dari Indonesia.

Aku mau membahas mata uang Ruble yang menarik ini dulu. Ruble mencetak rekor sebagai mata uang pertama di dunia yang punya nilai desimal. Maksudnya, ruble memiliki satuan mata uang lebih kecil sehingga angkanya desimal alias berada di belakang koma. Satuan ini disebut kopek. Masih bingung? Jadi hubungan ruble dan kopek sama kayak Rupiah dan sen, gitu. Paham kan? Mereka pertama kali mencetak uang kecil (koin) pada tahun 1704, bahkan sampai sekarang satuan kopeks masih dikenal. Indonesia sekarang kan hanya menggunakan Rp100 sebagai mata uang terkecil. 

Ilustrasi uang Ruble dan Kopek

Lucunya, kasir toko maupun kondektur bus seringkali menolak pembayaran ruble koin. Misalnya saat aku membayar tagihan 120 ruble dengan uang kertas 500 dan koin 20, dengan harapan kembalian berupa uang kertas 400 ruble. Nyatanya kondektur menolak koin 20-ku, dan memberi koin 80 ruble, padahal koin 10 ruble itu cukup berat. Kebayang dong gimana mau memakai satuan kopek? Konon tidak ada yang mau menerima pembayaran kopek walaupun tagihannya jelas berdesimal (contoh 10,75 ruble). They gave out kopek, but won't accept any. Selamat 'menabung' kopeks deh.


Tentang penduduknya.
Kalau readers nanti berkesempatan menjejakkan kaki di negara ini, harap jangan gentar menghadapi wajah-wajah kaku rakyatnya. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa orang Rusia jarang tersenyum, punya intonasi yang tegas dan cenderung meninggi, serta tidak segan menatap orang lain lekat-lekat. Ini bukan karena mereka "antagonis", sebagaimana yang sering disajikan telenovela atau sinetron masa kini. Tapi... hmm... entahlah aku tidak punya teori yang pas untuk "ke-kaku-an" mereka, mungkin karena suhu negaranya yang seringkali dingin ya. 

Jangan takut, jangan langsung men-judge. Trik utama on how to survive in Russia: jangan tebar senyum. Aku tahu orang Indonesia (bahkan Asia) pada dasarnya murah senyum. Tapi kalau di negara ini, terlalu banyak senyum justru akan tampak mencurigakan, dan orang Rusia malah tambah lekat menatap kita. Jadi, sembunyikan gigi putih bersinar kalian ya. (Readers pasti ngerti gimana menderitanya aku di sana, hiks) Kalau kata Mas Wawan -- orang Indonesia yang kuliah di Rusia, akan kuceritakan di post selanjutnya -- tersenyum justru membuat kita dipandang remeh. And I think I kinda agree with him.

Satu geng, Mas?

Trik lainnya, tatap mereka balik. Tatapan ini biasanya datang dari kaum pria yang duduk/berdiri di seberangku saat naik subway/bus. Hari-hari awal di Moscow, aku hanya menundukkan wajah atau memalingkan pandangan, berpura-pura tidak sadar kalau sedang diliatin. Eits, tapi lama-lama gerah juga, Readers. Keesokan harinya kuputuskan untuk menantang setiap tatapan, dan betul saja... orang-orang yang kutatap balik itu hanya bertahan 5 detik sebelum akhirnya menengok ke arah lain. Ya asal jangan menatap mereka a la "Hai, Mas, kamu punya obeng?" (flirty.red), tatapannya harus seakan berbicara, "APA LO LIAT-LIAT! GA PERNAH LIAT CEWEK CANTIK EKSOTIS ASLI INDONESIA?"


Tentang subway dan stasiunnya.
Rusia punya stasiun-stasiun subway (atau "metro") paling indah yang ada di dunia! *halah, emang udah pernah keliling dunia Lin?* Dan kami beruntung karena tinggal di salah satu apartemen yang berada di jalur metro warna hijau, jalur dengan stasiun-stasiun cantik yang bikin betah lama-lama nunggu kereta. Saat hujan turun di Moscow, kami menghabiskan waktu dengan "metro tour" alias berhenti di tiap-tiap stasiun hanya untuk hunting foto. Karena tidak perlu keluar gate, tur satu ini dijamin bebas biaya. Tinggal banyakin sabar aja menunggu peron lengang.

Selain keindahan stasiun (lebih tepatnya, peron), ukuran kedalaman stasiun ini mencengangkan. Misalnya, Park Pobedy, stasiun terdalam di Moscow yang berkedalaman 84 meter setara dengan tinggi gedung 28 lantai. Usut punya usut, saat dibangun pada kisaran tahun 1930, stasiun bawah tanah ini bukan hanya ditujukan sebagai jalur transportasi tapi juga perlindungan saat perang. Banyak stasiun yang dibangun saat Perang Dingin dirancang sangat dalam di bawah tanah untuk menangkal serangan nuklir.

Stasiun Park Pobedy, selama beberapa tahun tidak pernah jadi persinggahan kereta

Saat Siege of Moscow tahun 1941, stasiun metro digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan udara. Kantor Kementerian memindahkan kantor-kantornya ke peron stasiun Mayakovskaya, tempat dimana Stalin menyampaikan pidato publiknya pada beberapa kesempatan. Stasiun lain, Chistye Prudy, pernah mengakomodasi Angkatan Udara Rusia. Keren banget kan?

Peron Stasiun Mayakovskaya

Terletak jauh di bawah tanah, tentunya peron harus ditempuh dengan eskalator maupun lift. Dan stasiun metro di Rusia ini punya eskalator-eskalator berukuran super panjang. Contohnya Park Pobedy, meski bukan stasiun paling dalam, eskalatornya justru yang terpanjang di dunia dengan panjang 126 meter serta terdiri dari 740 anak tangga. Jika berdiri di ujung bawah, kita tidak akan bisa melihat ujung atas/puncak eskalator saking jauh jaraknya. Pantas saja aman dari serangan nuklir ya. Eskalator-eskalator di stasiun Moscow lainnya pun super-panjang, sekitar 70-100 meter ke bawah tanah.

 Eskalator Stasiun Park Pobedy (source: ifter.org)

Masa tempuh eskalator Park Pobedy sekitar 3 menit, sedangkan stasiun lain di Moscow rata-rata 1-2 menit lamanya. Nggak heran deh melihat banyak pasangan menggunakan waktu "naik eskalator" ini untuk pacaran. Ehm. Buat readers yang tidak terbiasa melihat orang ciuman, siap-siap aja terbelalak bengong selama naik eskalator di stasiun Moscow, hahaha.


Tentang cuacanya.
Kalau Indonesia bisa digambarkan dengan "Panas", maka Rusia dapat kita sebut dengan "Tak Terduga". Selama 8 hari kami merasakan panas matahari, hujan deras, hujan bersalju, angin kencang bersalju, hingga salju sepoi-sepoi (?) Siasat mengecek suhu sebelum berangkat pun tak berhasil, karena cuacanya memang tidak terduga. Hari Senin malam kami mendengar selentingan kabar bahwa hari Selasa akan cerah, eh keesokannya justru turun hujan seharian.



Positifnya, aku jadi bisa ketemu salju! Yeay! Tak pernah disangka dan diharapkan, aku akhirnya bertemu salju. Padahal baru saja di Japan trip review kemarin kukatakan tidak pernah bermimpi untuk melihat salju hahaha. Puji Tuhan, salju Rusia tidak membuatku jatuh sakit. Malahan dinginnya tidak bikin menggigil apalagi membeku. Mungkin tertolong oleh sepatu bot anti air dan sarung tangan wol tebal. Oh ya, negatifnya salju ini: aku jadi kena pengeluaran tambahan sebesar Rp600 ribu untuk membeli jaket penghangat. Huahaha.

Jaket baru, alhamdulillah~

Tentang makanan dan minumannya.
Sudah jelas negara ini tidak mengenal saus sambal. Mayoritas restoran punya saus mayonnaise atau yang sejenis. Sumber karbohidrat utamanya saja (roti dan pancake) dimakan dengan mayo-setengah-yoghurt yang disebut smitana, rasanya enak kok buatku yang doyan keju. Sementara Bang Adi dan Vani, yang punya selera khas Indonesia, selalu membawa saus sambal ABC/Belibis/Boncabe kemana pun agar bisa makan nikmat. Selain ayam goreng KFC dan McDonald's, kami sempat menjajal makanan Rusia di restoran Teremok dan makanan Vietnam di restoran Lao Lee dekat asrama Mas Wawan di RSUH.


Pancake dicelup ke smitana atau saus berry, disajikan oleh teman Rusia kami

McDonald's sebelum ke Prospekt Mira

"Teremok", restoran fast food khas Rusia

Air minumnya berasal dari keran yang memiliki filter, atau disaring dulu dengan ceret penyaring. Rasanya pun pahit-pahit sejuk, beda dengan air mineral kesayangan kita di Indonesia. Ya iyalah ya. Mau beli air mineral botolan? Boleh saja, tapi harganya sekitar Rp10 ribu per 500 mL. Itu pun kalian harus teliti dalam memilih apakah airnya mengandung soda ("gas" dalam pengertian Rusia) atau tidak.

Tentang gerakan Go Green-nya.
Orang Rusia tidak mengenal inisiatif "Rp300 per kantung plastik", mereka justru pantang kantong plastik, dengan pengecualian belanjaan segambreng yang memang butuh penadah. Barulah mereka memberikan kantung plastik, dengan dikenakan harga 5 ruble alias seribuan rupiah.

Beli suvenir emang dapat kantung plastik gratisan, tapi plastiknya tipis banget

Tentang WC-nya.
1) Orang Rusia menyebut toilet dengan "WC". Jadi kalau Readers sudah kebelet buang air, carilah petunjuk bertuliskan "WC", niscaya tidak akan kesasar hingga ke negeri Jiran.

2) Setiap WC memiliki kaleng pengharum ruangan (freshener) sejenis Bayfresh dan Glade gitu lho. Jangan lupa semprotkan kaleng ini ya setelah urusan per-WC-an kalian selesai, supaya orang selanjutnya tidak harus kena 'polusi' toilet yang tertinggal. Ah, semoga toilet-toilet di Indonesia bisa menerapkan hal ini. Uhm, tapi... kenyataan tak selamanya indah. Aku juga pernah sekali waktu kena jackpot saat mengantri WC di Starbucks Moscow. Tak perlulah diceritakan lebih rinci. Aku yakin lah Readers sekalian tidak ada yang sejorok itu dalam menggunakan fasilitas publik.

3) Beberapa restoran memasang password lock di pintu WC. Nampaknya hal ini untuk mencegah kemungkinan WC digunakan oleh non-customer. Biasanya sih di pintu tertempel petunjuk untuk mengisi kode, hanya saja dalam bahasa Rusia (dan bahasa China, pada salah satu restoran Chinese Food di St. Petersburg). Jangan segan-segan menanyakan password pada karyawan restoran ya.


Tentang kebiasaan unik lainnya.

  • Aku pikir hanya Indonesia saja yang gemar menggunakan dubber untuk tontonan 'impor' (inget zamannya telenovela Rosalinda atau serial Carita de Angel, kan?). Ternyata Rusia juga. Pertama kalinya mengetahui fakta ini adalah saat mendengar suara Keira Knightley (Pirates of the Caribbean) yang tiba-tiba parau dan berat; rupanya itu hasil alih suara (dubbing). Mungkin hal ini ada kaitannya juga dengan "keengganan Rusia untuk mempelajari bahasa Inggris" yang kubahas di poin pertama.
  • Kebiasaan lain adalah mengucapkan "Bless you!" pada seseorang yang bersin. Hal satu ini tidak pernah kutemukan di negara-negara sebelumnya.

Red Square dan Katedral St. Basil
Thanks for scrolling down ya, para pembaca yang budiman. Trip review hari pertama di Rusia akan segera naik cetak. Stay tune! 

***

PS. Makasih foto-fotonya Bang Adi! Kamera kita sama-sama Sony, tapi hasilnya beda bagaikan langit dan bumi.

6 comments:

  1. Replies
    1. Kyaa senangnya ditinggalin komen sama abang favorit awak!

      Delete
  2. Keren.... bagus ulasannya jelas dan padat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah "orang Indonesia yang kuliah di Rusia"-nya dateng :D Anyway, bahasamu sudah 11-12 kayak dosen pembimbing Mas hahaha

      Delete
  3. huwaaa pengen ke russia. anyway unik banget ya itu stasiun disanaa. dalem-dalem gitu :O itu Stasiun Park Pobedy sekarang jadi museum gitu ya lin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg kenceng doanya biar dapet tiket promo ya Rec hihihi. Enggaaak justru Pobedy itu baru dibuka beberapa tahun lalu jadi stasiun, dr yg sebelumnya nggak pernah disinggahi :) Pemerintah lama banget nggali tanah karena si Pobedy dikelilingi perairan gitu

      Delete